BATAM SIAGA CORONA
Malaysia Putuskan Lockdown Akibat Corona, Ini Dampak Terburuk Terhadap Ekonomi Batam
Kebijakan lockdown di Malaysia sampai 31 Maret 2020 bisa berdampak buruk terhadap ekonomi Batam. Ini sebabnya.
Malaysia Putuskan Lockdown Akibat Corona, Ini Dampak Terburuk Terhadap Ekonomi Batam
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Wakil Koordinator HKI Kepri, Tjaw Hioeng mengatakan, kebijakan lockdown di Malaysia sampai 31 Maret 2020 yang mengakibatkan semua kegiatan operasional pabrik di Malaysia diliburkan akan berdampak buruk ke Indonesia khususnya Batam.
Dia mengatakan, kondisi ini akan mengancam keberlangsungan beberapa industri di Batam yang bahan bakunya dipasok dari Malaysia.
"Semoga lockdown di Malaysia tidak berkepanjangan, karena persediaan stock bahan baku di Batam hanya bertahan sampai April saja. Dengan sisa 1 bulan stok, membuat perusahaan menjadi was-was dan khawatir akibat lockdown ini," harap Tjaw.
Menurutnya apa yang ia sampaikan 2 minggu yang lalu saat pertemuan di BP Batam bahwa second wave of disruption akhirya menjadi kenyataan.
Bukan penyebaran virus corona saja yang ditakutkan, tapi pergerakan barang dan lalu lintas orang ini yang menjadi momok bagi dunia industri.
"Untung saat ini China sudah beroperasi walaupun hanya 50 persen dan sudah cukup membantu, tapi kita lihat negara-negara di Eropa, ASEAN dan Amerika mulai mengganas," ujar Tjaw.
Ia menambahkan, perekonomian secara global sangat terpukul dengan kebijakan lockdown beberapa negara di Eropa seperti Italy, France, Denmark dan Spanyol yang notabenenya banyak pasokan bahan baku dan tujuan export selain China, Korea, Jepang dan negara-negara di Asean.
"Menurut saya, kita saat ini menghadapi fase tersulit dari semua resensi ekonomi yang terjadi selama ini. Tapi kita harus percaya bahwa semuanya pasti akan berlalu dan kita harus menang melawan semua ini," katanya.
Selain itu, pemberlakuan wajib karantina selama 14 hari oleh Pemerintah Singapura juga sangat memukul semua sektor perekonomian di Batam termasuk sektor industri manufacture.
Pasalnya, ada sebanyak 6.552 para ekspatriat dari berbagai jabatan mulai Presiden Direktur, General Manager, Manager Produksi sampai engineer yang bekerja di Batam.
Karena faktor kedekatan antara Batam-Singapura dan Batam-Malaysia, mereka sering bolak-balik seperti antar negara.
"Mereka biasanya masuk Senin dan kembali ke Singapura hari Jumat," ujar Wakil Koordinator HKI Kepri, Tjaw Hioeng, Rabu (18/3/2020).
Singapura baru merelease berita terkait wajib karantina Minggu (15/3/2020) lalu dan pemberlakuannya mulai Senin (16/3/2020) pukul 23.59 WIB.
Ia menilai, tentu para ekspatriat tersebut sudah berada di Singapura.
"Kebanyakan tidak ada yang datang ke Batam. Ini sangat berdampak pada operasional perusahaan sehari-hari. Walaupun sampai saat ini belum ada perusahaan yang merumahkan karyawannya. Bisa dibayangkan kalau sempat terjadi permasalahan di wilayah produksi," tuturnya
Supervisor, katanya, pasti kebingungan menghandle karena superiornya tidak berada di tempat.
"Tentu tidak bagus untuk efek ke depannya," katanya. (Tribunbatam.id/Roma Uly Sianturi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/video-tank-baja-di-jalanan-di-malaysia-virla-di-medsos.jpg)