Rawan Bencana, BPBD Catat 25 Kasus Kebakaran di Anambas Sejak 2016 Hingga 2019

Sebanyak 25 kasus kebakaran terjadi di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri selama tahun 2016 hingga 2019.

tribunbatam.id
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Anambas, Islam Malik. 

ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Sebanyak 25 kasus kebakaran terjadi di Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepri selama tahun 2016 hingga 2019.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Anambas mencatat, Desa Putik, Payamaram serta Desa Ladan di Pulau Matak pernah terjadi angin puting beliung.

Dimana Desa Putik sebanyak 2 kali serta Desa Payamaram dan Desa Ladan masing-masing satu kali.

Selain itu, angin puting beliung tercatat pernah terjadi di Desa Teluk Siantan, Kecamatan Siantan Tengah sebanyak 1 kali, serta di Kecamatan Siantan Timur masing-masing di Desa Nyamuk sebanyak 1 kali, serta Desa Munjan sebanyak 2 kali.

Data yang dihimpun juga mencatat, ada 3 kejadian ambruknya rumah akibat abrasi di 3 kecamatan selama tahun 2017. Dampak dari kejadian itu, rumah warga rusak akibat puting beliung ada 19 unit.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Anambas, Islam Malik, AMK mengungkapkan, yang menjadi persoalan di Kabupaten Kepulauan Anambas yakni ketersediaan air bersih saat memasuki musim kemarau.

Hal ini disebabkan oleh kurangnya daerah resapan air di Anambas. Kondisi ini selalu terjadi setiap tahunnya terutama pada musim panas.

"Saat musim hujan biasanya Kecamatan Jemaja timur terendam banjir karena hujan yang tinggi, ada dua desa yang terkena banjir yaitu Desa Ulu Maras dan Desa Bukit Padi. Akibat banjir ini ada 9 rumah yang terendam air dengan total masyarakat sebanyak 32 jiwa. Akibat dari bencana yang berpotensi terjadi setiao tahun, maka dibentuklah BPBD yang akan menanggulangi bencana daerah," ucapnya, Kamis (12/3/2020).

Pihaknya mengakui, terdapat sejumlah kendala mulai dari kondisi geografis yang memisahkan pulau - pulau dari ibu kota kabupaten, terbatasnya gudang logistik dan buffer stock logistik, kondisi cuaca buruk, tidak tersedianya alat komunikasi seperti radio, terbatasnya jumlah tenaga terampil, dan terbatasnya peralatan dan kendaraan penanggulangan bencana.

"Maka dari itu perlu meningkatkan peran relawan dalam kegiatan penanggulangan bencana daerah," ujarnya.

Halaman
1234
Editor: Septyan Mulia Rohman
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved