Di Depan 2 Remaja Hebat Semarang Ini, David Beckham Akhirnya Blak-blakan Pernah Di-Bully

Saya mencoba masuk ke sebuah sekolah, akademi, dan mereka bilang kamu terlalu kecil, tidak cukup kuat: kamu tidak akan pernah bermain untuk negaramu

Di Depan 2 Remaja Hebat Semarang Ini, David Beckham Akhirnya Blak-blakan Pernah Di-Bully
Instagram
David Beckham bersama Sripu dan Ego di Semarang 

Di mata David Beckham, Sripun dan Ego merupakan orang yang sangat spesial karena sudah membantu orang lain.

Lalu, siapakah sebenarnya Ego dan Sripun?

David Beckham dan Sripun (instagram)

Dari anak yang terkucil karena dirisak atau dibully, Sripun berhasil mengatasi masalahnya dan bahka bertemu dengan David Beckham.

Sripun, remaja asal Semarang, Jawa Tengah, mengambil alih Instagram bintang sepak bola Inggris, David Beckham.

Pengikut Instagram David Beckham akan melihat sekolah Sripun, keluarganya dan teman-temannya.

"Halo, teman-teman, saya Sripun dan ini teman-teman saya, anggota agen perubahan dan kita anti-bullying," kata Sripun pada 43,3 juta pengikut Instagram David Beckham, Rabu 28 Maret 2018.

Sri Pundati, nama lengkapnya, adalah siswa SMP Negeri 17 di Semarang.

Di Instagram story Beckham, gadis 15 tahun ini memposting swafotonya bersama teman-teman sekolahnya.

Dia juga mengajak Beckham bermain filter Instagram.

Beckham bertanya pada Sripun mengenai pengalaman Sripun saat dibully di sekolah.

"Sripun adalah anak perempuan yang luar biasa," kata Beckham dalam keterangan pers yang dikirim UNICEF.

Beckham menjelaskan bahwa Sripun pernah menghadapi bullying di sekolah dan merasa dikucilkan oleh teman-temannya, tapi tetap fokus untuk mendukung teman-temannya yang ada di situasi sulit.

Hal itu diungkapkannya ketika Sripun bertanya setelah menceritakan pengalaman dibully di sekolah.

"Apakah Kak David pernah dibully?" tanya Sri.

"Iya, saya dibully waktu kecil karena saya pendiam," kata David Beckham menjawab pertanyaan Sri.

Di depan anak-anak SMPN 17 Semarang, mengalirlah kisah Beckham saat dibully di sekolah.

Sebelum menjadi bintang sepak bola, Beckham pernah jadi bahan tertawaan di sekolah.

David Beckham bercengkrama bersama Sripun, seorang siswi di Semarang, Selasa (27/3/2018).
David Beckham bercengkrama bersama Sripun, seorang siswi di Semarang, Selasa (27/3/2018). (Instagram)

Menurutnya, itu karena dia sangat fokus pada sepak bola dan enggan diajak nongkrong bersama anak-anak "gaul".

"Waktu saya dibully dulu, saya tidak bilang ke siapapun. Itu salah. Tindakan yang benar seharusnya adalah melaporkan ke guru dan orang tua," kata Beckham. Dia berpesan agar semua anak harus berani bersuara.

Menurut data UNICEF, satu dari lima anak berusia 13-15 tahun di Indonesia telah mengalami perundungan.

Jika ditotal, jumlahnya sekitar 18 juta anak. Satu dari tiga anak mendapat serangan fisik di sekolah.

Kekerasan di sekolah ini menjadi masalah besar yang menjadi salah satu sebab putus sekolah.

Sripun dipilih oleh teman-temannya untuk aktif dalam program anti perundungan, dan menghentikan kekerasan di sekolah.

Sebagai anak yang pernah dibully, Sri dilibatkan bersama teman-temannya, termasuk bersama anak yang pernah membully, untuk belajar bersama menciptakan sekolah yang bebas perundungan.

Selain di sekolah, Beckham juga mengunjungi rumah Sri dan bertemu ayah dan ibunya.

Mereka juga berjalan-jalan di sekitar lingkungan tempat tinggal Sripun dan bertemu teman Sripun.

"Saya sangat bangga bisa bertemu Sripun dan melihat betapa luar biasa karyanya untuk mencegah kekerasan di sekolah. Sri menginspirasi anak-anak lain untuk berhenti membully, sehingga semua bisa belajar dengan aman," kata Beckham.

Tentang Ego di penjual tas

David Beckham bersama Igo dan Sri Pundati (Instagram)

Satu lagi anak yang dikunjungi Beckham adalah Ego, juga siswa SMPN 17 Semarang.

Ego yang dikunjungi Beckham, Selasa (26/3/2018) lalu disebut-sebut anak Pancursari yang jago main bola.

Namun ternyata, Ego juga ikut dalam gerakan anti-bullying bersama Sripun di sekolahnya.

Selain suka sepak bola, Ego juga anak yang luar biasa.

Ia tinggal bersama neneknya, Wagimah yang sehari-hari bekerja membuat tas anyaman plastik.

Tas-tas itulah yang kemudian dijual Ego tanpa malu.

Tas itu dijual dengan harga Rp 9.500 sampai Rp 10.000 dan hasil penjualan tas itulah yang kemudian menjadi sumber kehidupan Wagimah dan Ego, sekaligus biaya sekolah Ego.

Ego tidak hanya berasal dari keluarga tidak mampu, tetapi juga dari keluarga yang tercerai-berai.

Sejak kecil ia tidak pernah kenal dengan ayahnya yang pergi entah kemana.

Sementara sang ibunya juga juga jarang pulang karena bekerja dan ikut bosnya ke luar kota.

"Bapaknya enggak pernah pulang, sedangkan ibunya bekerja di luar," ujar Harianto, Kepala Sekolah SMPN17.

Penulis: Alfian Zainal
Editor: Alfian Zainal
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved