Sabtu, 16 Mei 2026

BJ Habibie Ingin Batam Jadi Pusat Dirgantara

Bapak Pembangunan Batam, BJ Habibie mengingatkan agar pengembangan Batam kembali pada fitrahnya, seperti di awal pembentukan dulu

Tayang:
TRIBUNBATAM.id/ARGIANTO
BJ Habibie Presiden RI ke-3 

TRIBUNBATAM.id - Bapak Pembangunan Batam, BJ Habibie mengingatkan agar pengembangan Batam kembali pada fitrahnya, seperti di awal pembentukan dulu.

Saat itu Batam diharapkan menjadi ujung tombak bagi perekonomian bangsa dan punya daya saing dengan negara lain.

Pengembangan Batam diharapkan pada industri berteknologi tinggi dan mampu menambah daya saing serta transfer ilmu ke penduduk lokal.

Pembangunan jembatan ini, bertujuan untuk menghubungkan wilayah Sumatera.

Supaya ada pemerataan ekonomi di masyarakat. Makanya dibuat jembatan yang paling baik.

Kisah Cinta BJ Habibie dan Ainun Tak Lekang Oleh Waktu

Impian Hj Ainun Habibie Dibalik Pembangunan Pollux Habibie Batam, Gedung Tertinggi di Indonesia

 

"Dibuat beberapa jembatan. Yang buat warga negara Indonesia," ujarnya.

"Saya buka pintunya. Kita butuh pertumbuhan ekonomi, pemerataan, pembagian rezeki," sambung Habibie.

Lebih lanjut, Habibie juga mengatakan, Batam harus lebih memperluas jaringan di era globalisasi saat ini.

"Di zaman globalisasi, kita tak bisa sendiri. Sudah jauh-jauh hari sejak 25 tahun kita mulai proyeksi ke arah situ. Dan sekarang Batam sudah lumayan lah," katanya.

 

Ingin Batam Jadi Pusat Dirgantara

Sebelumnya diberitakan, Presiden RI ke-3 BJ Habibie berkunjung ke Batam dan menegaskan kembali mimpi awalnya, untuk membangun industri dirgantara di Batam.

Batam akan dijadikan pusat produksi pesawat terbang, sehingga dapat menjadi penghubung untuk seluruh wilayah di Indonesia.

Saat pertama kali datang ke Batam, Bapak Pembangunan Batam ini sudah menyampaikan niatannya kepada Perdana Menteri Singapura saat itu, Lee Kuan Yew.

Ia ingin menjadikan Batam sebagai pusat industri dirgantara. Hal ini dipertegasnya saat datang lagi ke Batam.

"Saya datang kemari (Batam) bukan hanya untuk Pollux. Saya sudah putuskan untuk industri dirgantara pusatnya akan ada di Batam," kata Habibie, Senin (29/4/2019).

Untuk memproduksi pesawat terbang ini, Indonesia bisa bekerjasama dengan Singapura, atau Malaysia. Atau siapa saja sesuai kemampuannya.

 

"Kita sudah buktikan. Kita mampu membuatnya. Kita sudah kembangkan tiga pesawat terbang. Saya mau pindahkan kemari (Batam), dan semuanya high-tech," ujarnya.

Dikatakan, dalam pembuatan pesawat terbang, 40 persen bahan bakunya diproduksi Boeing, sedangkan 60 persennya diproduksi supplier.

"Tapi vendor companies harus bersaing. Dia akan datang sedekat mungkin di tempat yang nyaman, ada prasarana, ekonomi yang baik, ada sistem yang baik, peraturan yang baik, transparan dan seterusnya," kata Habibie.

 

Mengapa pesawat terbang?

Habibie menegaskan, dalam pembangunan dan pengembangan produk-produk di Indonesia dari Sabang sampai Merauke, infrastruktur menjadi hal penting.

"Kita tidak mungkin buat kereta api dari Sabang sampai Merauke. Karena 70 persen wilayah Indonesia lautan," ujarnya.

Tidak juga hanya bisa mengandalkan kapal laut. Karena hanya sampai pantai. Jalan satu-satunya, harus membuat pesawat terbang. Sementara jika mengimpor pesawat terbang dari luar negeri apalagi dalam jumlah besar, memakan biaya yang tinggi.

"Kita tak bisa impor pesawat terbang. Bagaimana bayarnya? Tak bisa dalam Rupiah. Kita harus bayar dengan valuta yang dikehendaki," kata Habibie.

Tinjau MRO Lion Air

BJ Habibie hanya memantau Maintennace Repair and Overhaul (MRO) Lion Air Nongsa Batam dari dalam bus. 

Sekitar pukul 09.30 Wib pagi Baharuddin Jusuf (BJ) Habibie beserta rombongan masuk dalam kawasan Maintennace Repair and Overhaul (MRO) Lion Air Nongsa Batam.

Iring-iringan kendaraan rombongan pun hanya memutar di depan MRO tersebut dan berjalan, serta berhenti di lahan yang masih menjadi kawasang MRO Lion Air

 Pantauan Tribunbatam.id, kendraaan mini bus yang digunakan Habibie beserta rombongan yang tepat di belakang kawalan mobil Polisi Militer pun hanya terparkir lurus sesuai iring iringan

Tidak terlihat satu orang pun yang keluar dari mobil tersebut.

Sekitar setengah jam lebih atau tepatnya pukul 10.16 Wib pagi, rombongan langsung meninggalkan lahan kawasan tersebut

Direktur Badan Usaha Bandar Udara Hang Nadim Batam, Suwarso yang saat itu tidak mengikuti rombongan usai peninjauan MRO menyampaikan, memang BJ Habibie tidak turun dari mobil

"Iya gak turun pak Habibie, hanya tadi kita mutar di depan MRO saja, dan di lahan tadi," katanya sambil menunjuk lokasi berhentinya rombongan tersebut, Senin (29/04/2019)

Disampaikannya, diskusi pun dilakukan di dalam minibus tersebut.

Suwarso menyebutkan, ada pesan yang disampaikan Presiden Indonesia ke tiga tersebut kepada Kepala BP Batam Edy Putra Irawady.

" Iya pak Habibie menyampaikan kepada kepala BP Batam, untuk terus dapat mengembangkan fasilitas yang ada di bandara," sebutnya.

Terkait MRO Lion Air tersebut, Suwarso menyampaikan, untuk lebih maju dan cepat dalam pengembangan MRO Lion Air.

"Kalau untuk MRO Lion Air, serta lahan ini agar lebih cepat pembangunannya. Maju terus, pak Habibie sangat mendukung," sebutnya kembali yang disampaikan BJ Habibie kepada Kepala BP Batam Edy. (tribunbatam.id/dewi haryati)


Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved