Kisah Eddy Silitonga yang Pernah Jadi Kondektur Bus dan Duta Kebudayaan

Eddy kehilangan ratusan juta rupiah hasil keringatnya di bidang tarik suara selama bertahun-tahun

Editor: Mairi Nandarson
KOMPAS/ARDUS M SAWEGA
Eddy Silitonga 

Pada 1987, penyanyi Emilia Contessa menarik Eddy kembali ke dunia yang ia cintai, tarik suara.

Emilia mengajaknya ikut tampil bersama di Malaysia.

Berangsur-angsur, kehidupan Eddy membaik. Ia kemudian mulai banyak membawakan lagu-lagu daerah.

Lagu-lagu berjudul "Alusi Au", "Ndung Ku", "Romo Ono Malung", dan "Cugak" ia bawakan dengan apik.

Berkat dedikasinya melantunkan lagu-lagu daerah, Eddy dijadikan Duta Kebudayaan Indonesia pada 2010 oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik.

Ia bertugas mempromosikan budaya dan pariwisata nasional ke 49 negara lain di lima benua di dunia selama lebih dari sembilan bulan.

Meski tak setenar dulu, Eddy masih tetap sesekali menghibur para penggemarnya dengan suara khasnya di panggung-panggung kecil.

Misalnya, di kafe atau hotel berbintang.

Kini, pelantun "Biarlah Sendiri" itu telah berpulang.

Ia mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, Kamis (25/8/2016) pukul 00.05 WIB dini hari.

Setelah dirawat selama dua minggu karena penyakit komplikasi jantung dan diabetes, Eddy meninggal dalam usia 65 tahun.

"Ya, tadi malam (meninggal) jam 12.05 dini hari," kata salah satu putranya, Mario, ketika dihubungi oleh Kompas.com pada Kamis pagi.

Jenazah Eddy sekarang disemayamkan di rumah duka RS Fatmawati.

Direncanakan, jenazahnya akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kampung Kandang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (27/8/2016).

Selamat jalan, Eddy Silitonga...

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved