Awas, Anggota TNI dan Polri Dilarang Berpose dengan Unjuk Jari

Hadi bersama Tito menegaskan, TNI-Polri akan tetap menjaga netralitasnya dalam menghadapi kontestasi pemilihan presiden

Awas, Anggota TNI dan Polri Dilarang Berpose dengan Unjuk Jari
tribunjateng.com
Panglima TNI dan Kapolri melarang anggotanya berpose dengan tunjuk-tunjuk jari. 

TRIBUNBATAM.ID - Jelang Pilpres 2019 simbol-simbol dan bahasa tubuh kerap ditafsirkan identik dengan ajakan, atau pilihannya dalam pencoblosan nanti.

Karena sensitifnya tentang penafsiran bahasa tubuh itulah, institusi TNI maupun Polri kini melarang seluruh personelnya berpose dengan unjuk jari. 

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengimbau pada seluruh anggota TNI-Polri, tidak berfoto memakai gaya dengan simbol yang mirip seperti nomor urut salah satu pasangan calon presiden.

Baca: WNI yang Dibunuh Teman Kencannya di Hotel Singapore Bernama Nurhidayati. Pelaku Diancam Hukuman Mati

Baca: Berita Dukacita. Paman Jokowi, Mulyono Herlambang Meninggal saat Umrah di Jeddah

Baca: Penerawangan Roy Kiyoshi Tahun 2019 - Lihat Gunung Berasap hingga Tanah Retak

Imbauan tersebut terkhusus disampaikan kepada angkatan TNI-Polri tahun 1987, 1992, dan Lemhanas angkatan 20, seiring viralnya foto TNI-Polri bergaya dua jari dengan mengangkat jempol dan telunjuk.

"Kami dengan Bapak Panglima sudah sepakat, karena nanti akan disalah tafsirkan, kita sudah mengimbau kepada teman-teman angkatan 87, kemudian 92, Lemhanas angkatan 20, selama kontestasi (Pilpres), jangan mengggunakan simbol itu dulu, nanti saja kalau sudah selesai kontestasi," ujar Tito di Lampung, Rabu (2/1/2019).

Tito menjelaskan, foto dengan kode atau simbol tersebut merupakan ciri dari angkatan 92, 87, dan Lemhanas angkatan 20, yang kebetulan kode jarinya mirip dengan satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden.

"Itu juga fotonya diambil jauh sebelum penetapan pasangan calon tadi. Jadi angkatan 87, angkatan saya punya kode jari itu (jempol dan telunjuk diangkat), sudah lama sekali, sudah lebih dari 20 tahun," papar Tito.

Hal senada juga diungkapkan Hadi yang menyampaikan, kode tersebut biasa digunakan angkatan 92, 97, dan Lemhanas angkatan 20.

"Kode tersebut menandakan untuk soliditas, sinergi angkatan untuk mempersatukan. Dan akhir-akhir ini muncul kode itu kembali yang nantinya akan menganggap bahwa TNI-Polri tidak netral," ucap Hadi di tempat yang sama.

Hadi bersama Tito menegaskan, TNI-Polri akan tetap menjaga netralitasnya dalam menghadapi kontestasi pemilihan presiden yang akan berlangsung pada April 2019.

"Saya sampaikan TNI-Polri menjaga netralitas dan simbol-simbol itu adalah untuk kebersamaan, tidak ada maksud lain dan diambil sebelum pasangan calon mengambil nomor urut," kata Hadi.

Pada Pilpres 2019, pasangan capres Joko Widodo dan cawapres Ma'ruf Amin mendapatkan nomor urut satu. Sementara capres Prabowo Subianto dan cawapres Sandiaga Uno memperoleh nomor urut dua.(*)

Editor:
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved