Sabtu, 11 April 2026

Fakta Unik Negeri Mongolia, Suku Nomadennya Terancam Punah Gegara Pembelotan Kaum Mudanya

Selain prestasi Mongolia dalam Asian Games, Mongolia memiliki fakta yang menarik untuk diketahui.

Courtesy of Pascal Mannaerts
Suku nomaden di Mongolia 

TRIBUNBATAM.id- Mongolia pertama kali bergabung dengan Asian Games di Teheran pada tahun 1974.

Mongolia selalu berpartisipasi dalam ajang ini, namun tidak ikut di tahun 1986 karena boikot.

Selama mengikuti Asian Games, Mongolia selalu meraih medali emas.

Selain prestasi Mongolia dalam Asian Games, Mongolia memiliki fakta yang menarik untuk diketahui.

Baca: Mahasiswa Indonesia Juara Rancang Bangun dan Implementasi Satelit di Mongolia

Baca: Ini Kapal Mongolia Kyosei Maru yang Melawan BC Batam Saat Ditangkap

Salah satunya, sebanyak 30 persen penduduk Mongolia adalah nomaden, yaitu hidup berpindah-pindah dari satu wilayah ke wilayah lain.

Pengembara Mongolia adalah penggembala, yang bertahan hidup dengan bertani atau beternak unta, sapi dan kuda.

Mereka juga pindah dengan memanfaatkan kondisi terbaik dari alam sepanjang tahun.

Dilansir dari CNN, selama ribuan tahun, orang-orang Dukha yang juga dikenal sebagai Tsaatan telah tinggal di hutan terpencil dan dalam di Mongolia bagian utara.

Mereka pindah dari padang rumput yang satu ke padang rumput lainnya setiap tujuh sampai sepuluh minggu.

Komunitas kecil penggembala rusa ini adalah salah satu dari sedikit suku yang tersisa.

Para penggembala Dukha ini bergantung pada rusa mereka untuk hampir semua aspek kehidupan, serta identitas dan spiritual.

Baca: Peternak Ini Pakaikan Bra Bekas ke Sapinya untuk Cegah Radang Puting. Begini Hasilnya

Baca: Anjing hingga Rakun, Inilah Hewan Favorit Presiden AS. Kuda Poni pun Pernah Naik Lift Gedung Putih

Tetapi, ketika perkembangan modern mulai memasuki kehidupan mereka yang terpencil, tradisi kuno mereka terancam mati.

Saat ini, mungkin hanya ada 40 keluarga yang tersisa dengan sekitar 1.000 rusa.

Ancaman terbesar dalam pandangan antropolog Sardar-Afkhami adalah pembelotan dari generasi muda Dukha yang tidak ingin hidup dalam kondisi yang keras di taiga (hutan salju di musim dingin).

Munculnya penambangan emas di daerah itu, serta peraturan pemerintah untuk membatasi perburuan Tsaatan juga menjadi faktor yang mengancam bagi keberadaan suku tersebut.

Sumber: Grid.ID
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved