Guskamla Koarmada I Kumpulkan Penyedia Jasa Laut di Batam, Ini yang Dibahas

Sejumlah asosiasi pengguna laut dan jasa maritim yang berada di Batam dan Kepri dikumpulkan di Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada I

Guskamla Koarmada I Kumpulkan Penyedia Jasa Laut di Batam, Ini yang Dibahas
tribunbatam.id/ichwan nur fadillah
Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada I kumpulkan sejumlah asosiasi pengguna laut dan jasa maritim 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Sejumlah asosiasi pengguna laut dan jasa maritim yang berada di Batam dan Kepri dikumpulkan di Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada I, Senin (2/12/2019).

Agenda 'ngopi' bersama ini dalam memberikan sosialisasi terkait program safety sailing.

Komandan Guskamla Koarmada I, Laksamana Pertama TNI Yayan Sofiyan menyampaikan jika kegiatan ini merupakan momentum demi terjalinnya komunikasi antara pemangku keamanan laut dari berbagai instansi dengan para pengguna laut sehingga terbangun sinergitas yang baik.

Yayan juga mengatakan, Selat Malaka telah menempatkan kejayaan bagi Kerajaan Sriwijaya dahulu kala, sehingga akses perdagangan melalui jalur ini pun diharapkan dapat mengulang kejayaan itu.

Sebab, jalur Selat Malaka juga menjadi daya tarik bagi bangsa lainnya.

Perebutan akses penting jalur perdagangan dunia tersebut juga terjadi dari Portugis dengan Belanda.

Guna penguasaan secara mutlak, Belanda membentuk sejumlah kerajaan boneka untuk melakukan politik pecah belah “Devide Et Impera”.

Selat Malaka juga pernah menyandang predikat “The Most Dangerous Water in The World” pada era tahun 1990-2000 dan hal tersebut dapat ditepis setelah operasi keamanan laut berhasil mengatasi sejumlah aksi gangguan keamanan laut, dengan menggelar trilateral cooperation antara TNI AL, TLDM dan RSN.

"Upaya menciptakan keamanan laut yang kondusif tentunya juga sudah dilaksanakan sejumlah instansi secara terpadu melalui kegiatan Patkor Optima antara TNI AL, TLDM, Polairud, Unsur Bea dan Cukai, Imigrasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Bakamla RI," katanya.

Diakuinya, walaupun berbagai upaya telah dilaksanakan untuk menciptakan iklim yang kondusif dan rasa aman bagi para pengguna laut, sampai dengan saat ini belum memberikan konstribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat maritime maupun devisa negara.

"Hal tersebut dapat terlihat dari tingginya berbagai aktivitas pelayaran maupun industri kemaritiman di Sepanjang Selat Malaka masih didominasi Singapura dan Malaysia," katanya lagi. Lanjut dia, negara tersebut terus memicu pembangunan berbagai infrastruktur yang diperlukan guna menunjang pelayaran global dan industri kemaritiman dari berbagai sektor sepanjang Selat Malaka.

"Guna mengembalikan kejayaan masa lalu, kita semua tidak mungkin hanya menjadi penonton hiruk pikuknya sepanjang waktu menyaksikan aktivitas pelayaran yang padat, industri-industri kemaritiman yang terus menggeliat," tambahnya.

Katanya, tidak mungkin dilaksanakan secara partial namun harus dilaksanakan secara sinergis baik antar pemangku keamanan laut dari berbagai instansi dengan para pengguna laut maupun pelaku bisnis kemaritiman guna membangkitkan ekonomi maritim. 

(tribunbatam.id/ichwannurfadillah)

Penulis: Ichwan Nur Fadillah
Editor: Dewi Haryati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved