Tausiah Ramadan
Memaknai Hidup
Mereka yang hidupnya tanpa perjuangan dan pengorbanan, mungkin tingkat kebahagiaan dan kebanggaan terhadap dirinya juga rendah
Oleh: Komaruddin Hidayat, Guru Besar UIN syarif Hidayatullah
TRIBUNBATAM.ID - Pada awalnya mungkin sekali hidup ini kita jalani sekadar mengikuti dorongan insting, seperti perasaan lapar lalu menggerakkan untuk makan. Rasa kantuk mendorong mencari tempat tidur.
Haus membuat kita mencari minum. Tetapi ketika kebutuhan insting secara rutin sudah terpola ritme pemenuhannya, kita lalu bertanya lebih lanjut.
Untuk apa semua ini saya jalani? Pasti kita menjalani hidup tidak semata didorong oleh kinerja insting. Selalu saja kita dibuat gelisah oleh berbagai pertanyaan, seperti bagaimanakah meraih hidup yang bermakna (meaningful life)?
Setiap pribadi memiliki cara pandang dan penilaian masing-masing atas apa yang dilakukan atau hendak dilakukan.
Bagi anak-anak yang lagi menjalani masa puber, apa yang dianggap bermakna dan berharga tentu berbeda dari kalangan orangtuanya.
Seorang pemain sinetron pemula di televisi mungkin saja prestasi yang paling bermakna dan menjadi obsesi adalah ketika rating penontonnya naik. Ada lagi orang yang menempatkan rumah dan mobil mewah atau jabatan sebagai simbol dan ukuran keberhasilan hidup. Apa iya begitu?
Filsafat hidup, keyakinan, dan ajaran agama akan selalu hadir menjadi rujukan bagi seseorang dan masyarakat untuk menentukan bagaimanakah hidup bermakna.
Mereka yang menganut faham hedonisme berpandangan sukses dan kenikmatan hidup adalah ketika mampu memanjakan kenikmatan dan kelezatan fisikal-emosional.
Pendeknya hidup menjadi bermakna dan berharga ketika terpenuhi secara mudah mudah kebutuhan dan kenikmatan badani. Penganut faham hedonisme ada yang permanen sebagai keyakinan hidup, namun ada yang menjadi gaya hidup sementara dan mengalami perubahan di tengah jalan.
Profesi juga sangat berpengaruh bagi seseorang dalam membayangkan, mengejar, dan membangun hidup bermakna yang menjadi sumber kebanggaan dan kebahagiaan.
Seorang seniman, atlet, penulis, militer, dan professi lainnya lagi masing-masing memiliki gambaran, dan memori peristiwa-peristiwa serta prestasi hidup yang dianggap paling bermakna bagi hidupnya.
Mereka yang memiliki kejelasan konsep tentang hidup bermakna dan merasa tertantang untuk meraihnya, hidupnya lebih dinamis dan terarah. Seberapa besar makna hidup yang membanggakan seseorang berkaitan dengan seberapa besar perjuangan dan pengorbanan yang dilakukannya.
Mereka yang hidupnya datar-datar saja tanpa perjuangan dan pengorbanan, mungkin tingkat kebahagiaan dan kebanggaan terhadap dirinya juga rendah, datar-datar saja. Kebalikan dari penganut filsafat hidup hedonisme-materialisme adalah mereka yang menganut paham idealisme-spiritualisme.
Penganut paham kedua ini merasa hidup yang pantas dibanggakan dan bermakna itu bukannya terletak dalam terpenuhinya kenikmatan badani-duniawi dan mendatangkan self-glory, tetapi prestasi mendekati pada nilai-nilai kehidupan ideal yang berguna bagi sebanyak mungkin masyarakat.
Sejarah memiliki banyak catatan, siapa saja pemimpin bangsa dan dunia yang masuk kategori penganut filsafat dan idelogi hedonisme dan siapa masuk ketegori idealisme-spiritualisme.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/ilustrasi-membaca-alquran_20180520_124654.jpg)