Suhu Panas Membuat Seseorang Menjadi Pemarah, Baper & Sensitif, Ini Penyebabnya

Orang-orang akan menjadi pemarah dan mudah kesal di suhu yang hangat dan panas

Suhu Panas Membuat Seseorang Menjadi Pemarah, Baper & Sensitif, Ini Penyebabnya
Gita Laras Widyaningrum
Cuaca panas membuat kita mudah tersinggung dan marah 

TRIBUNBATAM.id - Orang-orang akan menjadi pemarah dan mudah kesal di suhu yang hangat.

Kenbapa bisa begitu ya?

Dilansir dari National Geographic, sebuah studi menemukan fakta bahwa hormon stres meningkat bersamaan dengan naiknya suhu. Penemuan ini memberikan cahaya segar atas fenomena yang selama ini membingungkan peneliti.

Disebut dengan “sendu musim panas”, ada banyak bukti dari beberapa dekade terakhir yang mengaitkan paparan cuaca panas dengan agresi, bunuh diri, dan kekerasan.

Tak Digubris, Bisikan Soeharto ke Soekarno Ini sebelum Tumbang Terbukti Saat G30S/PKI Terjadi

BI Pangkas Suku Bunga Acuan Sebesar 25 Basis Poin Jadi 5,75%

Di Batam, Peluang Kerja Bidang Perawatan Pesawat Udara Bakal Terbuka Lebar

Bingung Cari Penginapan Murah di Filipina? Reddoorz Sediakan Pemesanan Hotel Online

Saat ini, tim peneliti Polandia, menemukan bahwa jumlah hormon penyebab stres kortisol, lebih rendah di musim dingin dibanding musim panas. Dan kenaikan suhu membuat kita mudah tersinggung.

Ini bisa berimplikasi pada kesehatan kita karena hormonr tersebut penting untuk mengatur gula, garam, dan cairan ke seluruh tubuh.

Dr. Dominika Kanikowska, ahli patofisiologis di Poznan University of Medical Sciences, mengatakan, temuan mengenai cuaca panas membuat orang mudah emosi ini cukup mengejutkan. “Bertentangan dengan konsep tradisional yang megatakan bahwa musim dingin adalah yang terberat dan musim panas sangat santai,”  katanya.

Data asli yang pertama kali menghubungan suhu panas dengan kebencian berasal dari statistik kejahatan. Para analis menekankan, orang-orang sering terlibat kekerasan di musim panas – terutama ketika suhunya lebih hangat dari biasanya.

Bersama timnya, dr. Dominika Kanikowska, meneliti sekelompok mahasiswa kedokteran perempuan di dua hari terpisah, saat musim dingin dan panas. Mereka mengambil sampel air liur setiap dua jam sekali selama periode penelitian untuk mengukur jumlah kortisol dan tanda inflamasi.

Para partisipan juga diminta untuk mengisi kuesioner gaya hidup mengenai jadwal tidur, dite, dan aktivitas fisik mereka.

Penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan American Physiological Society ini menemukan fakta bahwa kadar kortisol lebih tinggi di musim panas. Sementara itu, tidak ada perubahan signifikan pada level inflamasi di kedua musim tersebut.

Kortisol disebut sebagai hormon stres karena ia dilepaskan ke aliran darah saat masa-masa sulit atau situasi yang mengecewakan.

 

Menurut dr. Kanikowska, hormon tersebut membantu mengurangi inflamasi dan penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan.

“Kadar kortisol biasanya tinggi di pagi hari dan menurun seiring berjalannya waktu, Jumlahnya semakin rendah di sore hari untuk mengatur pola tidur yang sehat. Penyakit, kurang tidur, dan beberapa obat bisa mempengaruhi kadar kortisol,” pungkasnya.  

Editor: Aminudin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved