Pemilihan Presiden Perancis Diikuti Lima Kandidat yang Sama Kuat.Siapa Peraih Suara Terbanyak?
Le Pen merupakan pemimpin yang antiimigran dan berjanji akan membawa Perancis ke luar dari Uni Eropa
BATAM.TRIBUNNEWS.COM,PARIS - Pemilihan Persiden (Pilpres) Perancis dianggap unik karena untuk pertama kali diikuti lima kandidat presiden yang relatif sama kuat, tidak didominasi dua kandidat seperti biasanya selama ini.
"Setelah putaran pertama biasanya sudah jelas hanya tinggal dua calon saja yang dominan sehingga mereka tidak harus mencari aliansi atau dukungan dari partai lain atau kubu yang dikalahkan," jelas Francois Raillon, peneliti senior di Pusat Penelitian Nasional Perancis (CNRS), seperti dilaporkan BBC, Senin (24/4/2017).
"Jadi ini memang unik dalam sejarah pemilihan presiden Perancis sejak didirikannya Republik Kelima (Perancis) oleh Jenderal (Charles) de Gaulle pada tahun 1958," katanya.
Baca: Donald Trump Ngotot Ingin Bangun Tembok Perbatasan AS-Meksiko
Baca: Korea Utara Ingatkan Amerika. Kapal USS Carl Vinson Bisa Mereka Tenggelamkan Lewat Satu Serangan
Berdasarkan perkiraan sementara pemungutan suara putaran pertama, Minggu (23/4/2017), selisih perolehan suara keempat calon dari lima calon yang ikut pemilihan memang tidak berbeda banyak.
Sementara menurut The Guardian, hasil penghitungan sementara pada Minggu malam atau Senin (24/4/2017) pagi WIB menunjukkan Emmanuel Macron meraih 23,75 persen suara dan Marine Le Pen mendapat 21,55 persen.
Sedangkan Francois Fillon meraih 19,89 persen, Jean-Luc Mélenchon mendapat 19,64, persen dan persen, dan Benoit Hamon jauh di belakang dengan perolehan suara 6,34 persen.
Dari hasil sementara menunjukkan, Macron dari Partai En Marche beraliran politik kanan tengah dan Le Pen dari Partai Barisan Nasional beraliran politik ekstrem kanan, akan bertarung di putaran kedua pada 7 Mei nanti.
Baca: Terjebak di Laut Dangkal, Gunung Es Setinggi 46 Meter Ini Jadi Daya Tarik Turis
Baca: Sudah Dua Pekan, Pelaku Penyiram Air Keras ke Novel Baswedan Belum Juga Terungkap
Media Inggris lainnya, Daily Mirror, melaporkan ratusan pemrotes anti-rasis menggelar aksi protes terhadap perolehan suara yang dipimpin Macron dan Le Pen.
Keduanya membutuhkan dukungan kubu Fillon dari Partai Republik yang beraliran kanan tengah dan Mélenchon yang merupakan calon Partai La France Insoumise yang beraliran kiri serta Hamon dari Partai Sosialis.
Dukungan kepada Macron juga disampaikan Fillon, yang kampanyenya diwarnai dugaan skandal korupsi karena memberi pekerjaan kepada istrinya, dengan mengatakan Barisan Nasional Marien Le Pen hanya akan membawa 'ketidakberuntungan'.
Le Pen merupakan pemimpin yang antiimigran dan berjanji akan membawa Perancis ke luar dari Uni Eropa.
Dengan lolosnya Macron dan Le Pen ke putaran kedua, maka terhentilah tradisi pemilihan presiden yang biasanya didominasi calon Partai Sosialis dan Partai Republik.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/marine-le-pen-dan-emmanuel-macron_20170424_103724.jpg)