Jumat, 5 Juni 2026

TRIBUN WIKI

PENYEBAB dan Gejala Bronkiektasis, Kerusakan Paru-paru yang Tak Bisa Diobati

Bronkiektasis adalah suatu kondisi bronkus dan saluran pernapasan rusak, melebar, dan menebal secara permanen.

Tayang:
IST
Ilustrasi paru paru 

TRIBUNBATAM.id - Paru-paru merupakan salah satu organ terpenting dalam tubuh manusia.

Organ ini berfungsi sebagai tempat pertukaran oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah.

Di samping itu, paru-paru juga merupakan organ yang rentan terkena gangguan bila tidak dijaga dengan baik.

Organ ini sering menjadi sasaran infeksi, baik infeksi jamur, infeksi mikoplasma, hingga infeksi virus.

Hal tersebut bisa membuat paru-paru mengalami kerusakan.

Salah satu kondisi rusaknya paru-paru adalah bronkiektasis.

Dilansir dari Tribunnews Wiki, bronkiektasis adalah suatu kondisi bronkus dan saluran pernapasan rusak, melebar, dan menebal secara permanen.

Kerusakan tersebut memungkinkan bakteri dan lendir menumpuk dan menyatu di dalam paru-paru.

Sistem pernapasan memiliki mekanisme perlindungan untuk menangkap bakteri dari udara yang dihirup oleh tubuh manusia dengan memproduksi mukus atau lendir.

Normalnya, lendir ini akan dialirkan keluar dari saluran pernapasan dan paru-paru.

Namun, pada penderita bronkiektasis, kerusakan yang terjadi menyebabkan fungsi tersebut tidak berjalan baik sehingga lendir menumpuk di dalam paru-paru.

Tidak ada obat untuk bronkiektasis, namun Anda dapat melakukan perawatan, dengan perawatan, Anda akan bisa hidup normal.

Namun, jika kambuh harus ditangani dengan cepat untuk menjaga aliran oksigen ke seluruh tubuh Anda dan mencegah kerusakan paru-paru lebih lanjut.

Penyebab

Bronkiektasis dapat disebabkan oleh:

1. Infeksi pernafasan

- Campak

- Tuberkulosa

- Infeksi mikoplasma

- Infeksi jamur

- Infeksi adenovirus

- Pertusis

- Infeksi bakteri seperti Staphylococcus, Klebsiella, dan Pseudomonas br.

2. Penyumbatan bronkus

- Benda asing yang terisap

- Tumor paru

- Pembesaran kelenjar getah bening

- Sumbatan oleh lendir

3. Cedera penghirupan

- Menghirup partikel makanan dan getah lambung

- Cedera akibat gas, asap, dan pertikel beracun

4. Keadaan genetik

- Fibrosis kistik

- Kekurangan alfa -1-antitripsin

- Diskinesia silia, termasuk sindroma Kartagener

5. Kelainan imunologik

- Kekurangan koplemen

- Disfungsi sel darah putih

- Sindroma kekurangan imunoglobulin

- Kelainan autoimun atau hiperium tertentu seperti kolitis ulserativa dan rematoid artritis.

6. Keadaan lain

- Penyalahgunaan obat seperti heroin

- Sindroma Marfan

- Infeksi HIV

- Sindroma Young (azoospermia obstruktif)

Gejala

Gejala bronkiektasis sering kali baru muncul berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah penderita mengalami infeksi saluran pernapasan yang kambuhan.

Gejala yang paling sering muncul adalah:

- Batuk disertai dahak berwarna bening, kuning pucat, atau kuning kehijauan, yang terjadi setiap hari.

- Batuk berdarah.

- Infeksi saluran pernapasan yang kambuhan.

- Sesak napas.

- Mengi atau bengek.

- Nyeri dada.

- Berat badan turun.

- Perubahan bentuk pada ujung kuku jari (clubbing fingers).

Diagnosis

Pada awal pemeriksaan, dokter akan menanyakan gejala yang dialami oleh pasien, misalnya seberapa sering batuk dan apakah batuk disertai dahak.

Dokter juga akan menanyakan obat yang sedang dikonsumsi dan apakah ada penyakit lain yang sedang atau pernah diderita.

Selanjutnya, dokter akan mendengarkan suara di paru-paru pasien menggunakan stetoskop.

Suara napas yang dihasilkan oleh saluran pernapasan penderita bronkiektasis biasanya tidak normal.

Guna mengetahui penyebab bronkiektasis dan menyingkirkan kemungkinan gejala disebabkan oleh penyakit lain, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang yang meliputi:

- Pemeriksaan darah, untuk mendeteksi kemungkinan infeksi.

- Pemeriksaan dahak, untuk mengetahui ada tidaknya bakteri atau jamur dalam dahak.

- Pemeriksaan fungsi paru-paru, menggunakan spirometri.

- Pemeriksaan skrining autoimun, untuk memastikan apakah bronkiektasis disebabkan oleh penyakit autoimun.

- Pemeriksaan sampel keringat, untuk mengetahui kemungkinanan bronkiektasis disebabkan oleh cystic fibrosis.

- Rontgen atau CT scan pada paru-paru, untuk melihat kondisi paru-paru dan saluran pernapasan.

- Bronkoskopi, untuk melihat apakah terdapat sumbatan atau perdarahan pada saluran pernapasan. (TRIBUNBATAM.id/WIDI WAHYUNINGTYAS)

Sumber: TribunnewsWiki
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved