Sabtu, 11 April 2026

Hadapi Tekanan Pekerjaan, 24 Persen Pekerja di Singapura Jadi Korban Bullying

Kantar menunjukkan hasil survey terkait kehidupan pekerja di Singapura. Hasilnya, sebanyak 24 persen pekerja di Singapura merupakan korban bullying.

Instagram/singaporeworld
Singapura saat senja 

TRIBUNBATAM.id - Kantar, salah satu perusahaan di bidang penyediaan data dan konsultasi menunjukkan hasil survey tentang pekerja di Singapura.

Sebanyak 24 persen atau seperempat pekerja di Singapura ternyata telah menjadi korban bullying di tempat kerja masing-masing.

Dari data survei ini juga menunjukkan 32 persen karyawan di Singapura merasa tak nyaman dengan bos atau atasan mereka.

Mau Nonton Konser Shawn Mendes di Singapura? Ini Tips Dapatkan Tiket Pesawatnya

Perusahaan tersebut mengadakan survei melalui poling karyawan di 14 negara maju di dunia dalam hal praktik keberagaman dan inklusi (D&I) di tempat kerja. Hasil survei dirilis pada Selasa (17/9/2019).

Indeks inklusi perdana yang dikeluarkan Kantar tersebut membandingkan jawaban dari sebanyak 18.000 karyawan di 14 negara, termasuk 1.050 pekerja di Singapura, tentang pengalaman D&I mereka.

Indeks tersebut turut mencakup 24 bidang industri, termasuk kesehatan dan farmasi, pendidikan, layanan profesional seperti hukum dan akuntansi, perdagangan retail, grosir dan e-commerce, jasa keuangan, serta sektor publik.

Hasil survei tersebut juga menunjukkan bahwa banyak karyawan di Singapura yang berjuang menghadapi tekanan dalam pekerjaan.

Sebesar 44 persen karyawan di Singapura mengaku bahwa mereka dipengaruhi oleh "stres dan kecemasan" di tempat kerja. Angka tersebut di atas rata-rata global yang ada di tingkat 39 persen.

Sementara itu, Kanada menduduki peringkat teratas dalam keseluruhan indeks inklusi dalam survei Kantar. Hal tersebut didorong perwakilan gender di perusahaan-perusahaan negara itu, di mana lebih dari 40 persen peran senior ditempati perempuan.

Sekitar 65 persen atau dua pertiga karyawan di Kanada juga percaya bahwa perusahaan tempat mereka bekerja secaa aktif berusaha menjadi lebih inklusif dan beragam.

Kendati demikian, masih ada seperlima dari pekerja di Kanada yang mengaku pernah mengalami intimidasi dan bullying di tempat kerja mereka dalam setahun terakhir.

Menyusul Kanada dalam indeks inklusi dan keragaman versi Kantar adalah Amerika Serikat, yang memiliki perwakilan gender yang setara dan 30 persen perwakilan dalam hal etnis dalam kepemimpinan senior perusahaan.

Sekitar enam dari 10 pekerja di AS juga percaya bahwa perusahaan yang mempekerjakan mereka secara aktif berusaha menjadi lebih inklusif dan beragam, meskipun masih ada 17 persen yang mengaku mereka diintimidasi di tempat kerja.

"Masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menjadikan tempat kerja lebih inklusif, beragam, dan setara, terutama seputar masalah intimidasi, yang masih bertahan pada level tinggi di seluruh dunia," ujar Mandy Rico, direktur global dari Indeks Inklusi Kantar, dikutip The Straits Times.

Pencantuman indeks inklusi Kantar dan layanan konsultasi manajemen perubahan memungkinkan perusahaan untuk secara konsisten mengukur, menganalisis, dan bertindak untuk mengubah budaya bisnis mereka.

Naksir Dengan Batam, Investor Singapura Kembangkan Bisnis Properti dan Megaproyek

Timnas Brazil Akan Gelar Laga Uji Coba di Singapura Bulan Depan, Berikut Calon Lawannya

Lawan Kabut Asap, Singapura Tawarkan Bantuan ke Indonesia dan Bentuk Satgas

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Survei Tunjukkan 24 Persen Pekerja di Singapura Mengaku Pernah Di-bully di Tempat Kerja".

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved