Selain Filosofi Lamun Sira Sekti Aja Mateni, Jokowi Juga Suka Lento Makanan Khas Jawa
Presiden Jokowi memegang teguh 3 filosofi Jawa, simak juga makanan khas Jawa kesukaan ayah Kaesang Pangarep.
Penulis: Agus Tri Harsanto | Editor: Agus Tri Harsanto
"Kalau sudah diberi amanah ya bekerja keras untuk rakyat. Simple aja itu paling paling," jelas Jokowi.
"Ada filosofis khusus pak?" tanya pembawa acara.
Jokowi pun mengungkapkan tiga filosofi Jawa yang ia pegang teguh hingga saat ini.
"Jadi ada tiga. Pertama Lamun sira sekti, ojo mateni. Meskipun kamu sakti, jangan sekali-kali menjatuhkan.
Kemudian kedua adalah Lamun siro banter, ojo ndhisiki yang berarti meskipun kamu cepat, jangan selalu mendahului.
Dan ketiga adalah Lamun sira pinter ojo minteri. Meskipun kamu pintar, jangan sok pintar," ungkap Jokowi.
Dilansir kompas.com, Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP) Eko Sulistyo menjelaskan, "lamun sira sekti, aja mateni" memiliki arti langsung "meski anda sakti, tapi jangan membunuh".
"Tapi bila dialihbahasakan, 'lamun sira sekti, aja mateni' itu artinya, dia punya kekuasaan, tapi tidak lantas kemudian akan bertindak semena-mena," ujar Eko saat dihubungi, Senin (22/7/2019).
Apabila dikaitkan dengan konteks situasi politik hari ini, lanjut Eko, artinya Presiden Jokowi berikrar tidak akan bertindak semena-mena meskipun ia adalah pemenang pilpres 2019.
Presiden tidak merendahkan rivalnya yang kalah, Prabowo Subianto.
"Meskipun beliau sebagai pemenang tapi dia tidak merendahkan. Ini pesan moral dari nilai kepemimpinan Jawa," lanjut Eko yang dekat dengan Jokowi semenjak menjabat Wali Kota Solo tersebut.
Hal serupa disampaikan Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto.
Menurut Hasto, Jokowi ingin menekankan bahwa pemenang pilpres, ia tidak akan berlaku sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya.
"Ya kata 'lamun siro sekti ojo mateni' itu artinya mengandung pesan-pesan kemanusiaan dari Presiden Jokowi. Bagaimana pun juga kekuasaan tidak boleh dipakai untuk menindas," kata Hasto.
Hasto mengatakan, Indonesia beruntung memiliki seorang kepala negara yang memedomani nilai-nilai leluhur Jawa itu.