Sabtu, 18 April 2026

Ini 4 Mitos Penerbangan Terkait Kondisi Cuaca yang Tidak Terbukti Kebenarannya

Moda transportasi ini menjadi satu di antara moda transportasi tercepat yang dapat digunakan masyarakat.

|
pexels.com
Ilustrasi liburan ke luar negeri dengan menggunakan pesawat terbang. 

John Hansman, seorang profesor aeronautika dan astronotika dan direktur International Center for Air Transportation di MIT, mengatakan kepada majalah TIME pesawat komersial sebenarnya telah dirancang sedemikian rupa untuk mampu menghadapi sambaran petir.

Bahkan, kali terakhir kecelakaan pesawat komersial Amerika Serikat yang disebabkan oleh petir terjadi pada 1967.

Sejak itu, pesawat udara telah diuji secara lebih ekstensif dan dibuat lebih tahan terhadap sambaran petir, menurut Scientific American.

3. Pilot selalu bisa melihat adanya turbulensi.

Ketika tanda sabuk pengaman menyala di tengah-tengah penerbangan dan pilot mengumumkan penerbangan sedang menuju jalur penerbangan yang berguncang-guncang, itu mungkin akan membuat kamu merasa santai karena berpikir pilot pasti tahu akan adanya turbulensi.

Namun, memprediksi turbulensi (dari sudut pandang pilot sekalipun) bukanlah pekerjaan yang mudah.

Karena turbulensi bersifat hiper-lokal, itu membuatnya lebih sulit untuk dideteksi daripada badai, menurut Helix, sebuah majalah dari Northwestern University Research Center.

Meskipun NOAA Aviation Weather Center menawarkan prediksi turbulensi, kantong udara dan angin yang dapat menyebabkan turbulensi di lokasi tertentu tidak selalu bisa diprediksi.

4. Turbulensi hanya disebabkan oleh badai.

Turbulensi adalah konsep yang sulit untuk dipahami karena melibatkan banyak variasi yang berbeda.

Misalnya, ada empat tingkat turbulensi - ringan, sedang, berat, dan ekstrem.

Dan, ada empat penyebab utama, yakni faktor mekanis, termal, frontal, dan angin, menurut National Weather Service.

Meskipun turbulensi paling terkait dengan kantong suhu udara yang berbeda dan perubahan dalam kecepatan dan arah angin, medan yang dilewati pesawat juga dapat memainkan faktor besar.

Misalnya, udara bergerak naik, turun, dan di sekitar lereng gunung kadang-kadang dapat menyebabkan turbulensi yang parah bagi pesawat yang melakukan perjalanan di atas pegunungan, menurut National Weather Service.

Kategori turbulensi ekstrem utamanya terjadi ketika pesawat terbang yang menaiki inti badai, yang sebisa mungkin dihindari pilot.(TribunTravel.com/Rizki A. Tiara)

 
Artikel ini telah tayang di TribunTravel.com dengan judul 4 Mitos Penerbangan Terkait Kondisi Cuaca yang Tidak Terbukti Benar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved