BATAM TERKINI
Krisis Air di Batam, BMKG Prediksi Curah Hujan Bakal Normal Mei Mendatang
BMKG Stasiun Meteorologi Hang Nadim memprediksi curah hujan di Batam bakal normal memasuki Mei mendatang.
BATAM, TRIBUNBATAM.id – Memasuki bulan Februari dan Maret 2020 merupakan waktu yang curah hujannya sedikit turun. Kasi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Hang Nadim Suratman menjelaskan, curah hujan yang sedikit turun tidak hanya terjadi tahun ini saja.
“Berdasarkan catatan grafik BMKG, sejak periode tahun 1995 sampai dengan 2018, bulan Februari dan Maret memang curah hujan paling sedikit,” kata Suratman, Jumat (6/3/2020) siang.
Hal ini disebabkan arah mata angin yang ada sekarang ini. Pola arah angin menurut pengukuran alat BMKG, bertiup dari arah timur laut ke Selatan. Sehingga penguapan lebih tinggi.
“Curah hujan ada saja, tapi kecil kemungkinan. Baru normal mungkin memasuki Mei,” katanya.
Seperti diketahui, sebagaimana rilis perusahaan air PT Adhya Tirta Batam (ATB), Dam Duriangkang yang merupakan sumber bahan baku air untuk Kota Batam menyusut. Karena itu, PT ATB memberlakukan abstraksi air baku Waduk Duriangkang melalui 3 Instalasi Pengolahan Air (IPA). Diantaranya IPA Duriangkang, dengan kapasitas 2.200 liter perdetik, IPA Tanjungpiayu dengan kapasitas 200 liter perdetik.
Per tanggal 5 Maret 2020, penyusutan volume air baku di Waduk Duriangkang telah mencapai minus 3,06 meter dari permukaan bangunan pelimpah. Pemerintah (BP Batam) memutuskan untuk melakukan penggiliran (rationing) di waduk Duriangkang.
• BERDOA Minta Hujan, Sekitar 600-an Orang Ikuti Salat Istisqa di BP Batam
• Antisipasi Krisis Air, BP Batam dan ATB Siapkan Alternatif
"Langkah ini akan mulai dilakukan pada Minggu kedua Maret 2020, dengan skenario 2-5. Artinya, operasional di waduk Duriangkang akan berhenti selama 2 hari, dan akan berjalan seperti biasa selama 5 hari dalam seminggu," jelas Head of Corporate Secretary ATB, Maria Jacobus.
Program penggiliran ini akan berdampak kepada sekitar 228.900 pelanggan yang dilayani melalui waduk tersebut. Tidak hanya berdampak pada 196.000 pelanggan domestik, penggiliran suplai juga akan berimbas pada 2.900 pelanggan industri dan 30 ribu pelanggan komersil.
Adapun daerah yang akan terdampak penggiliran meliputi Tanjungpiayu, Mukakuning, Sagulung, Batuaji, Tanjunguncang, Marina, Batam Centre, Nagoya, Jodoh, Bengkong, Batuampar, Kabil, Punggur dan sekitarnya. Pelanggan akan mengalami pemulihan suplai setelah Instalasi Pengolahan Air (IPA) kembali beroperasi.
Waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan suplai air pasca penggiliran sangat tergantung kepada perilaku konsumen. ATB berharap, konsumen yang ada di area hulu (berdekatan dengan Instalasi Pengolahan Air) lebih bertoleransi, agar pengguna yang berada di ujung pipa atau tempat yang tinggi dapat segera mendapat aliran air setelah penggiliran selesai.
(tribunbatam.id/leo halawa)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/06032020istisqa2.jpg)