Selasa, 28 April 2026

PJTKI Satria Parangtritis Siap Salurkan Pekerja di Proyek Petronas Malaysia

Perusahaan ini sudah menggandeng kerjasama dengan perusahaan swasta di Malaysia, Centraasia Oil and Gas Sdn Bhd untuk menyerap TKI secara legal.

Kepala Cabang PT Satria Parangtritis, Irwan Siswanto 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BATAM- Di tengah kondisi perekonomian yang melemah, tidak menyurutkan para pencari kerja untuk mengadu nasib ke Batam.

Setiap harinya, antrean pencari kerja terlihat di sejumlah kawasan industri yang ada di Batam.

Mereka terdiri dari penduduk asli Batam, dan banyak juga yang datang dari daerah lain.

Tak jarang diantara mereka yang datang ke Batam ingin mencari peluang kerja di negara asing.

Lokasi Batam yang dekat dengan beberapa negara tetangga, memang menjadi nilai tambah bagi para pencaker untuk datang ke kota industri ini.

Alhasil, di Batam pun ikut tumbuh perusahaan-perusahaan penyalur jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI).

Satu diantaranya yang baru saja buka, yakni PT Satria Parangtritis.

Berkantor di Ruko Sei Tering Blok D/13, Melcem, perusahaan PJTKI ini siap menyalurkan tenaga kerja di sejumlah proyek di bawah Rapid Petronas, Malaysia.

Perusahaan ini sudah menggandeng kerjasama dengan perusahaan swasta di Malaysia, Centraasia Oil and Gas Sdn Bhd untuk menyerap TKI secara legal.

"Sebelum kami buka di sini, di Malaysia kami sudah mempersiapkan perusahaan yang akan menyerap tenaga kerja Indonesia di berbagai proyek-proyek Rapid Petronas," ujar Kepala Cabang PT Satria Parangtritis, Irwan Siswanto saat konferensi pers di Penuin, Rabu (22/3/2017).

Irwan mengatakan, kehadiran PT Satria Parangtritis ini berawal dari keprihatinan.

Selama ini di lapangan, para pekerja Indonesia di bidang konstruksi, pabrik-pabrik serta perusahaan industri di Malaysia banyak yang direkrut secara non prosedural.

Sehingga pada akhirnya banyak yang merugikan si pekerja itu sendiri.

"Selama ini TKI kita cuma dikirim tiga sampai enam bulan, habis itu dipulangkan. Banyak juga yang datang tanpa dokumen. Kita tidak mau yang seperti itu," katanya.

Belum lagi karena benturan berbagai macam aturan dan kebijakan, TKI kita sulit untuk bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain, seperti Bangladesh, Pakistan, India, Myanmar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved