Kamis, 14 Mei 2026

Schneider Electric Manufacturing Batam Masuk 10 Percontohan Industri 4.0 Dunia. Apa Hebatnya?

Ternyata, ada satu industri manufaktur di Batam, Indonesia, yang sudah mulai melakukan revolusi industri 4.0, bahkan menjadi percontohan tingkat dunia

Tayang:
liveatpc.com
PT Schneider Electric Manufacturing Batam, satu dari 10 perusahaan yaqng jadi percontohan revolusi industri 4.0 tingkat dunia 

TRIBUNBATAM.ID, JAKARTA - industri 4.0 atau atau revolusi digital di bidang industri tengah melanda dunia karena hampir seluruh proses fabrikasi dilakukan secara otomasi.

Indonesia juga mulai bersiap masuk ke dalam dunia baru revolusi industri  yang sudah dimulai di negara-negara maju.

Ternyata, ada satu industri manufaktur di Batam, Indonesia, yang sudah mulai melakukan revolusi industri 4.0, bahkan menjadi percontohan tingkat dunia.

Hebatnya lagi, perusahaan manufaktur itu berada di Kota Batam.

7 Menteri Ini Diprediksi Tetap Dipertahankan Jokowi di Periode Kedua, Adakah Menteri Susi?

Suhu Panas Landa Afrika, Asia Tengah dan Eropa. Mungkinkah Menyebar ke Indonesia? Ini Kata BMKG

Suhu Panas Landa Afrika, Asia Tengah dan Eropa. Mungkinkah Menyebar ke Indonesia? Ini Kata BMKG

Perusahaan itu adalah produsen elektronik, PT. Schneider Electric Manufacturing Batam (SEMB) yang terletak di Mukakuning Batam.

Seperti rilis Kementerian Perindustrian yang dilansir Kontan.co.id, dari laporan World Economic Forum (WEF) pada Annual Meeting of the New Champions di Dalian, China, 3 Juli 2019, diumumkan 10 pabrik baru dalam jajaran Global Lighthouse Network.

Selain PT SEMB, perusahaan Indonesia yang juga masuk 10 lighthouse, yaitu perusahaan kontraktor tambang PT Petrosea Tbk yang berlokasi di Tabang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Delapan perusahaan lainnya yang menjadi lighthouse, yaitu Arçelik (Ulmi, Romania), Ford Otosan (Kocaeli, Turki), Nokia (Oulu, Finlandia), dan Posco (Pohang, Korea Selatan).

Selanjutnya, Groupe Renault (Cléon, Prancis), SAIC Maxus (Nanjing, China), Tata Steel (Kalinganagar, India), dan Zymergen (Emeryville, USA).

Mereka menjadi percontohan bagi perusahaan lainnya untuk mengatasi tantangan dalam memperbarui sistem dan mengaplikasikan teknologi mutakhir, seperti Artificial Intelligence, big data analytics, dan 3D printing.

Menurut WEF, 10 lighthouse yang dipilih tersebut berdasarkan kepemimpinannya menerapkan teknologi industri 4.0 untuk mendorong dampak positif terhadap finansial dan operasionalnya.

Selain itu, seluruh perusahaan ini sukses mengintegrasikan teknologi industri 4.0 untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi.

Kesepuluh perusahaan tersebut bergabung dengan 16 perusahaan lainnya yang sebelumnya sudah masuk sebagai lighthouse.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian telah menunjuk PT SEMB sebagai percontohan untuk sektor manufaktur di Indonesia yang sudah menerapkan industri 4.0.

Perusahaan elektronik ini dinilai berhasil melakukan transformasi digital sehingga mampu mengadopsi digital attitude serta menerapakan model operasional yang baru dan efisien di perusahaan.

“Adanya lighthouse industry dapat menjadi pembelajaran bagi industri lain dalam bertransformasi menuju industri 4.0. Ke depan, diharapkan semakin banyak lighthouse industry yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Pada gelaran Indonesia Industrial Summit (IIS) 2019 di ICE BSD City, Tangerang, Banten, beberapa waktu lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang meresmikan pembukaan IIS 2019 tersebut, juga turut menyerahkan penghargaan kepada PT. SEMB sebagai Lighthouse Industri 4.0 di Indonesia.

Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Country President Schneider Electric Indonesia, Xavier Denoly.

Pada kesempatan itu, Wapres JK didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution dan Menteri Airlangga.

“Penilaian kami kepada Schneider Batam berdasarkan program yang mereka jalankan, yaitu Batam Digital Transformation Journey yang dimulai tahun 2017. Program ini meliputi 4 pilar, yaitu cyber security, people and leadership, product life cycle and data management, serta data analytics,” tutur Menperin.

Menurut Kemenperin, kunci keberhasilan perusahaan global asal Perancis itu dalam melakukan transformasi digital dilakukan melalui beberapa tahap, antara lain pendefinisian komitmen dari manajemen puncak ke level paling bawah dan perumusan target perusahaan secara jelas.

Selanjutnya, pengembangan kompetensi digital serta mengubah mindset, budaya kerja dan organisasi menuju digital attitude. Selain itu, scalling up melalui pengembangan kemampuan dan adopsi model operasional yang baru dan efisien untuk diterapkan di perusahaan.

Key Account & Ecostruxure Prescription Leader PT SEMB Fadli Hamsani menyampaikan, Smart Factory Schneider Electric di Batam adalah bagian dari transformasi digital Schneider Electric secara gtlobal.

Semua solusi tersebut terhubung kepada platform EcoStruxure™, yaitu platform IoT (Internet of Things) milik Schneider Electric yang terbuka, mudah dioperasikan, dan kompatibel. EcoStruxure™ memberikan nilai lebih dalam hal keamanan, keandalan, efisiensi, daya tahan dan konektivitas.

Siap bertransformasi

Pada kesempatan berbeda, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara mengemukakan, mulai banyak industri manufaktur di Indonesia yang siap memasuki era industri 4.0. Ini ditandai dengan antusiasnya mereka dalam mengikuti penilaian Indonesia Industry 4.0 Readiness Index (INDI 4.0).

“INDI 4.0 merupakan indeks acuan bagi industri dan pemerintah dalam mengukur tingkat kesiapan industri bertransformasi menuju industri 4.0 di Indonesia,” jelasnya.

Sampai saat ini, sebanyak 328 perusahaan industri sudah melakukan self-assesment INDI 4.0 secara online melalui akun SIINas (Sistem Informasi Industri Nasional).

Jumlah itu meliputi 39 perusahaan industri makanan dan minuman, 10 perusahaan industri tekstil, serta 30 perusahaan industri kimia.

Selanjutnya, 198 perusahaan industri otomotif, 28 perusahaan industri elektronika, 11 perusahaan industri logam, 11 perusahaan industri aneka, dan 1 perusahaan industri EPC.

“Dari hasil self-assesment INDI 4.0, industri di Indonesia cukup siap untuk bertransformasi menuju indsutri 4.0,” tegasnya.

Ngakan menjelaskan, INDI 4.0 terdiri atas lima pilar, yaitu manajemen dan organisasi (management and organization), orang dan budaya (people and culture), produk dan layanan (product and services), teknologi (technology), dan operasi pabrik (factory operation). Adapun level dalam INDI 4.0 mulai dari level 0 yang artinya belum siap bertransformasi ke industri 4.0.

Kemudian, level 1 industri masih pada tahap kesiapan awal, level 2 adalah industri pada tahap kesiapan sedang, level 3: industri sudah pada tahap kesiapan matang, dan level 4 menandakan industri sudah menerapkan industri 4.0.

Pada tahun ini, Kemenperin telah menetapkan lima industri yang mendapatkan penghargaan INDI 4.0, yaitu (1) PT. Indolakto untuk sektor industri makanan minuman, (2) PT.

Pupuk Kaltim untuk sektor industri kimia, (3) PT. Pan Brothers, Tbk untuk sektor industri tekstil, (4) PT. Toyota Motor Manufacturing Indonesia untuk sektor industri otomotif, dan (5) PT. Hartono Istana Teknologi untuk sektor industri elektronika.

Sebelumnya, Menperin mengungkapkan, implementasi industri 4.0 dinilai dapat membawa manfaat bagi perusahaan yang menerapkannya, terutama akan terjadinya peningkatan pada produktivitas dan efisiensi hingga 40 persen.

Oleh karena itu, Kemenperin bertekad untuk terus mengajak seluruh sektor manufaktur di Tanah Air agar siap menghadapi dan menerapkan teknologi era digital.

“Era digital atau industri 4.0 ini manfaatnya akan memberikan efisiensi dan produktivitas kepada perusahaan yang naik hingga 40 persen. Berarti untungnya juga bisa naik 40 persen. Maka bayar pajaknya pun bertambah. Dengan demikian perusahaan untung, kemudian pemerintah juga untung. Itu salah satu manfaat implementasi industri 4.0,” paparnya. 

Pabrik Pintar

Dilansir dari Live at PC, pabrik pintar perusahaan di Batam ini mencuat dalam pameran Industri Internet of Things (IIoT) untuk perusahaan di Asia. 

Perusahaan ini menunjukkan kepada pelanggan dan mitra, betapa mudahnya memulai perjalanan digitalisasi mereka.

Lebih dari 150 pelanggan dan mitra dari Indonesia, Cina, Singapura, Vietnam, Malaysia, Myanmar, dan Timur Tengah telah mengunjungi pabrik tersebut sejak transformasi digitalnya sebagai pabrik pintar pada tahun 2017.

Schneider Electric menggunakan arsitektur dan platform IoT yang didukung IoT, plug-and-play, terbuka, dan mudah dioperasikan.

Sistem ini diberi nama EcoStruxure ™. Solusi ini termasuk mesin EcoStruxure ™, EcoStruxure ™ Power dan EcoStruxure ™ Building. EcoStruxure ™.

Sistem ini memberikan nilai lebih dalam hal keamanan, keandalan, efisiensi, daya tahan, dan konektivitas.

EcoStruxure ™ memanfaatkan kemajuan dalam IoT, mobilitas, penginderaan, cloud, analitik, dan teknologi cybersecurity untuk menghadirkan inovasi di setiap level produk yang saling terhubung.

Implementasi solusi EcoStruxure ™ di Batam telah menghasilkan efisiensi energi antara 5% dan 7%, pengurangan sisa produksi sebesar 46% dan peningkatan produktivitas sekitar 17%.

Menggunakan dashboard Menara Kontrol Manufaktur, manajer pabrik dapat membuat keputusan yang lebih baik dan mempersingkat waktu dari pabrik ke lantai toko manufaktur.

“Kami sangat percaya pada nilai pabrik pintar dan memastikan pabrik kami sendiri dilengkapi dengan teknologi IIoT terbaru untuk mempelopori era Industri 4.0 yang baru. Pabrik pintar kami di Batam adalah test bed untuk kinerja mesin, AI, perawatan prediktif dan digital, mesin dan proses yang terhubung. Integrasi big data, cloud, dan teknologi IIoT akan membuka jalan bagi organisasi di Asia untuk bekerja menuju visi pabrik pintar mereka, menjadi lebih hemat energi dan berkelanjutan dalam jangka panjang, ” kata Xavier Denoly, Country President Schneider Electric Indonesia.

Pabrik Manufaktur Schneider Electric di Batam berlokasi di Batamindo Industrial Park yang merupakan bagian dari PT Schneider Electric Indonesia.

Didirikan pada Agustus 1991, memiliki luas 10.450 m2 dan 242 karyawan. Ada tiga pabrik perusahaan Perancis ini di Batam, yang memproduksi produk Elektromekanik, Elektronik dan Sensor untuk pasar lokal, Eropa dan Asia Pasifik.

Pabrik ini sudah mendapatkan standar internasional ISO 9001, ISO 14001, OHSAS 18001 dan ISO 50001.

Kemudian pabrik Electromechanic Plant Schneider memiliki luas 10.300m2 dan lebih dari 1.000 karyawan. Menghasilkan sekitar 4.000 jenis peralatan elektromekanis seperti Contactor, MCB, Push Button, light pilot, cahaya rotasi mercusuar, alarm suara, dan relay.

Adapun pabrik elektronik memiliki luas 11.000 m2, sekitar 800 karyawan dan memproduksi sekitar 2.500 jenis peralatan elektronik seperti Variable Speed ​​Drives, panel HMI, dan relay elektronik.

Terakhir pabrik sensor seluas 10.300m2, sekitar 700 karyawan dan memproduksi sekitar 3.000 jenis peralatan sensor seperti sensor Induktif, sensor fotoelektrik, dan sakelar batas.

“Memberdayakan kompetensi lokal dan membina bakat juga merupakan faktor kunci keberhasilan dalam transformasi digital pabrik kami di Batam," kata Xavier.

Tim Schneider Electric di Batam, kata dia, telah berhasil merancang, mengembangkan, menguji dan menyebarkan beberapa solusi digital di seluruh jaringan manufaktur global perusahaan.

Terlebih lagi sejak tahun 2017, Schneider Electric telah memberikan kesempatan kepada siswa kejuruan dan politeknik Batam untuk berpartisipasi dalam mengembangkan aplikasi Smart Factory Batam melalui program magang digital.

Perusahaan ini telah menjadi mitra kerja Kementerian Perindustrian Republik Indonesia untuk pengembangan dan penerapan industri 4.0 sejak November 2018 dan mendapat penghargaan sebagai “Mercusuar Nasional dari Indonesia. "

Fadli Hamsani, Manajer Senior Transformasi Digital, Schneider Electric Manufacturing Batam berbagi tentang perjalanan transformasi digital di Industry 4.0.

Dengan digitalisasi, perusahaan dapat beralih dari reaktif ke proaktif, dari onsite ke mobile dan remote, dari situs ke situs dan dari jeterbatasan komputasi hingga kecerdasan buatan.

Melalui digitalisasi terdapat efisiensi dan kesinambungan energi maksimum, ketersediaan dan kinerja aset yang dioptimalkan, operasi menguntungkan yang produktif dan wawasan seluler, serta mitigasi risiko proaktif.

Dari Batam, Schneider Electric kini membangun Misi 2020, memiliki 100 pabrik pintar di seluruh industrinya di dunia.

Pada tahun 2018, meluncurkan 40 pabrik pintar dengan lima pabrik percontohan.

Sirichai Chongchintaraksa, Kinerja VP Supply Chain Asia Timur Jepang Pacific Schneider Electric mengatakan, “Kami memahami bahwa tidak mudah bagi organisasi untuk mengambil langkah pertama menuju IIoT. Namun, pabrik pintar Batam kami dapat menjadi praktik terbaik dan contoh manfaat digitalisasi manajemen energi dan otomasi dalam industri manufaktur dan membantu organisasi untuk memulai perjalanan digitalisasi mereka ”.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved