Jadwal Cap Go Meh 2019 di Singkawang, Ada Pagoda dari 1 Ton Kue Keranjang
Jadwal Cap Go Meh 2019 di Singkawang berbeda dengan tahun sebelumnya karena ada Pagoda dari 1 ton kue keranjang.
Jadwal Festival Cap Go Meh 2019 di Pontianak, Pohon Mei Hua Raksasa semarakkan acara.
TRIBUNBATAM.id - Jadwal Cap Go Meh 2019 di Singkawang berbeda dengan tahun sebelumnya.
Festival Cap Gomeh di Singkawang, Pontianak akan lebih meriah.
Yang paling menonjol perbedaan dalam pelaksanaan Cap Go Meh adalah keberadaan Pohon Mei Hua Raksasa serta Pagoda dari 1 ton kue keranjang.
Ini deretan perbedaan perayaan Cap Go Meh 2019:
- Pohon Mei Hua Raksasa.
- Pagoda dari 1 ton kue keranjang.
- Panggung utama hanya di Jalan Diponegoro.
- 3000 lampion akan hiasi Kota Pontianak khususnya Jalan Diponegoro, Gajahmada, Jalan Pahlawan dan Tanjungpura.
- 130 titik bannet ucapan Gong Xi Fa Chai.
- 73 stan meriahkan CGM dan Festival kuliner.
Tatung perempuan yang ikut beratraksi pada puncak Festival Imlek 2569 dan Cap Go Meh 2018 di Singkawang, Kalimantan Barat, Jumat (2/3/2018). (TRIBUN PONTIANAK/ANESH VIDUKA)
Ikuti juga jadwal pelaksanaan Festival Cap Go Meh Pontianak 2019 sebagai berikut:
- 14 Februari, Pembukaan pekan promosi dan kuliner.
- 14-19 Februari, Pekan Promosi dan Kuliner.
- 17 Februari, Ritual naga buka mata.
- 17-19 Februari, Kunjungan naga dibeberapa tempat.
- 19 Februari, Atraksi naga dan festival barongsai.
- 20 Februari, Ritual naga tutup mata.
- 20 Februari, Pukul 17.00 ritual pembakaran naga di Makam Yayasan Bhakti Suci, Kubu Raya.
Para pemain Barongsai melakukan atraksi saat perayaan Cap Go Meh 2569 di Jalan Gajahmada, Pontianak, Jumat (2/3/2018). (TRIBUNPONTIANAK.CO.ID / Adelbertus Cahyono)
Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie menuturkan, perayaan Cap Go Meh (CGM) di Kota Singkawang, setiap tahun selalu dimeriahkan dengan pawai karnaval tatung, replika naga, dan barongsai, serta pagelaran multietnis yang diikuti oleh seluruh paguyuban yang ada di Kota Singkawang.
Perayaan Cap Go Meh menunjukkan bukan saja pelestarian budaya di Kota Singkawang, tetapi juga sebagai simbol toleransi dan pembauran antar etnis yang harmonis.
"Dengan multietnis tersebut, membawa dampak positif bagi peningkatan pendapatan masyarakat setempat. Terutama pelaku usaha perhotelan, restoran, pengelola rumah makan dan pengelola objek wisata," katanya, Senin (21/1/2019).
Setiap tahun menjelang Festival Imlek dan Cap Go Meh, Singkawang akan dikunjungi banyak wisatawan.
Baik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menyaksikan event tahunan ini.
"Terlebih Festival Imlek dan Cap Go Meh sudah mendunia serta mendapatkan pengakuan dari UNESCO," tuturnya.(*)
Artikel ini telah tayang di Tribunpontianak dan Tribunjatim.