BATAM TERKINI
Pengidap HIV/AIDS di Batam Didominasi Pekerja Industri yang Telah Berkeluarga
Komisi Penanggulangan HIV/Aids, Kota Batam, Daffi Liansyah menyebutkan, angka pengidap HIV di kalangan PSK jutru lebih kecil.
Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Septyan Mulia Rohman
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Banyaknya jumlah Ibu Rumah Tangga (IRT) yang pengidap penyakit Human Immunodeficiency Viruses (HIV) AIDS di Kota Batam akibat ditularkan sang suami.
Hal itu diungkapkan Komisi Penanggulangan HIV/Aids, Kota Batam, Daffi Liansyah.
Hingga saat ini, jumlah pengidap HIV di Batam lebih di dominasi pria pekerja industri dan ibu rumah tangga.
Berdasarkan survei yang dilakukan pihaknya, saat ini jumlah pengidap HIV di Batam didominasi oleh para buruh industri yang telah berkeluarga.
Hal itu dapat terjadi karena para buruh ini kerap 'jajan' diluar.
"Jadi analoginya itu, pekerja ini katakanlah sang suami 'jajan' atau berhubungan seks di luar kemudian pulang kerumah, lalu main sama istri. Tidak tahunya wanita yang dipakai di luar itu mengidap penyakit, akibatnya terjadilah penularan penyakit tersebut hingga ke keluarga," ujar Daffy Liansyah Minggu (1/12/2019).
Berbeda dengan Pekerja Seks Komersial (PSK), ia menyebutkan angka pengidap HIV diantara PSK justru kecil.
Hal itu dikarenakan pengetahuan dan pemahaman mereka akan bahaya dan cara mencegah penularan virus tersebut.
"Jadi ketika mereka akan melakukan hubungan seks dengan pelanggannya, para PSK ini sudah memahami fungsi alat kontrasepsi misalnya. Tanpa kondom mereka enggan melakukan," ucap Daffi Liansyah.
Daffi Liansyah juga mengajak warga Batam agar menjaga kesehatan terutama dalam penularan HIV/ AIDS dan menghindari perilaku penularannya.
Penularan itu bisa melalui darah, cairan kelamin dan air susu ibu. Cara penularan dapat dilakukan melalaui transfusi darah, kontak luka dan cairan kelamin seperti sperma melalui hubungan seksual di luar nikah.
"Jadi, HIV itu tidak mengenal orang. Semua kalangan bisa terkena. Dan semua orang bisa terhindar selama kita bisa menjaga dirinya, " ucapnya.
500 Orang Terjangkit Setiap Tahun
Setiap tanggal 1 Desember, dunia memperingati Hari AIDS atau Acquired Immune Deficiency Syndrome.
AIDS merupakan sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom akibat rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia.
Penyebabnya adalah virus HIV (Human Immunodeficiency Viruses).
Meskipun isu HIV/AIDS sudah menjadi isu internasional sejak puluhan tahun lalu dan menjadi salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah.
Namun virus ini terus mengancam di manapun, termasuk Kota Batam. Pasalnya, virus ini mudah menular dan hingga saat ini belum ada obat yang bisa mematikan virus ini.
Sejak ditemukan tahun 1981 di Sub-Sahara, Afrika, virus ini terus berkembang ke seluruh dunia, termasuk Kota Batam sendiri.
Dari data Dinas Kesehatan Kota Batam, sejak virus ini ditemukan pertama kali di belakangpadang, tahun 1992, tercatat sudah 6.727 orang yang terjangkit HIV dan 816 orang meninggal dunia.
Di Indonesia, ada 79 daerah prioritas epidemi AIDS sedang meluas. Provinsi Kepulauan Riau termasuk dalam delapan provinsi yang tingkat penyebaran HIV/AIDS.
Provinsi lainnya adalah Papua, Papua Barat, Sumatra Utara, Jawa Timur, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Dari tahun ke tahun, virus atau penyakit ini terus berkembang di Kota Batam, kata Kepala Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Batam, Pieter P. Pureklolong, Jumat (29/11/2019) sore.
“Kami mencatat perkembangan virus ini paling tinggi di Batam pada tahun 2012, 2013, 2014 dan 2015. Masing-masing tahun sekitar 500 orang yang terjangkit. Tidak hanya di Batam, penyakit atau virus ini di Indonesia bahkan di dunia pun juga terus naik,” ungkapnya saat ditemui TRIBUNBATAM.id.
Menurut Pieter, dari jumlah orang terjangkit HIV, sebanyak 2.501 orang sudah tergolong AIDS atau mengalami penurunan kekebalan tubuh.
“Jadi, ODHA (Orang Dalam HIV/AIDS) ini memang terus ada di Batam. Semakin secara sukarela mereka ikut tes untuk mengecek, maka akan ada pula kasus baru,” katanya.
Pieter menceritakan, virus ini pertama kali ditemukan di sebuah lokalisasi yang dikenal sebagai Mat Belanda, tak jauh dari Belakangpadang, seorang warga negara asing diketahui membawa virus ini ke lokalisasi tersebut.
Anggota KPA Daffi mengatakan jumlah pengidap HIV di Batam kian bertambah sekitar 500-600 orang per tahunnya.
Berdasarkan survei, kata Daffi, pengidap HIV/AIDs di Batam didominasi oleh parah buruh industri, disusul ibu rumah tangga.
Ibu rumah tangga ini tertular umumnya akibat perilaku seksual suaminya yang tidak sehat alias kerap “jajan” di luar.
“Analoginya itu, sang suami 'jajan' atau berhubungan seks di luar kemudian pulang ke rumah, lalu berhubungan intim dengan istri. Tidak tahunya wanita yang dipakai di luar itu mengidap HIV. Akhirnya, virus itu menular pada istri, bahkan bisa juga anak,” ujar Daffy menerangkan.
Buruknya lagi, penyakit ini tidak segera cepat diketahui, tetapi setelah merusak kekebalan tubuh sehingga penyakit lain mulai muncul.
Tidak sedikit orang yang mengidap HIV namun tidak mengetahui bahwa ia telah terkena virus itu.
HIV dan virus-virus sejenis, umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah.
Cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu akan menular sehingga tidak heran jika ibu rumah tangga dan anak-anak rentan dengan penularan virus ini.
Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.
UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali ditemukan. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian 4 juta jiwa dan seperlima diantaranya adalah anak-anak.
Stigma Sosial
Akibat buruknya stigma terhadap virus ini, hukuman sosial bagi penderitanya juga tak kalah buruknya dibandingkan penyakit lain.
ODHA selalu dikucilkan meskipun mereka sebenarnya bisa hidup normal bersama masyarakat lainnya.
Piter yang sejak satu dekade lalu memberi perhatian penuh kepada ODHA mengatakan bahwa mereka menjadi “the lonely people”, frustasi dan bahkan hanya ingin mati.
“Mereka ini merasa kesepian akibat penyakit yang dideritanya. Mereka juga takut terhadap persepsi masyarakat yang rata-rata meghakimi penyakit ini,” paparnya.
Pieter mengatakan, ketika ada orang lain perhatian dan peduli terhadap penyakit ini, ODHA ini merasa itu sebagai obat untuk memperpanjang asa hidupnya.
“Ada yang tidak dapat dimotivasi sehingga mereka pasrah dan tidak ingin berjuang terhadap penyakitnya, lalu meninggal,” sambungnya.
Pengalaman Pieter yang sudah bergaul dan terus memotivasi para ODHA ini, ketika ada orang yang positif HIV, hidup mereka langsung berubah 180 derajat.
Rata-rata kaget berat, dan akhirnya mengurung diri.
“Jika ini terjadi, pihak keluarga adalah pintu pertama yang bisa membuat hidupnya bisa lebih baik,” kata Pieter.
Piter mengatakan, sebenarnya virus ini tidak mudah menular karena juga tidak mudah untuk masuk ke dalam aliran darah manusia.
Bahkan, ada tahapan panjang sampai virus ini berkembang dalam sel darah manusia.
Proses penularan virus ini, kata dia, virus HIV harus keluar terlebih dahulu dari orang yang terjangkit, itu pun dalam keadaan cukup (sufficient).
Tak hanya itu, virus ini juga masih mengalami proses lain, yaitu survive (bertahan) setelah keluar dari tubuh orang yang terjangkit.
Terakhir, virus harus masuk ke sel darah atau tubuh orang lain sebelum akhirnya berkembang.
“Jadi, jika ada anggota keluarga, kawan atau warga di sekitar yang terjangkit virus ini, tidak perlu ditakuti karena sebenarnya tidak mudah menular begitu saja. Namun stigma sosial selalu saja menjadi vonis terberat kepada paqra ODHA ini,” kata Pieter.
Daffi mengatakan, dari para penderita HIV/Aids yang dibimbingnya, pekerjaan terberat adalah membangkitkan motivasi hidupnya. Sebab, mereka terus dirundung kecemasan dan rasa putus asa.(tribunbatam.id/bereslumbantobing)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/01122019_komisi-penanggulangan-hivaids-kota-batam-daffi-liansyah.jpg)