Sabtu, 11 April 2026

Ada Apa Dengan Batam

Keliru Tafsir Aturan, Industri Batam Gemukkan Negeri Lain Pakai Duit Negeri Sendiri!

Keliru Tafsir Aturan, Industri Batam Gemukkan Negeri Lain Pakai Duit Negeri Sendiri! Ini Analisa Bank Indonesia Kepri

Tribun Batam/Argianto DA Nugroho
Ilustrasi. Sejumlah kapal lego jangkar di perairan Batuampar Batam 

BATAM.TRIBUNNEWS.COM, BINTAN-Selain hanya menggemukkan industri Singapura, industri di Batam juga "kaku" sebatas berorientasi ekspor, meskipun belakangan diketahui tak sedikit pembelinya industri dalam ngeri.

Baca: Aduh! Trump Kegeeran, Lambaikan Tangan Dengar Tepukan Kencang. Ternyata buat Presiden Prancis!

Baca: Ngeri! Piknik ke Pulau Kematian, Turis Cantik Belgia Tewas di Koh Tao. Tubuhnya Dimakan Kadal!

Baca: Curiga Istri Selingkuh, Pria Ini Pergoki Istrinya Lagi Beginian di Ranjang Pria Lain!

Baca: Sederhana Saja, Begini Cara Memperpanjang Usia Kopling! Nomor 2 Wajib Dilakukan!

Bahkan, riset Bank Indonesia Perwakilan Kepri menganalisa ada keliru tafsir terhadap aturan pengembangan industri Baram. Imbasnya, sewaktu terjadi guncangan ekonomi global industri di Batam langsung terimbas.

Berkaca pada kondisi itu, Bank Indonesia Kepri, dengan melihat banyak potensi yang bisa dikembangkan pada Kawasan Khusus Ekonomi (KEK) di Batam, Karimun dan Bintan yang saat ini gencar dibangun. Selain industri, peluang lain yang dapat dikembangkan adalah KEK khusus untuk Offshore Banking.

Kepala Bank Indonesia Kepri Gustri Raizal Eka Putra di Bintan menjelaskan, KEK khusus offshore banking sangat potensial meningkatkan ekonomi dan perputaran uang di Kepri. Menurutnya, perbankan atau industri official di Kepri terutama di Batam sebagian besar dananya dipasok dari luar bukan melalui bank bank lokal.

“Jadi bank bank lokal yang ada di Kepri, ambil contoh Batam, secara umum mereka hanya mensuport operasional dari perbankannya saja. Tapi gaji, biaya biaya lain seperti investasi dan segala macamnya itu di-support oleh bank bank di luar,”kata Gusti.

Bank Indonesia telah melakukan penelitian terkait pola pergerakan uang industri di Kepri terkhusus di Batam. Penelitian mengungkap beberapa hal, duantaranya banyak perusahaan induk di Singapura yang memiliki anak perusahaan di Batam duit hasil dari itu tidak berputar di Batam tapi di Singapura. Sementara produk industrinya atau barang barang yang dihasilkan di Batam.

“Jadi transaksi uangnya itu hanya tinggal di Singapura, sementara barang barang dagangannya, barang barang pembuatannya dilakukan oleh kita (Batam). Jadi kita ini dianggap sebagai gudang, dianggap sebagai workshop dan tempat pembuatan saja," kata Gusti.

Berkaca dengan kondisi itu, gagasan kawasan ekonomi khusus (KEK) offshore banking menjadi sangat penting diwujudkan. Bila kelak Kepri bisa mewujdukan KEK offshore banking, banyak fasilitas ada dan lebih kompetitif. Batam atau Kepri pun mampu bersaing dengan Singapura yang secara geografis bertetangga dekat. Ide KEK Offshore banking diharapkan dapat menjadi tulang punggung ekonomi lain Kepri selain industri.

Khusus kondisi Batam saat ini, BI menyoroti beberapa hal soal aturan dalam keindustrian terutama dalam kaitannya dengan pemasaran.

Banyak hasil produksi industri di Batam dibutuhkan dalam negeri. Sayangnya aturan sejak awal dipahami Batam daerah yang didorong dan didukung hanya untuk mensuport ekspor.

Ketika terjadi kelelesuan ekonomi global, maka Batam pun ikut lesu. Kelesuan bisa diantisipasi cepat jika sejak awal prouduk industri Batam diarahkan secara langsung juga beroruentasi pasar dalam negeri secara kangsung. Tidak harus melalui mekanisme ekspor dulu baru sampai ke Indonesia. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved