Sabtu, 25 April 2026

Kisah Nursaka, Bocah ini Tiap Hari Bolak Balik Indonesia - Malaysia demi Sekolah

Bagi para petugas Imigrasi yang bertugas di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Nursaka sudah dianggap seperti keluarga sendiri

(KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan)
Nursaka (8), bocah SD asal Indonesia yang melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia setiap hari demi bersekolah. Dia tinggal bersama keluarganya di di Tebedu, Malaysia, dan berangkat ke sekolah setiap hari di Entikong, Indonesia. Setiap hari, dia harus terus membawa pas batas negara dan melintasi Imigrasi 

TRIBUNBATAM.id - Bagi para petugas Imigrasi yang bertugas di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Nursaka sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Keberadaan dan aktivitas Nursaka pun diketahui masyarakat luas berkat video yang dibuat serta unggah Imigrasi Entikong dan viral.

Video tersebut diunggah pada 7 September 2018 dan menuai reaksi positif dari warganet maupun masyarakat Indonesia.

Kepala Sub Seksi Informasi Kantor Imigrasi Entikong, Judi Susilo mengungkapkan, ide pembuatan video ini berawal dari rasa semangat nasionalisme Nursaka yang tinggal di Tebedu, Sarawak, Malaysia dan memilih untuk bolak-balik ke perlintasan batas negara untuk bersekolah di Entikong.

Judi mengatakan, meski baru berusia 8 tahun, Saka terdaftar sebagai pelintas batas resmi. Saka memiliki dua dokumen keimigrasian, yaitu buku paspor internasional dengan sampul berwarna hijau dan buku Pas Lintas Batas (PLB) bersampul warna merah milik ibunya yang memuat foto tiga anaknya termasuk Saka sebagai tanggungan.

Khusus PLB, dokumen tersebut hanya bisa dimiliki oleh warga yang tinggal di perbatasan yang sudah ditentukan sesuai kesepakatan bilateral antara Indonesia dan Malaysia melalui kebijakan Sosek Malindo.

Salah satu kebijakan tersebut adalah kemudahan melintas bagi warga yang memegang kartu namun dibatasi jarak tertentu sesuai dengan aturan dan kebijakan masing-masing negara. “Awalnya dalam video itu, kami mau menyampaikan pesan melalui anak ini bahwa anak ini (Nursaka) paham aturan dan membawa dokumen resmi untuk melintasi perbatasan,” ungkap Judi saat ditemui Kompas.com di PLBN Entikong, Kamis (13/9/2018).

“Anak ini memiliki semangat kuat untuk sekolah, meski harus bolak-balik setiap hari melintasi dua negara,” tambahnya.

Sejak tahun 2016, Saka panggilan akrabnya sudah mulai sering terlihat di pos imigrasi, terutama saat jam pulang sekolah. Dia mulai terlihat melintas antara pukul 06.00 hingga pukul 06.30 WIB setiap paginya ketika akan berangkat menuju sekolahnya. Awalnya, dulu Saka sering terlihat berada di pos pemeriksaan perlintasan kendaraan dari PLBN Entikong menuju border Tebedu Sarawak.

Di pos itu, Saka menunggu jemputan dari ayahnya. Terkadang, Saka menunggu sambil tertidur di pos tersebut apabila sang ayah belum datang menjemputnya. Saka sering terlihat di pos tersebut pada jam-jam pulang sekolah sekitar pukul 11.00 WIB.

Lama-kelamaan, Saka pun mulai dikenal oleh para petugas yang saban hari bertugas di pos tersebut, baik itu petugas imigrasi maupun anggota kepolisian yang bertugas di pos itu.

Hingga akhirnya, sang ayah tak bisa lagi menjemputnya karena kesibukan bekerja di kebun. Saka kemudian menumpang kendaraan yang disetop oleh petugas-petugas imigrasi yang semuanya dipanggil "Oom".

Tanggung jawab menitipkan Saka di kendaraan yang benar dan tepat seolah sudah menjadi bagian tersendiri bagi para petugas imigrasi di PLBN Entikong.

Mereka sudah menganggap Saka seperti bagian dari keluarga mereka sendiri, terlebih karena Saka adalah pelintas batas resmi sehingga secara tidak tertulis menjadi tanggung jawab para petugas ini.

Kendaraan yang ditumpangi Saka biasanya milik orang Entikong atau orang tempatan yang sudah dikenal dan biasa melintas. Sehingga para petugas ini memastikan betul, bahwa kendaraan yang akan ditumpangi Saka bisa mengantar Saka pulang ke rumahnya.

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved