Rabu, 29 April 2026

Bom Meledak di India, Penyerang Hujani Tembakan dan Lemparkan Bom. 10 Tewas

Tiga orang tewas dan 10 orang lainnya terluka akibat ledakan bom mengguncang upacara keagamaan di negara bagian Punjab

TRIBUNBATAM.id - Tiga orang tewas dan 10 orang lainnya terluka akibat ledakan bom mengguncang upacara keagamaan di negara bagian Punjab, India, Minggu (18/11/2018).

Bom meledak ketika penganut kongregasi religius Nirankari berkumpul mengikuti upacara keagamaan. 

Sekte tersebut memiliki jadwal rutin pertemuan setiap Minggu. Sekitar 200 orang berada di dalam kompleks saat peristiwa itu terjadi.

Saksi mata menyebutkan, dua pria bersenjata yang mengendarai sepeda motor, tiba di lokasi upacara kompleks Nirankari Bhawan, desa Adliwal, Amritsar, India.

Dua penyerang itu masuk ke kompleks, menembak, dan kemudian melemparkan bahan peledak ke kerumunan.

Melansir AFP, pelaku juga sempat mengacungkan pistol ke seorang perempuan yang berada di gerbang, sebelum melemparkan bom.

"Tiga orang tewas dan 10 orang terluka. Kami berusaha mengumpulkan lebih banyak informasi," kata pejabat senior polisi setempat Surinder Pal Singh Parmar. Presiden Kongres Punjab, Sunil Jakhar, menyampaikan belasungkawa kepada anggota keluarga korban dan menyebut insiden tersebut sebaga upaya untuk menganggu perdamaian.

Pengikut Nirankari berselisih paham dengan penganut Sikh, yang mendominasi Punjab. Sementara Punjab terbagi antara India dan Pakistan, memiliki sejarah kekerasan sektarian.

Pada 1984, militer India melancarkan serangan terhadap Kuil Emas di Amritsar yang bertujuan untuk mengusir militan yang menuntut tanah air Sikh yang independen.

Komunitas Sikh sangat marah atas insiden yang dianggap sebagai pencemaran terhadap kuil yang dihormati.

Wanita pertama Perdana Menteri India, Indira Gandhi meninggal 31 Oktober 1984, usai ditembak dua ajudannya, yakni Satwant Singh dan Kehar Singh.

Kejadian terjadi ketika Indira Ghandi sedang berjalan di pekarangan rumahnya. Tiba-tiba peluru dari dua ajudannya menghunjam tubuhnya. Tim dokter melakukan operasi kepada Indira Gandhi yang saat itu sudah sekarat. Namun nyawanya tak terselamatkan.

Diduga, penembakan ini berlandaskan motif agama.

Kedua ajudan yang diketahui beragama Sikh mencoba membalas dendam atas penyerangan di tempat suci agama Sikh pada beberapa sebelumnya, Juni 1984.

Usai insiden penembakan yang mengakibatkan Indira Gandhi tewas, situasi India masuk status Siaga.

Warga Hindu naik pitam dan menyerang warga Sikh yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Bu Perdana Menteri.

Sekitar 3.000 orang meregang nyawa akibat kerusuhan ini. Keamanan pun ditingkatkan. Sejumlah jalan utama ditutup.

Pada 2 Oktober silam, bom rakitan meledak di pinggiran kota di India, menyebabkan seorang anak tewas dan sembilan anak lainnya terluka. Korban tewas adalah seorang anak berusia delapan tahun yang dinyatakan meninggal setelah sempat dibawa ke rumah sakit.

"Sebuah bom rakitan sederhana meledak di bawah bangunan gedung empat lantai yang berada di dekat pasar. Ledakan bom melukai 10 orang, empat di antaranya mengalami luka serius," kata Komisaris Polisi Barrackpore, Rajesh Kumar Singh, kepada AFP.

Dilaporkan surat kabar lokal, Press Trust of India, politisi dari partai TMC, Panchu Roy, yang berkantor di dalam gedung tempat ledakan terjadi sebagai target bom rakitan.

"Itu adalah ledakan yang sudah direncanakan sebelumnya. Mereka telah merencanakan untuk membunuh saya dan para pekerja TMC lainnya. Teror ledakan itu bertujuan untuk menciptakan kepanikan dan membantu mereka mendapatkan pijakan di daerah itu," kata Roy tanpa menyebutkan pihak yang dicurigainya.

Sebelumnya, 6 Januari 2018, sebanyak 4 orang anggota Kepolisian India tewas dan dua lainnya terluka pada Sabtu akibat serangan bom di Wilayah Jammu Kashmir.

Kelompok militan membawa peledak rakitan atau Improvised Explosive Device (IED) dan meledakkannya di daerah pasar yang sepi pada pukul 10.30 waktu setempat. Polisi sedang melakukan patroli rutin, kata pejabat kepolisian setempat.

Tidak ada warga sipil yang menjadi korban akibat serangan bom itu karena pasar sedang tutup, terkait adanya peringatan 25 tahun ledakan Sopore tahun 1993 yang menyebabkan 57 warga sipil dibunuh oleh angkatan bersenjata India.

Dikutip dari situs media lokal, kelompok militan Jaish-e-Muhammad mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom tersebut dan mengaku kepada sebuah Kantor Berita GNS. Kepala Menteri Administrasi wilayah setempat Mufti Mehbooba mengutuk aksi penyerangan bom itu.

“Sangat menyakitkan mendengar hal itu, 4 petugas kepolisian telah tewas akibat ledakan IED di Sopore. Penyesalan terdalam saya untuk keluarga mereka,” ujar Mufti dalam akun Twitter resminya.

Kashmir, merupakan wilayah mayoritas Muslim di Himalaya, wilayah yang diklaim dua negara yakni India dan Pakistan. Sementara daerah kecil lainnya dikuasai Tiongkok.

Dua negara tersebut telah berperang selama beberapa periode yakni 1948, 1965 dan 1971.

Kelompok Gerilyawan Kashmir di Jammu Kashmir telah berperang dengan Pemerintah india untuk kemerdekaan persatuan dengan negara tetangga Pakistan. Lebih dari 70 ribu orang telah dilaporkan tewas sejak konflik yang dimulai pada 1989.

Awal tahun lalu, 19 januari 2017, sebuah bom meledak di negara bagian Idnia, Chhattisgarh. Tiga wanita tewas dan lima lainnya luka-luka akibat bom yang meledak di sebuah hutan terpencil di India Tengah itu.

"Dua wanita tewas di tempat dan satu meninggal saat di rumah sakit. Sedangkan lima lainnya luka-luka akibat ledakan tersebut," kata Kepala Kepolisisan Daerah Narayanpur, Abhishek Meena, dilansir AFP.

"Salah satu yang terluka adalah bayi yang masih berumur 6 bulan," imbuhnya. Ledakan bom berawal saat sekelompok wanita yang menjadi korban sedang mengumpulkan tanaman herbal di hutan. Kemudian, secara tidak sengaja mereka menginjak bom yang tertimbun di tanah.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved