Ini Dia Penyebab Gejolak Mata Uang Gampang Bikin Goyang Negara Berkembang, Termasuk Indonesia

Kenaikan suku bunga The Fed membuat pasar AS lebih menjanjikan buat Investor yang merespon sehingga mereka menarik uang dari pasar negara berkembang

TRIBUNBATAM.id/Ganjar Witriana
Kurs Dolar Amerika naik 

Kondisi ini terutama mengancam banyak perusahaan di Turki dan Argentina yang menyimpan kredit dalam mata uang asing.

2. Perang Dagang di Pelupuk Mata

Merosotnya nilai mata uang lokal juga bisa mendorong investor menarik uang dari pasar saham di negara-negara berkembang.

Indeks Negara Berkembang milik MSCI, misalnya, anjlok sebanyak 15% dari level teringgi tahun ini.

Hengkangnya investor juga diyakini mempercepat kejatuhan nilai mata uang dan memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan yang berpotensi menghambat pertumbuhan.

Hal ini dilakukan oleh bank sentral di Turki, India dan juga Indonesia.

Namun langkah tersebut belum menjawab ketidakpastian yang dipicu oleh eskalasi perang dagang yang dilancarkan AS.

Selain dengan Cina, AS juga bersitegang dengan Turki seputar penahanan seorang pastor AS dan menghukum Ankara dengan menaikkan pajak bea masuk untuk produk logam asal negeri dua benua itu, baja dan aluminium.

Kekhawatiran investor terhadap perang dagang antara AS dan Cina ikut menyebabkan kelesuan pasar.

Saat ini sejumlah indikator sudah mengisyaratkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina.

Kondisi ini terutama berdampak besar pada perusahaan-peruahaan kecil dan akibatnya meningkatkan tekanan terhadap pasar saham dan mata uang Yuan.

3. Situasi di Indonesia

Kolumnis harian bisnis Bloomberg, Shuli Ren, menulis, Indonesia seringkali terinfeksi virus apapun yang menghinggapi pasar negara berkembang.

Menurutnya, masalah terbesar perekonomian Indonesia --seperti halnya negara berkembang lainnya-- adalah kebergantungan yang tinggi terhadap dana asing untuk membiayai defisit anggaran.

Saat ini kepemilikan asing pada obligasi pemerintah mencapai 40% pada 2017, dari 33% pada 2013.

Halaman
123
Sumber: Kontan
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved