Minggu, 10 Mei 2026

BATAM TERKINI

Ribuan Umat Katolik Ikuti Ibadah Rabu Abu di Gereja St Petrus Batam

Ribuan umat Gereja Katolik Paroki Santo Petrus di Lubuk Baja, Batam, ikuti perayaan Rabu Abu, Rabu (6/3/2019)

Tayang:
TRIBUNBATAM.id / Leo Halawa
Ribuan Umat Katolik di Gereja St Petrus Batam Ikuti Ibadah Rabu Abu 

TRIBUNBATAM.id,  BATAM - Ribuan umat Gereja Katolik Paroki Santo Petrus di Lubuk Baja,  Batam,  ikuti perayaan Rabu Abu,  Rabu (6/3/2019)  pukul 18.00 WIB. Perayaan Rabu Abu di gereja itu dipimpin Pastor Paroki Santo Petrus RD. Frans Tatu Mukin, Pr. 

Umat yang berdatangan bahkan tidak muat di dalam Gereja. Umat sebagian duduk di luar dan lantai dua. Saat tiba,  acara Ritus demi Ritus digelar dipimpin Frans Tatu Mukin. Umat ditandai salib dengan abu dahi masing-masing umat. Proses ini berjalan khidmat.

Frans Tatu Mukin menegaskan kepada umat,  bahwa gereja Katolik sebagai gereja universal mengajarkan manusia mengingat kembali awal mula manusia. Sesungguhnya,  manusia berasal dari abu dan kembali ke abu. Yang diketahui,  akan kembali ke tanah menghadap sang Khalik. 

"Kristus Yesus mati untuk kita. Melalui perayaan pra Paskah ini, mengingat kan kita akan Rabu abu. Umat disadarkan, bahwa hidup ini kembali ke asalnya. Sesungguhnya orang beriman bertakwa saja agar diselamatkan," demikian perkataan Romo Frans yang dikutip.

Seperti diketahui,  Rabu Abu dirayakan umat Katolik se-Dunia khususnya gereja universal yang berkiblat di Vatikan Roma,  Italia. 

Literatur mencatat, Rabu Abu, adalah hari pertama puasa umat Kristen, secara harfiah adalah pemberian tanda di dahi orang-orang Kristen.

Ribuan Umat Katolik di Gereja St Petrus Batam Ikuti Ibadah Rabu Abu
Ribuan Umat Katolik di Gereja St Petrus Batam Ikuti Ibadah Rabu Abu (TRIBUNBATAM.id / Leo Halawa)

Dalam ibadat gereja-gereja di seluruh dunia, abu pembakaran daun palem dicampur dengan air atau minyak suci, lalu diberikan dalam bentuk tanda salib di dahi umat.

Abu daun palma yang digunakan pada Rabu Abu berasal dari perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya.

Minggu Palma merupakan perayaan kembalinya Yesus ke Jerusalem saat Ia disambut kerumunan orang yang melambaikan daun palem atau palma.

Pemberian tanda salib dengan abu itu disertai kata-kata, "Bertobatlah, dan percaya pada Injil" (Markus 1:15) atau "Ingat bahwa kamu berasal dari debu, dan kamu akan kembali menjadi debu" (Kejadian 3:19).

Surat dari Ahmad Dhani untuk Anak Keduanya, El Rumi Disita Polisi, Begini Kronologi Pemberian Surat

Wanita Tua Berusia 73 Tahun Dibuang Anaknya di Pinggir Jalan, Kisahnya Bikin Nangis Saya Pasrah

HIGHLIGHT! Cuplikan Gol PSIS Semarang vs Persipura Jayapura, Boaz Solossa Kunci Kemenangan Tim

Rabu Abu merupakan awal masa Pra-Paskah, periode pertobatan dan refleksi selama 40 hari yang memperingati pencobaan dan pergumulan yang dihadapi Yesus selama periode yang sama di padang pasir.

Praktik menandai dahi dengan simbol tobat, berkabung, dan kematian pada awalnya dijalankan Gereja Katolik Roma.

Namun, seiring waktu, Rabu Abu ini tidak saja hanya gereja Katolik yang mengadakan. Literatur mencatat bahwa Gereja Metodis, Episkopal, Presbiterian, Lutheran, dan denominasi Protestan lainnya kini juga mempraktikkannya.

Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaska, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paska.

Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan.

Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8).

Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).

Di luar gereja Katolik, setimg menanyakan mengapa hari Rabu? pertanyaan ini sah-sah saja. Tidak ada yang salah. Penjelasan nya, Gereja Katolik menerapkan puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari, sehingga genap 40 hari.

Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu.Paskah terjadi hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh pada hari Rabu.

Jadi penentuan awal masa Prapaska pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paska, tanpa menghitung hari Minggu.

Pertanyaan kedua, Mengapa Rabu “Abu”? Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6).

Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (Lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu.

Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

Tradisi Ambrosian. Namun demikian, ada tradisi Ambrosian yang diterapkan di beberapa keuskupan di Italia, yang menghitung Masa Prapaskah selama 6 minggu, termasuk hari Minggunya, di mana kemudian hari Jumat Agung dan Sabtu Sucinya tidak diadakan perayaan Ekaristi, demi merayakan dengan lebih khidmat Perayaan Paskah. (leo)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved