Pilpres Amerika Serikat 2016
Begitu Menang, Ungkapan Larangan Umat Islam ke AS Langsung Dihapus di Website Trump. Ada Apa?
Tidak sekadar menghapus rasisme Islam di website, Trump juga memperlihatkan keterbukaannya yang "hangat" terhadap sejumlah pemimpin negara Islam.
BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM - Rencana kontroversial Presiden AS terpilih Donald Trump untuk larangan total pada imigran Muslim, sepertinya hanya untuk jualan kampanye.
Hal itu untuk menarik simpati masyarakat yang mengalami "islamophobia" akibat sejumlah aksi teroris di Amerika dan Eropa..
Soalnya, sehari setelah Trump dinyatakan menang dalam perebutan Gedung Putih, pernyataan rasis Trump itu menghilang dari website resminya.
Dalam pernyataan itu, Trump menyerukan larangan total Muslim untuk memasuki Amerika Serikat.
Pernyataan itu diunggah pada Bulan Desember sehingga membuat Trump diserang habis-habisan oleh kelompok minoritas di negara itu.
Namun, gagasan itu ampuh untuk menarik pemilih kulit putih, terutama di Mildwest.
Trump mengatakan dalam website-nya: 'Sampai kita dapat menentukan dan memahami masalah ini dan ancaman berbahaya, negara kita tidak bisa menjadi korban serangan mengerikan oleh orang-orang yang hanya percaya pada Jihad, dan tidak memiliki rasa alasan atau menghormati kehidupan manusia."
Reaksi bermunculan, termasuk dari Walikota London, Sadiq Khan, yang beragama Islam.
Trump tampaknya menyadari bahwa larangan total pada Muslim ini tidak praktis.

Halaman muka website Donald Trump yang menghapuskan kampanye rasis terhadap Islam
Hingga saat ini, hanya larangan muslim itu saja yang dihapus, sementara rencana untuk membangun dinding perbatasan dengan Meksiko tetap ada dalam wesite tersebut.
Saat melakukan kampanye, sebenarnya Trump sedikit melunak, mengatakan hanya ingin larangan imigrasi dari negara-negara yang memiliki "koneksi ke terorisme" seperti Suriah dan Irak, bukan muslim secara keseluruhan.
Bahkan, kata dia, hal itu juga pada imigran yang berasal dari Prancis, Belgia dan bahkan Inggris, semua telah 'terinfeksi' oleh sel-sel teroris Islam.
Hanya saja, isu itu kalah dibanding berbagai isu skandal Trump dan Hillary Clinton.

Program larangan terhadap orang Islam masuk ke AS yang diganti Trump.
Tidak sekadar menghapus rasisme Islam di website, Trump juga memperlihatkan keterbukaannya yang "hangat" terhadap sejumlah pemimpin negara Islam di dunia.
Bahkan, Perdana Menteri Inggris Theresa May termasuk kepala negara yang terakhir berbicara dengannya, setelah kepala negara lain, seperti Turki, Mesir, Arab Saudi, Australia, India dan Irlandia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/keluarga-trump_20161109_232814.jpg)