Xiaomi, Smartphone Kualitas Premium Tapi Dijual Murah, Ternyata Ini Rahasianya
Contohnya pada saat Flash Sale Xiaomi Redmi 5A di situs belanja Lazada, smartphone ini habis terjual hanya dalam waktu kurang dari 5 menit.
TRIBUNBATAM.id - Xiaomi menjadi salah satu merek ponsel yang menjadi buah bibir, akhir-akhir ini.
Pasalnya, produk Xiaomi ini selalu laris terjual hanya dalam hitungan menit, termasuk di Indonesia.
Contohnya pada saat Flash Sale Xiaomi Redmi 5A di situs belanja Lazada, smartphone ini habis terjual hanya dalam waktu kurang dari 5 menit.
Hal ini membuktikan ponsel ini cukup diminati di Indonesia.
Laris-manisnya Xiaomi di pasaran adalah karena kualitasnya yang premium dengan sdpesifikasi tinggi, tetapi dijual dengan harga yang juh lebih murah dibanding smartphone sejenisnya.
Baca: Ini Daftar 10 Smartphone Paling Kencang Saat Ini, Xiaomi Paling Atas
Baca: Di Batam, Xiaomi Redmi Note 5 Dijual Hanya Rp 2,9 Jutaan
Baca: Heboh! Asus dan Xiaomi Adu Banting Harga di Indonesia, Samsung? Mengejutkan Jawabnya!
Produsen smartphone asal China yang kini juga diproduksi di Batam, Indonesia, melalui PT Sat Nusapersada Tbk, mengungkapkan alasan ponsel ini dijual dengan harga "miring"
Xiaomi tidak mengumbar promo, tetapi berjanji bakal terus memegang prinsip sebagai vendor smartphone berspesifikasi tinggi dengan harga terjangkau.
Setidaknya begitu yang diindikasikan CEO Xiaomi, Lei Jun, di sela-sela peluncuran Mi 6X di Wuhan University, China.
Lei Jun berjanji semua produk Xiaomi hanya akan meraup profit maksimal lima persen dari harga penjualan.
Produk yang dimaksud mencakup smartphone, perangkat Internet of Things (IoT), serta perangkat gaya hidup semacam wearable.
Perlu dicatat, profit lima persen itu benar-benar bersih, di luar pajak dan biaya operasional lainnya.
Angka lima persen terbilang sangat kecil untuk keuntungan penjualan perangkat elektronik.
Lei Jun cukup berani melontarkan janji tersebut karena persaingan industri semakin ketat.
Untuk bertahan, para vendor harus menyusun strategi apik agar mampu menghimpun massa sembari mengambil untung yang besar.
Salah satu caranya, pabrikan smartphone berlomba-lomba masuk ke pasar low-end untuk merangsang daya beli masyarakat.
Akan tetapi, mereka juga tak tanggung-tanggung mematok harga mahal untuk produk flagship demi meraup untung sebesar-besarnya.
Nah, cara inilaqh yang tidak dilakukan Xiaomi yang tidak membeda-bedakan seluruh produksinya.
Dari sejumlah pencarian yang dilakukan pemerhati smartphone secara mandiri, ditemukan harga produksi perangkat flagship yang terpaut sangat murah dibandingkan harga jualnya.
Misalnya saja Samsung Galaxy S9+ yang harga produksinya ditaksir sekitar Rp 5,2 jutaan dan dijual sekitar Rp 12 jutaan.
Profitnya berkisar 56 persen, meski belum bisa dibilang profit bersih.
Sementara itu, biaya produksi iPhone 8 diperkirakan hanya Rp 3,4 juta dan dijual mulai Rp 10,7 juta.
Keuntungannya bahkan mencapai 68 persen, meski belum bersih. (Fatimah Kartini Bohang/Kompas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/handphone-xiaomi-redmi-note_20180702_154552.jpg)