Soal Moratorium UN, Ini Curhat Kepsek dan Pelajar di Bintan!

Wacana penghentian sementara ujian nasional panen pro kontra, termasuk di Kabupaten Bintan. Ini curhat kepsek hingga pelajar di sini

tribunnews batam/bobi
Ilustrasi pelaksanaan UN di Batam 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BINTAN-Pemerintah pusat berencana melakukan moratorium (penghentian sementara) ujian nasional (UN) mulai tahun 2017. Meski masih dalam wacana, pro dan kontra di kalangan sekolah ramai. UN pun menjadi trending topik sementara.

Kepala Sekolah SMPN 3 Bintan Syamsul Hidayat turut mengomentari soal moratoium UN 2017. Dia menyatakan kesetujuannya bila Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI menerapkannya menjadi kebijakan nasional.

UN secara psikologis kerap menjadi beban mental siswa. Penyebabnya bukan karena siswa takut dengan UN, namun karena persiapan untuk UN relatif banyak dan panjang. Hal itu membuat perhatian siswa terbelah.

"Siswa harus mempersiapkan banyak hal untuk UN. Banyaknya persiapan ini terkadang jadi faktor mental siswa turun, puncaknya pada saat hari H," kata dia, Rabu (30/11/2016).

Bagi dia, sekolah toh sudah punya program ujian akhir sekolah (UAS) yang memberikan hak kepada sekolah mengevaluasi siswanya secara mandiri.

Bila penghapusan UN untuk sementara waktu (moratorium) jadi berlaku, beban psikologis siswa berkurang. Siswa menjadi lebih berkonsentrai dan semangat belajar.

SMP unggulan di Bintan Timur ini sudah menjalankan program belajar tambahan (les) bagi siswa kelas 9 yang akan menghadapi UAS/UN dalam waktu dekat. Program itu berjalan setiap tahun.

"Apabila moratorium UN diterapkan pemerintah, program jam belajar tambahan jam yang sudah berjalap tetap tak akan sia sia. Sebab siswa mendapatkan banyak manfaat pelajaran dari penambahan waktu yang sudah berjalan,"kata Syamsul.

Berbeda dengan Syamsul, Sutomo, yang pernah berkali kali menjabat Kepala Sekolah SMA di Bintan memilih kontra namun dengan catatan kecil. UN menurur Tomo jangan dihapus, tetap dilangsungkan. Namun fungsi UN hanya untuk ajang evaluasi semata.

"Sifatnya hanya sebatas ajang evaluasi proses belajar mengajar selama ini, sejauh mana hasilnya. Jadi UN tetap diadakan, tapi fungsinya hanya sebatas evaluasi para guru, tidak untuk dijadikan standar kelulusan sama sekali,"kata Tomo.

Bagaimana pendapat kalangan siswa sendiri.

Ananda, siswa SMP di Kawal, Gunung Kijang berpendapat, moratorium UN oleh pemerintah sangat bagus. UN bagi dia bikin waswas. Pengalaman dari kakak kakak kelasnya, banyak yang sampai tegang hingga berhari hari begitu UN tiba.

"Kakak kakak ada yang sampai tak keluar rumah, belajar ngebut sampai pagi. Jadi kalau UN dihapus, aku senang sekali,"kata dia.

Fauzan, siswa SMP di Toapaya berpendapat, soal UN diapus sementara atau tidak, tak masalah baginya, terserah pemeritah saja. Bila pemerintah memutuskan bagus, dia akan berterimakasih banyak.

Dan jika tetap jalan, apa boleh buat, suka tidak suka tetap harus ikut. "Kalau aku terserah pemerintah saja dech, maunya gimana, yang penting kita tetap belajar seperti biasa," ucapnya singkat. (*) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved