Perang Dagang AS vs China

Perang Dagang AS vs China Berkobar, Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?

Bila tiga negara sudah mulai mengecap keuntungan dari perang dagang dengan proses relokasi perusahaan China, apa yang bisa dilakukan Indonesia?

Perang Dagang AS vs China Berkobar, Apa yang Harus Dilakukan Indonesia?
perang dagang China vs Amerika Serikat 

TRIBUNBATAM.ID, JAKARTA - Perang dagang AS vs China kembali berkobar setelah Presiden AS memutuskan penetapan tarif impor kedua bagi 300 miliar dolar AS produk China.

China membalas dengan menunda impor produk pertanian AS yang membuat Donald Trump tersudut karena pemilih utamanya, para petani, mulai blingsatan.

Berbagai perusahaan China mulai merelokasikan mayoritas operasional ke Malaysia, Vietnam dan Thailand.

Meskipun AS juga mulai mengancang-ancang untuk menerapkan tarif impor Vietnam, namun strategi tersebut membawa berkah pada tiga negara ASEAN tersebut.

China Cekal Seluruh Pilot Cathay Pacific yang Terlibat Demo Hong Kong

Galang Dukungan Internasional, Ratusan Demonstran Hong Kong Serbu Bandara

FOTO DAN VIDEO Kemeriahan Hari Kemerdekaan Singapura, Dari Parade Senjata Hingga Pesta Kembang Api

Perusahaan yang banyak melakukan relokasi, menurut Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, adalah perusahaan-perusahaan high technology.

Perusahaan-perusahaan tersebut tentu memiliki pertimbangan dalam melakukan relokasi, terutama soal infrastruktur.

"Yang dibutuhkan mereka itu seperti jalan dan pelabuhan untuk transportasi, lalu listrik. Apalagi industri hi tech ini sangat bergantung pada listrik. Selanjutnya adalah koneksi internet," kata Faisal seperti dilansir TribunBatam.id dari Kontan.co.id, Jumat (9/8/2019).

Dibandingkan dengan Indonesia, tiga negara tersebut dipandang Faisal lebih stabil. Itu yang menjadi pertimbangan perusahaan-perusahaan China untuk melakukan relokasi bukan ke Indonesia.

Hal lain yang menjadi sorotan adalah dari sisi harmonisasi tax atau aturan perpajakan sehingga Indonesia tidak menjadi pilihan bagi perusahaan-perusahaan asal Tiongkok.

Malaysia banyak menerapkan bebas biaya masuk untuk bahan baku. Ini menjadi keuntungan bagi perusahaan multinasional yang sangat bergantung pada lalu lintas ekspor impor.

Halaman
12
Editor: Alfian Zainal
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved