Minggu, 12 April 2026

Inspirasi

Namanya Idrus, Pak Guru Ini Harus Berjalan Kaki 12 KM dan Seberangi Sungai Setiap Hari Mengajar

Namanya Idrus, guru ini harus berjalan 12 kilometer setiap harinya untuk mengajar, itu belum termasuk menyeberangi sungai

kompas.com

BATAM. TRIBUNNEWS.COM-Peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2016 tahun ini tak membuat nasib Muh Idrus, satu dari tiga guru terpencil di SD Sabura 156 Desa Sabura, Kecamatan Lembang, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, berubah.

Untuk mengajar di sekolah terpencil, dia harus menempuh perjalanan yang mendaki dan menyeberangi sungai sejauh 12 kilometer lebih setiap harinya. Saat hujan dan kondisi jalan becek dan licin dan tak layak dilalui kendaraan roda dua seperti motor, Idrus terpaksa berjalan kaki ke sekolah.

Sementara itu, siswa-siswanya yang tinggal jauh dari lokasi sekolah juga harus berangkat lebih pagi sekitar pukul 06.00-07.00 Wita agar bisa tiba di sekolah lebih awal dan bisa belajar tepat waktu pada pukul 08.00 Wita.

Minimnya tenaga guru membuat Idrus harus menghadapi tiga kelas dalam waktu bersamaan. Di SD 156 Sabura, sejak empat tahun lalu tercatat hanya ada tiga guru, termasuk seorang kepala sekolah dan seorang guru honorer.

Bisa dibayangkan saat salah satu guru di sekolahnya sakit atau berhalangan hadir, Idrus harus bekerja sekuat tenaga mengajar secara maraton di enam kelas berbeda.

Agar aktivitas belajar bisa dipantau dan materi pelajaran disampaikan dengan baik, ruangan kelas dibuat menjadi tiga sekat kelas 1, 2 dan 3, sedangkan ruangan lainnya juga dihuni tiga kelas 4,5 dan enam yang dibatasi sekat-sekat dari papan tripleks agar para siswa tidak saling menggganggu konsentrasi saat belajar.

Saat Idrus mengajar di kelas IV, dua kelas lainnya yakni kelas V dan VI diberi tugas membaca atau tugas apa saja sambil menunggu giliran mendapat materi pelajaran baru. Setelah memberi materi pelajaran di kelas IV, Idrus kemudian bergeser ke kelas V atau VI di sebelahnya.

Saat kepala sekolah dan guru honorer lainnya hadir, Idrus relatif mengajar lebih ringan karena dia hanya menghadapi tiga kelas berbeda pada jam bersamaan.

“Setiap hari itu nyaris tak punya waktu istirahat selama jam pelajaran berlangsung,” tutur Idrus.

Dia mengaku berusaha menikmati situasi tempatnya mengajar selama beberapa tahun terakhir sejak ditempatkan di sekolah tersebut.

Saat mendekati musim ujian nasional seperti saat ini, siswa terutama siswa kelas VI, diwajibkan membawa bekal untuk makan siang. Pasalnya, sore hari sekitar pukul 14.00 Wita, mereka harus mendapat tambahan pelajaran atau les pelajaran menghadapi ujian nasional.

Para siswa baru meninggalkan sekolah pada pukul 16.30 Wita. Mereka sengaja dipulangkan lebih awal agar para siswa bisa tiba di ruamhnya sebelum malam hari.

Di sekolah ini, para siswa bebas memggunakan pakaian apa saja. Para guru memgaku tak ingin menerapkan disiplin berpakaian, termasuk sepatu agar anak-anak mereka bisa bersemangat datang ke sekolah tanpa terbebani peraturan seragam.

Bagi guru, memupuk semangat bersekolah dan menjadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman untuk para siswa jauh lebih penting daripada bicara soal aturan disiplin berpakaian ke sekola agar anak-anak itu tidak putus sekolah.

“Siswa boleh pakai sandal, pakaiannya boleh seragam ata tidak intinya yang penting mereka mau datang ke sekolah,” tutur Idrus.

Sumber: Nova
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved