VIDEO - Klinik Sepatu Doli Bertahan saat Gempuran Dampak Covid-19 di Batam
Gempuran dampak virus Corona memukul berbagai jenis usaha, termasuk usaha 'klinik sepatu' di Batam.
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Gempuran dampak virus Corona memukul berbagai jenis usaha, termasuk usaha 'klinik sepatu' di Batam.
Selama ini, sepatu rusak seringkali tak lagi bernilai fungsional atau pun estetis bagi kebanyakan orang.
Apabila sepatu sudah jebol atau tak lagi bisa dipakai, maka pilihannya hanya dua, yaitu membuang atau memperbaikinya seperti sedia kala.
Meski demikian bagi sebagian kecil orang, sepatu rusak justru menjadi benda yang amat berharga.
Sebab, dari sepatu rusak itulah sumber pendapatan mereka berasal.
Dari tangan-tangan terampil para tukang sol sepatu, sepatu rusak bisa mendatangkan rupiah bagi mereka yang dapat menyulapnya seperti baru lagi.
Ya, Doli Saragi adalah salah satu dari sedikit tukang sol sepatu yang akhir-akhir ini keberadaannya semakin langka.
Tak lagi menjajakan jasa reparasinya dengan berkeliling komplek atau pasar, Doli membuka lapak sendiri di pinggir jalan kawasan Tiban Center, Sekupang, Batam.
Lapak Doli dibangunnya dengan bermodalkan mobil usang miliknya.
Di sekeliling badan mobil, terpasang spanduk merah bertuliskan: "Klinik Sepatu & Tas", tulisan yang cukup mencolok bagi para pengendara yang melintas di jalan raya Gajah Mada siang itu (11/4/2020).
Kap mobil Doli yang terbuka memperlihatkan timbunan sol-sol sepatu dan alat reparasi yang dimilikinya.
Sementara itu, dengan menggelar tikar di samping semak rumput, Doli cekatan memutar baut alat reparasinya untuk menyelesaikan pesanan sepatu pelanggan.
"Sepatu yang ini minta dibesarkan dua nomor, sudah 4 hari saya mengerjakannya," ujar Doli.
Ia mengaku, baru 3 hari membuka lapak kecil di kawasan Tiban Center itu, sejak Kamis lalu.
Mulanya, ia membuka usaha di wilayah Batam Center depan pasar Mitra Raya dengan bermodalkan mobil lori yang disulap jadi lapak reparasi, dibantu oleh tiga orang pegawai.
Biasanya, ketika ramai, lapaknya bisa didatangi sedikitnya 7 sampai 15 orang pelanggan. Dari jumlah itu, ia mampu membawa pulang uang sebesar Rp 700 ribu per hari.
Akan tetapi, dampak wabah Covid-19 akhir-akhir ini membuat jumlah pelanggan jasa reparasinya menurun.
Akibat sepi, ia bahkan harus merumahkan salah satu pegawai karena berkurangnya keuntungan yang didapat.
Akhir-akhir ini, bisa memperoleh uang Rp 200 ribu saja ia sudah bersyukur.
"Tiga pegawai saya biasanya jaga di depan Mitra Raya, tapi karena sepi, terpaksa harus merumahkan satu orang," tambahnya.
Dampak Covid-19 yang membuat usahanya sepi tersebut juga menjadi alasan baginya membuka peruntungan baru di kawasan Sekupang.
Selama tiga hari ia membuka usaha klinik sepatunya di pinggir jalan Tiban Center itu, ia baru meraup sedikit keuntungan.
Untuk satu kali reparasi sepatu dan koper, ia menetapkan harga sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 50 ribu.
Terkadang jika sedang apes, hasil reparasinya berulang kali dikembalikan oleh pelanggan yang kurang puas. Tetapi bagi Doli, hal itu merupakan resiko dan kewajiban pekerjaannya semata.
Pria 47 tahun ini berpesan, untuk selalu gigih bekerja dan jangan berputus asa bagi mereka yang ingin memulai usaha.
Dirinya sendiri sudah memulai usaha reparasi sepatu sejak usianya 17 tahun.
Bakat dari Kakek
Berawal dari bakat turun temurun yang diperolehnya dari sang kakek, ia memutuskan untuk merantau ke Batam sejak 1998 sebagai tukang sol sepatu.
Sesampainya di Batam, sebagai anak rantauan, Doli sempat tergiur oleh cerita-cerita kesuksesan para TKI yang bekerja di Malaysia.
Kala itu, ia memiliki harapan dan keyakinan yang besar akan memperoleh kesuksesan dengan membuka jasa reparasi sepatu di negeri jiran tersebut.
Alhasil, di tahun 1999, ia nekat mengikuti pelayaran menuju Malaysia hanya dengan berbekal uang Rp 200 ribu dan tas berisi jarum dan alat-alat reparasi lainnya.
Di dalam sebuah kapal kecil, ia harus berdesak-desakan bersama 71 orang penumpang lain seperti dirinya.
Doli mengenang, perjalanannya menuju Malaysia ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.
Sesampainya di Mersing, status penumpang Doli sempat dipertanyakan oleh polisi perairan Malaysia.
"Saya dikira belum beli tiket kapal, dan disuruh balik lagi ke Batam, perahu kami sampai didorong-dorong pakai tongkat," kenang Doli.
Berkat kegigihannya, Doli pun enggan bertolak balik ke Batam. Ia merasa telah mengeluarkan uang dan tenaga yang tidak sedikit untuk pelayaran tersebut.
Alhasil, Doli pun melompat dari perahu dan memilih untuk berenang sendiri menuju pesisir. Seluruh baju dan tas bawaannya basah kuyub.
Seolah tak cukup mendapat kesialan, Doli juga sempat tersesat di dalam hutan dalam perjalanannya menuju pusat kota. Kelaparan dan kehausan sudah menjadi teman perjalanannya saat merantau di negeri jiran Malaysia sebagai tukang sol sepatu.
"Tapi saya tidak putus asa, saya jalan terus. Sehari-hari makan biji sawit, dan minum air dari longkang. Akhirnya saya ketemu rombongan, dan beberapa waktu kemudian sempat merasakan bekerja di perkebunan sawit, sebelum jadi tukang sol di kota," ujarnya.
Saat ini, usaha sol sepatu Doli di Malaysia masih berjalan. Berkat kerja kerasnya, ia mampu menyewa tempat usaha yang kini dikelola oleh kerabatnya sendiri.
Dari usaha ini, Doli bersyukur mampu menghidupi keluarganya yang terdiri dari seorang istri dan 4 orang anak sampai saat ini.
Salah satu anak perempuannya bahkan hendak melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat ini.
"Buat saya, yang penting usaha dan kerja keras. Jangan pernah berputus asa, karena selalu ada jalan bagi setiap permasalahan," tambah Doli sembari memasang alat reparasi pada sepatu pelanggan.(TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/klinik-sepatu-batam.jpg)