Senin, 18 Mei 2026

5 Cara Cegah Serangan Jantung, Penyakit yang Sebabkan Djaduk Ferianto Meninggal

Seniman Djaduk Ferianto meninggal karena serangan jantung, Rabu Pahing (13/11/2019). Begini cara mencegah penyakit jantung

Tayang:
Tribun Jogja/M Fathoni
Seniman etnik Yogyakarta, Djaduk Ferianto 

TRIBUNBATAM.id - Seniman Djaduk Ferianto meninggal karena serangan jantung, Rabu Pahing (13/11/2019).

Kabar Djaduk Ferianto meninggal disampaikan oleh sang kakak Butet Butet Kertaredjasa.

Butet Kertaredjasa mengungkap penyebab kematian almarhum.

"Karena serangan jantung. Maafkan Djaduk ya," kata seniman yang piawai menirukan gaya bicara Presiden RI ke-2 Soeharto.

Ya, Seniman asal Yogyakarta Djaduk Ferianto meninggal dunia pada Rabu (13/11/2019) pukul 02.30.
Djaduk meninggal dunia saat berada di rumah usai mengikuti rapat Ngayogjazz.

"Di rumah sempat tidur, lalu terbangun dan merasa kesakitan. Jam 02.30 meninggal di rumah," kata Board Creative Ngayogjazz Novindra Dirantara kepada Kompas.com, Rabu pagi.

Ia mengatakan, Djaduk masih terlihat sehat saat rapat Ngayogjazz bersamanya.

"Walaupun terlihat lelah," ujar pria yang akrab disapa Vindra tersebut.

Saat di rumah, lanjut dia, Djaduk Ferianto sempat terbangun dari tidurnya dan merasa kesakitan.

"Saat bangun beliau merasa kesemutan di tubuh dan bicaranya sudah enggak jelas," kata Vindra.

Data menunjukan hingga saat ini, penyakit kardiovaskular (penyakit jantung dan stroke) menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia.

Penyakit ini telah memakan korban sebanyak 17,3 juta orang setiap tahunnya.

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh National University Heart Centre Singapore (NUHCS) dan National Heart Centre Singapore (NHCS) mengungkapkan bahwa orang Asia mengalami penyakit jantung 10 tahun lebih muda dibanding dengan orang di belahan bumi bagian barat.

Pasien penyakit jantung dari Filipina memiliki usia rata-rata termuda yaitu pada usia 54 tahun, dibanding negara Asia lainnya yaitu Indonesia, 56 tahun; Taiwan, 63 tahun; Korea Selatan, 63 tahun; Jepang, 65 tahun dan Hong Kong, 68 tahun.

Sebagai pembanding, usia rata-rata pasien Eropa adalah 71 tahun. Di Indonesia, penyakit ini masih menjadi penyebab kematian tertinggi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved