Kamis, 14 Mei 2026

Sinergi Tradisi dan Modal, Jatuh Bangun Kurnia Farm hingga Sapi 1,1 Ton Miliknya Dibeli Presiden

Kurnia Farm memadukan warisan leluhur dan modal KUR BRI, dari jatuh bangun hingga sapinya dibeli Presiden Prabowo.

Tayang:
Penulis: Khistian Tauqid | Editor: Karunia Rahma Dewi
Tribun Batam/Khistian Tauqid
PERJUANGAN KURNIA FARM - Nur Khozin menatap sapi ternak miliknya sebelum berukuran 1,1 ton dan dibeli oleh Presiden Prabowo untuk Hari Raya Idul Adha 2026. 

TRIBUNBATAM.id - Di tengah pesatnya modernisasi, Dusun Pagendingan di Desa Margosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, tetap teguh menjaga identitasnya. 

Dikenal luas sebagai "Kampung Sapi", dusun ini bukan sekadar pemukiman biasa. 

Di sini, niaga sapi bukan hanya mata pencaharian, melainkan warisan genetis yang mengalir dalam nadi warganya, khususnya di wilayah RW 4.

Ketangguhan ekonomi warga Pagendingan dalam mempertahankan bisnis peternakan dan perdagangan sapi ini ternyata memiliki dua pilar utama.

Kedua pilar yang di maksud adalah filosofi kerja keras warisan leluhur dan dukungan permodalan strategis dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Warisan Leluhur

Menelusuri sejarah Kampung Sapi membawa kita pada cerita-cerita heroik masa lalu. Wahyuni (61), atau yang akrab disapa Yuni, merupakan salah satu saksi hidup bagaimana dusun ini bertransformasi. 

Ia menjelaskan bahwa identitas sebagai pedagang sapi sudah melekat jauh sebelum teknologi transportasi menyentuh desa mereka.

"Kalau dulu dari buyut sudah jualan sapi, dari buyut, kakek, bapak saya sudah dagang sapi, istilahnya sebelum saya lahir kampung sini sudah jualan sapi," tutur Yuni saat diwawancarai pada Minggu (10/5/2026).

Yuni mengenang betapa beratnya perjuangan sang kakek buyut di masa lampau. 

Tanpa adanya truk pengangkut, proses distribusi sapi dilakukan secara manual dengan fisik yang tangguh.

"Malah dulu kalau kulak sapi digiring dari Purwodadi sampai Kendal, tiga hari sampai rumah. Kalau sekarang sudah ada truk bisa satu hari sampai," ujar Yuni membandingkan zaman dulu dan sekarang.

Ia juga memotret pergeseran sosiologis di dusunnya. Dahulu, bisnis ini adalah domain para "juragan" besar yang jumlahnya terbatas. 

Namun kini, berkat kemudahan akses modal, anak muda di Pagendingan mulai berani terjun meskipun memulai dengan modal yang terbatas.

"Kalau dulu yang perempuan jualan ceting, pergi ke sawah gitu. Laki-laki kebanyakan jualan sapi atau kerja ikut juragan (penjual sapi). Dulu yang jualan sapi cuma juragan-juragan sekitar lima sampai enam orang saja, kalau sekarang anak muda sudah jualan sapi," jelasnya.

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved