BATAM TERKINI
Beralih Pertamax karena Tak Ada Premium, Pendapatan Driver Ojek di Batam Turun
Kesulitan mendapatkan BBM jenis pertalite dan premium, ikut dirasakan driver ojek online sebab menyebabkan pendapatan para driver turun.
Tak Ada Premium, Pendapatan Driver Ojek Turun
TRIBUNBATAM.id - Kesulitan mendapatkan BBM jenis pertalite dan premium, ikut dirasakan driver ojek online.
Kesulitan mendapatkan premium atau pertalite mempengaruhi pendapatan mereka.
Jumlah pendapatan bisa berkurang antara Rp 30 hingga Rp 50 ribu per hari.
"Bayangkan, saya pakai bensin (premium) setiap hari. Atas kelangkaan ini saya dan teman-teman driver lain terpaksa menggunakan Pertamax. Ini membuat kami rugi. Bisa merusak perekonomian khususnya kami ojek online ini," kata Wawan kepada Tribun, Rabu (9/10/2019).
Wawan mengatakan, pendapatan sebagai driver ojek online sekitar Rp120-200 ribu per hari, dengan sulitnya mendapatkan premium atau pertalite, dan harus menggunakan Pertamax, pendapatan menjadi berkurang.
Penggunaan BBM Pertamax tidak seimbang dengan tarif yang berlaku di aplikasinya.
"Misalkan ini, saya bolak-balik Batam Center ke Sekupang habis satu liter. Kalau bensin Rp6500, sementara harga Pertalite Rp8.000, bandingkan harga Pertamax Rp10.250, Pertamax Turbo Rp11.600. Selisih harga antara Rp1500-4500. Kalikan dalam sehari 12 jam kerja. Ini sebagai contoh saja," papar Wawan.
• Satgas Migas Gandeng Polisi Militer Awasi BBM Bersubsidi di Bintan, Akan Berkantor di Sejumlah SPBU
• SPBU di Batam Ini Tak Lagi Menjual Bensin (Premium), Cek Daftarnya di Sini
Martinus, driver ojek online lainnya juga merasakan hal yang sama. Ia mengatakan, kesulitan mendapatkan BBM jenis premium menambah beban ekonomi bagi dirinya. Membeli BBM di luar premium membuat pendapatannya sebagai driver ojek online menjadi tidak seimbang.
"Kita ingin solusi lah. Jika tetap pakai pertalite, kami minta tarif disesuaikan. Jika tidak, maka potensi demo driver aplikasi bisa saja terjadi," katanya.
Terlambat pengiriman
Jumlah kuota minyak yang diberikan pertamina kepada Stasiun Pengisian Bahan Umum (SPBU) di Kota Batam, kini sudah tidak sebanding dengan jumlah kendaraan yang ada.
Hal itu diduga menjadi penyebab terjadinya antrean panjang saat pengisian BBM.
Menurut Rizal, pengawas SPBUCodo, Perumnas Sagulung, sebenarnya tidak pernah terjadi kelangkaan BBM.
Yang membuat antrean panjang saat pengisian BBM terjadi karena keterlambatan pengiriman BBM oleh Pertamina.
"Kalau kelangkaan, tidak pernah terjadi. Hanya saja pengiriman minyak (BBM) sering terlambat . Ini yang membuat antrean pengisian selalu panjang," kata Rizal, Rabu (9/10).
Dia menjelaskan, jika stok minyak sempat habis, antrean langsung panjang begitu minyak datang.
"Ya biasanya mereka menunggu, begitu minyak datang masyarakat langsung ramai datang," kata Rizal.
Terkait kendaraan mobil mewah yang ikut membeli bahan bakar jenis premium yang bersubsidi, pihak SPBU tidak bisa membatasi.
"Kita ini hanya melayani pembelian minyak. Siapa pun yang datang kita layani," kata Rizal.
Meski begitu, kata Rizal, akhir-akhir ini sudah mulai banyak orang kaya di Sagulung, yang sadar diri.
"Kalau untuk premium, sudah mulai berkurang mobil mewah ikut antre, mereka mulai beralih beli pertalite," kata Rizal.
Di SPBU Codo Sagulung Batam, penjualan minyak untuk jenis Premium per hari mencapai 16 ton.
"Jumlah itu lumayan banyak. Makanya kalau sempat stok sebanyak itu habis, pasti begitu datang antrean langusung panjang," kata Rizal.
Terkait minyak jenis pertalite, menurut Rizal tidak pernah ada masalah.
"Pertalite ini kan bukan minyak subsidi, jadi berapa pun permintaan kita ke Pertamina, mereka berikan, beda dengan Premium dan Solar, kuotanya dibatasi," kata Rizal.
Untuk kouta solar, SPBU Codo hanya mendapatkan 18 ton dalam satu minggu.
"Solar itu pembeliannya tiga kali dalam satu minggu, sekali pembelian hanya diberikan kuota 8 ton," kata Rizal.
Antrean
Antrian panjang kendaraan roda dua dan roda empat saat mengisi BBM subsidi jenis premium langsung bubar di SPBU no 14.294.718, Batam Center, Rabu (9/10/2019) saat petugas memasang plang bertuliskan "premium dalam pengantaran".
Namun, saat BBM bersubsidi jenis Premium masih tersedia di SPBU ini, langsung dimanfaatkan sejumlah pengendara mengisi penuh tangki kendaraannya.
Seperti pengakuan seorang pengendara, Aji, yang mengaku sudah hampir satu minggu lebih kendaraan miliknya terpaksa diisi BBM nonsubsidi
"Mumpung ada premium, langsung diisi full tank, mas," kata Aji.
Antrian yang semula panjang bahkan mendekati jalan Raja Isa di SPBU 14.294.718 langsung sepi saat petugas SPBU memberitahukan pengendara premium sudah habis.
Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium sering dirasakan masyarakat Kota, apalagi beberapa waktu lalu sempat kosong, belakangan juga terjadi untuk BBM jenis pertalite.
Kuota BBM bersubsidi jenis premium di Kepulauan Riau (Kepri) dalam Sehari dialokasikan Pertamina sebesar 774 Kilo liter (KL)/ harinya sedangkan untuk penyaluran yang dilakukan sebesar 816 KL/harinya.
Tidak semua jual premium
Jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Batam ada sebanyak 39 unit. Dari data yang diberikan Pertamina, hanya sebanyak 3 SPBU yang sudah tidak menjual BBM jenis premium.
Tiga SPBU yang tidak menjual BBM jenis premium adalah SPBU BCS yang beralamat Jalan Bunga Raya, Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, Kepulauan Riau tepat berada di samping Mall BCS, SPBU Sei Ladi yang beralamat di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Baloi Indah, Kecamatan Lubuk Baja, Kota Batam, Kepulauan Riau dan SPBU Plamo Garden yang beralamat di Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Taman Baloi, Kec. Batam Kota, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Sisanya masih menyediakan BBM jenis premium bersubsidi. (ian/leo/arg/bob)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/2982019_gojek.jpg)