Jumat, 24 April 2026

Panas Menyengat Landa Jepang, 57 Tewas, 18 Ribu Orang Dirawat di Rumah Sakit

Gelombang panas yang melanda Jepang dalam sepekan terakhir telah menewaskan 57 orang dan 18 ribu lebih warga terpaksa dirawat di rumah sakit

mainicihi.com
Warga Jepang berusaha melindungi diri dari panas yang mencapai 35C. Dalam seminggu terakhir, 57 orang dilaporkan tewas dan belasan ribu orang dirawat di rumah sakit 

TRIBUNBATAM.ID, TOKYO - Gelombang panas yang melanda Jepang dalam sepekan terakhir telah menewaskan 57 orang dan 18 ribu lebih warga terpaksa dirawat di rumah sakit.

Secara keseluruhan, 18.347 orang dirawat di rumah sakit dalam sepekan terkait akibat serangan panas, naik tiga kali lipat dari minggu sebelumnya 5.664 orang.

Angka itu merupakan tertinggi kedua sejak cuaca panas akibat badai tropis tahun 2008, menurut Badan Manajemen Kebakaran dan Bencana Jepang.

Suhu di pusat Kota Tokyo dilaporkan melonjak hingga 32,5C pada jam 9 pagi.

Keputusan Tarif Baru Membuat Pasar Kacau-balau, AS Malah Tuduh China Manipulator Mata Uang

Daftar Penghargaan Piala Presiden 2018, Zulham Zamrun Pemain Terbaik, Madura United Tim Fairplay

Kaget Besok Ibu Negara Kunjungi Kampungnya, Warga: Jangankan Gubernur, Walikota Aja Belum Pernah

Warga lanjut usia di atas 65 tahun, menyumbang lebih dari setengah dari total warga Jepang yang harus mendapat perawatan kata pejabat kesehatan.

Pada hari Selasa pagi, Kyodo News melaporkan, pemerintah terpaksa melakukan pemadaman listrik dan menangguhkan beberapa layanan kereta api, setelah sembilan penumpang dibawa ke rumah sakit akibat sistem AC yang gagal di kereta api.

Warga berjalan di bawah uap air untuk melindungi cuaca panas di Tokto (Kyodo News)

Pemadaman listrik dilakukan pukul 8:30 pagi dan sejumlah kereta api dibiarkan teronggok di sejumlah stasiun di jalur yang dioperasikan oleh Keisei Electric Railway, serta Jalur Toei Asakusa dan Jalur Hokuso.

Mereka yang dibawa ke rumah sakit mengeluhkan gejala, mulai dari tangan mati rasa sampai pusing, tetapi semua dalam kondisi sadar, kata Pemadam Kebakaran Tokyo.

Menurut Keikyu Corporation, pengelola kereta api, AC di dalam gerbong tidak dapat digunakan sehingga penumpang hanya dapat membuka jendela atau mendekatkan diri di dekat kipas.

Ratusan penumpang memilih turun dari kereta api karena hal itu tidak memadai untuk mengurangi panas di dalam gerbong yang biasanya padat pada jam-jam sibuk.

“Sebuah pengumuman memberi tahu kami untuk membuka jendela, dan penumpang bekerja sama untuk melakukannya. Tetapi saya merasa takut ketika melihat orang-orang dibawa pergi dengan tandu,” kata seorang wanita 54 tahun yang telah berada di salah satu kereta.

Di stasiun kereta api Bandara Narita, staf Keikyu menyarankan orang-orang yang menuju ke Tokyo untuk menggunakan jalur atau bus Kereta Api Jepang.

Warga di jalanan melindungi tubuh mereka dari panas yang menyengat menggunakan payung, namun sejumlah jalur pejalan kaki, oleh pemerintah Tokyo, disemprot dengan uap air.

Peringatan untuk wisatawan

Para wisatawan yang datang ke Jepang juga telah diperingatkan untuk mengambil tindakan pencegahan ekstra untuk menghindari efek dari kenaikan suhu selama gelombang panas yang mencapai rekor.

Di antara 926 pos pemantauan di seluruh negeri, 340 melaporkan suhu di atas 30 derajat.

Kawasan Ichihara di Prefektur Chiba, dekat Tokyo, bahkan mencapai 35,7 derajat, diikuti oleh Obihiro di Hokkaido Jepang utara dan Ishikawa di Fukushima yang keduanya mencapai 35,5 derajat.

Suhu di Hokkaido mencapai 39,5 derajat pada hari Minggu, angka tertinggi yang pernah tercatat di bulan Mei di mana saja di Jepang dan suhu tertinggi yang pernah dilaporkan di prefektur. Tinggi sebelumnya adalah 37,2 derajat pada Mei 1993 di Prefektur Saitama, tepat di utara Tokyo.

Cuaca ekstrem di ujung utara Jepang, tetapi sekitar 60 persen dari semua stasiun pemantauan cuaca di seluruh negeri membukukan pembacaan 30 derajat atau lebih tinggi.

Gelombang panas mematikan Jepang sekarang diklasifikasikan sebagai 'bencana alam' oleh pemerintah Jepang.

Ada kekhawatiran khusus untuk wisatawan, terutama dari negara-negara dengan iklim yang lebih sejuk dan kurang lembab.

"Kami memberi tahu semua pelanggan yang mengunjungi gerai ritel kami bahwa mereka perlu mengambil tindakan pencegahan sebanyak mungkin," kata Kaori Mori, juru bicara biro perjalanan JTB Corp.

"Kami pikir komunikasi langsung adalah cara terbaik untuk menyampaikan pesan dan kami memberitahu orang-orang bahwa mereka perlu menutupi kepala atau memakai topi, serta minum banyak air untuk menghindari dehidrasi," katanya.

Turis Eropa di Jepang (Kyodo News)

Lebih dari 8,1 juta turis asing berbondong-bondong ke Jepang pada bulan Juni, Juli dan Agustus tahun lalu dan merupakan bulan-bulan tertinggi kunjungan.

Kementerian Lingkungan Jepang juga meluncurkan kampanye yang mendorong laki-laki untuk membawa payung, pelindung yang biasanya hanya akrab di kalangan wanita.

Kementerian mempromosikan konsep "higasa danshi", yang berarti “payung matahari pria”.

Anak-anak menyerbu air mancur di pusat kota untuk mendinginkan badan (Japan Times)
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved