Bank Indonesia Pantengi Langkah-Langkah Awal Donald Trump

BI menyatakan terus mencermati kondisi Amerika Serikat (AS) pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden negeri negara tersebut.

Bank Indonesia Pantengi Langkah-Langkah Awal Donald Trump
The New Yorker
Donald Trump 

BATAM.TRIBUNNEWS‎.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan terus mencermati kondisi Amerika Serikat (AS) pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden negeri negara tersebut.

Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, arah kebijakan AS di bawah kepemimpinan Trump perlu diperhatikan karena akan berdampak kepada ekonomi negara lain, termasuk Indonesia.

Sebab, kata dia, perhatian seluruh dunia akan tertuju ke AS.

"Kami lihat kabinetnya Trump seperti apa, Menteri Keuangannya seperti apa, karena itu akan berpengaruh kepada policy Trump ke depan. Pidato Trump nanti di awal tahun seperti apa, ini yang diperhatikan oleh dunia," kata Mirza di Jakarta, Rabu (23/11/2016).

BI mengungkapkan bahwa salah satu hal yang patut dicermati yakni realisasi janji-janji Trump selama kampanye.

Sebab ada potensi bank sentral AS yakni The Fed akan menaikkan suku bunga acuan lebih dari dua kali tahun depan.

Selama ini spekulasi kenaikkan suku bunga The Fed kerap menyebabkan spekulasi pasar. Para spekulan memanfaatkan hal itu dengan menarik dananya dari Indonesia. Akibatnya nilai tukar bisa rupiah melemah.

"Kami perkirakan Desember naik sekali, kemudian tahun depan naik dua kali. Tetapi bisa saja kalau memang outlook inflasi AS lebih tinggi maka bisa Fed naikkan misalnya jadi 3 kali," kata Mirza.

Meski begitu, ia meminta masyarakat untuk tetap tenang meski ada kebijakan yang berbeda dari AS.

Gejolak pada ekonomi nasional terutama pelemahan rupiah akibat kondisi ekonomi AS kata Mirza hanya sementara.

Ia berharap setelah Januari 2017, kondisi gejolak nilai tukar akan mereda sehingga dunia usaha bisa melakukan ekspansi dan pemberian kredit bisa mengucur lebih deras.

"Perbankan juga sudah ya kreditur yang mungkin di 2016 melakukan restrukturisasi itu sudah selesai sehingga perbankan juga lebih siap melakukan pertumbuhan kreditnya," kata Mirza.

"Dan Cina juga ekonominya pertumbuhannya berlanjut sehingga harga komoditi tambang perkebunan juga terus berlanjut, sehingga BI sih confidence ya pertumbuhan ekonomi ada di range 5-5,4 persen," lanjut dia. (kompas.com, Yoga Sukmana)

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved