‎Pembekalan Adiwiyata, Tim Penilai Kabupaten Diminta Jeli dan Objektif Menilai Sekolah Anambas

Pembekalan Adiwiyata, tim penilai kabupaten diminta jeli dan objektif saat penilaian sekolah di Anambas. Ini tujuannya

‎Pembekalan Adiwiyata, Tim Penilai Kabupaten Diminta Jeli dan Objektif Menilai Sekolah Anambas
Tribunbatam/Septyan Mulia Rohman
Latipah Hendarti, pembicara dari Detara Foundation saat memberikan pembekalan kepada tim penilai sekolah berbasis Adiwiyata di ruang rapat Dinas Perhubungan dan Lingkungan Hidup Senin (6/3/2017) 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, ANAMBAS - ‎Tim penilai Adiwiyata diminta untuk jeli dan melihat secara obyektif dalam menilai serta melakukan verifikasi terhadap sekolah berbasis Adiwiyata.

Tim penilai, bahkan memiliki beban moral serta tanggungjawab ketika diamanahkan menjadi verifikator. Hal ini yang diungkapkan Latipah Hendarti, pembicara dari Detara Foundation saat pembekalan program pembinaan dan penilaian sekolah peduli dan berbudaya lingkungan bagi tim penilai Adiwiyata Kabupaten Kepulauan Anambas tahun 2017.

Bertempat di ruang rapat Dishub dan Lingkungan Hidup, wanita yang concern pada pendidikan dan lingkungan hidup ini, sempat berbagi cerita saat tim verifikator berniat ‎untuk menilai sekolah pada salahsatu daerah. Tanpa sadar, salahseorang tim penilai merokok saat masuk ke area sekolah. Tak pelak, pelajar yang sadar akan hal itu, secara serentak mengingatkan pria yang diketahui merupakan pejabat pada salahsatu dinas di Pulau Jawa itu.

"Ini yang perlu jadi perhatian. Jangan sampai, kita malah memberikan contoh yang kurang baik, khususnya berkenaan dengan pendidikan lingkungan hidup," ujarnya Senin (6/3/2017).

Meski demikian, sekolah yang menerapkan Adiwiyata ini pun, tidak jarang merubah pola hidup tidak hanya anak murid, namun juga tenaga pengajar di sekolah tersebut. Latipah yang pernah menjadi sukarelawan untuk WALHI ini, menceritakan salahseorang tenaga pengajar pada salahsatu sekolah di Palmatak yang mengurangi konsumsi rokok di sekolah, karena telah ada kawasan bebas rokok.

"‎Ketika saya berkunjung, Beliau tahan tidak merokok hingga tiga jam. Biasanya, sekitar 15 menit, Beliau mengaku tidak tahan dan kembali mengkonsumsi rokok. Ini menjadi salahsatu contoh, bagaimana sekolah yang menerapkan Adiwiyata berkaitan erat dengan kesehatan dan sejumlah bidang lainnya," ungkapnya. (*)

Penulis: Septyan Mulia Rohman
Editor:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved