Jumat, 10 April 2026

KRISIS EKONOMI TURKI

Diambang Bangkrut, Ekonomi Turki Akan Dikuasai Oleh China

Endrogan, menurut televisi China, CGTN, akan menerbitkan obligasi dalam mata uang Yuan dengan harapan bisa mendapatkan banyak uang dari China.

AFP
Presiden Turki Tayyip Erdogan dan Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan di Beijing untuk membahas skema perbaikan ekonomi negara yang terancam bangkrut itu di Beijing, beberapa waktu lalu. 

TRIBUNBATAM.id, ANKARA - Seperti jatuhnya Kekaisaran Ottoman setelah Perang Dunia I, keruntuhan keuangan Turki saat ini telah diperkirakan selama bertahun-tahun.

Lembaga pemeringkat kredit memperkirakan Turki hanya mampu bertahan dalam satu atau dua tahun lagi dan setelah itu menjadi negara yang bangkrut.

Mata uang Turki, Lira, terus mengalami pendarahan hebat dan tidak berhenti setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali meraih kemenangan pada Pemilu.

Sejak 2014, Lira sudah jatuh tiga kali lipat terhadap dolar Amerika Serikat. Tingkat inflasinya naik secara ekstrim karena harga impor melonjak, sementara output negara itu juga sangat parah.

Turki sudah berusaha meminta bantuan dari negara lain, namun tidak mendapat dukungan yang baik, apalagi sikap Erdogan yang terkesan berseberangan dengan Amerika Serikat.

Bahkan, Erdogan menuduh Donald Trump melancarkan perang dagang terhadap mereka meskipun sebenarnya, Presiden ini gagal memperbaiki fundamental ekonominya.

Perselisihan Erdogan dengan Trump memang semakin memanas setelah Amerika Serikat kembali menaikkan tarif impor baja dan alumunium asal Turki masing-masing sebesar 20 persen dan 50 persen.

Alasan Trump menaikkan tarif tersebut karena mata uang Lira yang jatuh sehingga selisih kurs tersbeut membuat produk Turki menjadi sangat mahal.

Alasan itu ada benarnya, tetapi Trump tentu sdangat tahu jika kondisi ekjonomi Turki saat ini sudah berada di lampu merah.

Perekonomian Turki cenderung menyusut 10% hingga 20% karena Endrogan tidak menghentikan formula lama dalam memperbaiki ekonominya.

Yaitu, kredit domestik besar-besaran yang didukung oleh pinjaman luar negeri.

Turki mengimpor barang-barang konsumen dari utang tersebut sehingga membuat neraca ekonominya defisit hingga 6,5% dari pendapatan domestik bruto.

Perusahaan-perusahaan Turki terlilit utang luar negeri hingga US $ 300 miliar atau lebih dari Rp 4 ribu triliun dan mereka harus membayar dalam lira yang terdevaluasi hingga 300 persen.

Kondisi itu hampir sama dengan yang pernah dialami Yunani pada awal 2012, namun bisa teratasi akibat bantuan Uni Eropa.

Tak mendapat sambutan dari negara barat, Turki kini meminta bantuan pada China, kekuatan ekonomi kedua di dunia.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved