Kamis, 23 April 2026

Korut Tahan Diri, Iran Terus Gertak Amerika Serikat. Gandeng Rusia Ancam Ini ke Trump!

Korut Tahan Diri, Kini Giliran Iran Gertak Amerika Serikat. Gandeng Rusia Ancam Ini ke Trump!

SEPAH NEWS/AFP PHOTO
Ilustrasi. Empat peluru kendali mengudara di sebuah kawasan gurun yang tak disebutkan di Iran. Foto ini diperoleh dari divisi publikasi Garda Revolusi, Sepah News 

BATAM. TRIBUNNEWS.COM, TEHERAN-Retorika Donald Trump, Presiden Amerika Serikat mengutamakan dan mempertamakan negerinya menabrak dinding dalam dan luar negeri.

Baca: Orang Terkaya dan Naga Indonesia Meninggal Dunia, Terungkap Inilah 5 Istrinya!

Baca: Tersinggung! Model Cantik Ini Ungkap Rahasia Ranjang Walikota Kendari, Ini Kamar Begituanya!

Baca: Inilah 4 Fakta Menghebohkan Penemuan Mayat Tembesi. Nomor 4 Bikin Penasaran

Baca: Setelah Korut, Iran Ikutan Gertak Amerika. Kucurkan Rp 7 Triliun Percanggih Rudal. Reaksi Trump?

Di luar negeri, setelah Iran tahan diri soal merudal Guam kini giliran Iran menggertak Amerika Serikat. Iran mengancam Presiden Trump jika terus cerewet soal kesepakatan nuklir 2015.

Presiden Hassan Rouhani mengeluarkan ancaman keras, bahwa Iran akan meninggalkan kesepakatan nuklir 2015 jika Amerika Serikat terus menerapkan sanksi baru.

Ancaman itu ditegaskan Rouhani dalam salah satu bagian pidato saat dia menyampaikan rencana kerjanya dalam masa jabatan baru sebagai Presiden Iran di hadapan parlemen.

Dalam sebuah pidato di Teheran, Selasa (15/8/2017) tersebut, Rouhani secara gamblang menyerang sosok Presiden AS Donald Trump.

"Saya akan menunjukkan kepada dunia, bahwa Amerika Serikat, bukan rekan yang baik," kata dia seperti dikutip AFP.

Rouhani mengungkapkan pernyataan tegasnya, setelah kesepakatan nuklir Iran berada dalam tekanan, menyusul pemberlakuan sanksi baru dari AS.

"Mereka yang mencoba kembali dengan gaya ancaman dan sanksi adalah tahanan dari delusi masa lalu mereka," kata Rouhani.

"Jika mereka ingin kembali ke pengalaman itu, pasti dalam waktu singkat -bukan berminggu-minggu atau berbulan-bulan, tapi dalam hitungan jam dan hari, kita akan kembali ke situasi kita sebelumnya, yang jauh lebih kuat."

Rouhani mengatakan, sebenarnya Iran lebih memilih untuk tetap menggunakan kesepakatan nuklir.

Dia menyebut kesepakatan itu sebagai bentuk kemenangan untuk perdamaian, dan diplomasi dalam perang dan unilateralisme.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved