Ada 'Topi Awan' Di Atas Puncak Gunung Rinjani Lombok, Ini Penjelasan Fenomenanya
Fenomena unik terjadi atas puncak Gunung Rinjani Lombok, yang mana disebut 'topi awan'. Apakah nama fenomena ini?
TRIBUNBATAM.id - Ada fenomena unik yang terjadi atas puncak Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Fenomena itu adalah adanya awan yang menyerupai topi.
Diketahui bahwa Gunung Rnjani adalah gunung berapi yang tertinggi kedua di Indonesia.
Selain itu Gunung Rnjani yang statusnya masih gunung berapi yang aktif.
Awan yang bentuknya seperti topi menutupi kepala, masyarakat lokal menjulukinya topi awan.
Seperti diberitakan sebelumnya, topi awan bukanlah fenomena baru. Hal ini sering terjadi dan pernah terlihat di gunung Semeru, Merapi, Merbabu, Sindoro, dan Sumbing.
• Download musik MP3 lagu Calma Pedro Capo, Farruko, Alan Walker, Lengkap dengan Lirik Lagu
• Susi Pudjiastuti Beri Nomor Khusus Telepon Kepada Nelayan: Ada Pelanggaran di Zona Tangkap, Laporkan
• Begini Cara Ikutan Filter Age Challenge, Unggahan Wajah Terlihat Tua yang Lagi Hits
• Minggu Depan Komisi III DPRD Batam Panggil Bright PLN, Ini Agendanya!
Dalam dunia astronomi, fenomena seperti ini disebut awan lentikular.
"Itu awan lentikular, awan berbentuk lensa. Awan lentikular terbentuk akibat aliran naik udara hangat yang membawa uap air mengalami pusaran. Itu sering terjadi di puncak gunung," ungkap Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, Rabu (17/7/2019).
Marufin Sudibyo, astronom amatir Indonesia menambahkan, awan yang muncul sekitar pukul 7.00-9.00 WITA ini bersifat statis alias tak bergerak atau selalu menetap di satu tempat.
"Awan ini terbentuk saat aliran udara lembab menubruk suatu penghalang besar sehingga membentuk putaran stasioner," ungkap Marufin, Rabu (17/7/2019).
Ketika putaran stasioner terjadi, awan lentikular dapat bertahan selama beberapa jam hingga berhari-hari.
• Sinopsis Sinetron Orang Ketiga SCTV Rabu (17/7), Ivan Ambil Paksa Anak Rangga
Meski indah, Marufin berkata awan lentikular sesungguhnnya berbahaya.
"Awan lentikular yang terbentuk di puncak gunung menandakan sedang terjadi pusaran angin laksana badai di sana," ungkap dia.
Hal ini pun memiliki dampak bagi pendaki maupun pesawat yang melintas di atasnya.
Bagi pendaki gunung, hembusan angin saat terjadi awan lentikular bisa mendatangkan momok hipotermia. Sedang untuk pesawat, awan dan pusaran angin bersifat turbulen yang membuat pesawat terguncang hingga bisa kehilangan altitudenya dengan cepat.
Marufin menegaskan awan lentikular tak ada hubungannya dengan aktivitas gunung berapi atau potensi bencana gempa, apalagi tsunami.
"Tak perlu ditafsirkan macam-macam," imbau Marufin.
(*)
Artikel ini telah terbit di Kompas.com dengan judul Fenomena Topi Awan di Gunung Rinjani, Ini Penjelasannya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/17072019_gunung-rinjani.jpg)