Jumat, 24 April 2026

Pasca Kerusuhan 22 Mei, Masyarakat Takut Bicara Politik dan Hindari Penangkapan

"Secara umum, rakyat menilai positif kondisi demokrasi Indonesia setelah 20 tahun. Tetapi, Ada indikasi demokrasi mengalami pelemahan pasca peristiwa

TRIBUNNEWS
Kerusuhan 22 Mei 2019 

TRIBUNBATAM.id - Survei yang dilakukan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan, terjadi penurunan tren perbaikan demokrasi, khususnya pasca kerusuhan yang terjadi pada 21 dan 22 Mei 2019.

Dua indikator di antaranya yaitu, muncul ketakutan masyarakat terhadap penangkapan semena-mena oleh penegak hukum.

Kedua, muncul rasa takut masyarakat saat berbicara tentang politik.

"Secara umum, rakyat menilai positif kondisi demokrasi Indonesia setelah 20 tahun. Tetapi, Ada indikasi demokrasi mengalami pelemahan pasca peristiwa kerusuhan 21 dan 22 Mei," ujar peneliti SMRC Sirajuddin Abbas dalam pemaparan survei di Kantor SMRC, Jakarta, Minggu (16/6/2019).

Dalam survei, SMRC menanyakan responden mengenai ketakutan masyarakat saat berbicara tentang politik pasca kerusuhan 21 dan 22 Mei 2019.

Ini Akibatnya Bagi Kesehatan Jika Kentut dan Sendawa Ditahan-tahan, Berikut Penjelasannya

Banyak yang Tidak Tahu, Diam-diam Limbad Kuasai 3 Bahasa dan Bergelar Profesor Doktor Honoris Causa

Begini Kata-kata Ustaz Yusuf Mansur Nasihati Putrinya, Begitu Mengharukan

Cegah Kanker Payudara Sejak Dini, Ini Cara Mendeteksi Lebih Awal Mengetahuinya

Hasilnya, 8 persen menyatakan selalu takut bicara politik.

Kemudian, 35 persen responden menyatakan sering merasa takut. Jika ditotal, maka terdapat 43 persen responden yang takut bicara politik pasca kerusuhan.

Berdasarkan survei, tren ketakutan itu mengalami peningkatan. Pasca pemilu 2009, ada 16 persen responden.

Kemudian, pasca pemilu 2014, terdapat 17 persen. Sementara, pasca pemilu dan kerusuhan 21-22 Mei 2019, terdapat 43 persen responden yang merasa takut.

Begitu juga mengenai ketakutan masyarakat terhadap isu penangkapan semena-mena oleh penegak hukum.

SMRC menanyakan responden mengenai ketakutan masyarakat pasca kerusuhan 21 dan 22 Mei 2019.

Hasilnya, 7 persen menyatakan selalu takut terhadap penangkapan.

Kemudian, 31 persen responden menyatakan sering merasa takut. Jika ditotal, maka terdapat 38 persen responden yang takut ditangkap secara semena-mena pasca kerusuhan.

Berdasarkan survei, pasca pemilu 2009, ada 24 persen responden yang merasa takut. Kemudian, pasca pemilu 2014, terdapat 24 persen.

Kisahnya Viral, Bayu Bocah Yatim Piatu Penjual Keripik Ini Diajak Khusus Nonton Laga Timnas

Warung Kopi Terima Penitipan Suami dan Penangkaran Buaya, Ini Arti dari Slogan Sesungguhnya

Bawa 45 Penumpang, Bus Pariwisata Tabrak Truk Tangki di Jalan Padang-Solok Sitinjau Lauik

Agar Bisa Tetap Makan Bersama Neneknya Bocah Yatim Piatu Ini Banting Tulang Jualan Keripik 

Sementara, pasca pemilu dan kerusuhan 21-22 Mei 2019, angkanya naik menjadi 38 persen responden yang merasa takut.

Survei mengenai opini publik ini dilakukan pada 20 Mei-1 Juni 2019. Pendanaan survei ini dibiayai sendiri oleh SMRC.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved