APD Buatan Indonesia Laris Manis, Pesanan Datang Dari Sejumlah Negara Dari 4 Benua
Pan Brothers adalah perusahana go public dengan kode saham di bursa PBRX, perusahaan garmen kualitas internasional, juga memproduksi APD.
TRIBUNBATAM.id - Alat Pelindung Diri (APD) Buatan Indonesia laris manis ditengah Pandemi Corona.
Pesanan datang dari sejumlah negara di 4 Benua.
Masyarakat dunia tengah sibuk menghadapi pandemi virus Corona 2019 atau Covid-19.
Data sampai Kamis (22/4) pukul 17.30 WIB, penyakit yang berawal dari Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, China, itu telah positif menulari 2,57 juta, dan menewaskan 178 ribu jiwa.
• Selingkuh Dengan Istrinya, Pria ini Bacok Sodaranya di Pinggir Jalan Hingga Tewas
• Bantu Warga Terdampak Corona, ACT Kepri Buat Operasi Makan Gratis untuk Pekerja Harian di Batam
• Pelaku Pembacokan Satu Keluarga Ditangkap, Polisi Masih Dalami Motif Pelaku
Di Indonesia, 7.418 tertular dan mengakibatkan 635 jiwa meninggal dan sembuh 913 pasien. Untuk mencegah dan menanggulangi penularan itu, masyarakat memborong alat pelindung diri (APD) sehingga sampai terjadi kelangkaan, dan akhirnya mengimpor.
Pertanyaannya, apakah kecukupan APD benar masih mencukupi di dalam negeri.
Vice Chief Executive Officer PT Pan Brothers Tbk Anne Patricia Sutanto juga menjabat Wakil Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mengungkapkan kemampuan perusahaan dalam negeri untuk memasok APD, kualitas dunia.
• Merasa Dijadikan Sapi Perah, Pria Ini Habisi Nyawa Istri Sirihnya, Kepala Korban Dipukul Broti
• Jelang Ramadan Harga Komoditas Pangan Normal, Jumlah Pembeli Justru Menurun
Pan Brothers adalah perusahana go public dengan kode saham di bursa PBRX, perusahaan garmen kualitas internasional, juga memproduksi APD.
Bisnis bidang apa yang selama ini ditekuni Pan Brothers?
Kami memang eksis di garment export untuk outer-wear dan lifestyle. Tapi fokus kami memang untuk ekspor. Untuk perusahaan garmen kami eksis juga di Asia Tenggara dan Asia. Seluruh pabrik kita di audit dan rata-rata sudah ISO (International Organization for Standardization) 9001. Fokus kami saat ini selain untuk garment export, kami beberapa minggu ini sibuk mengerjakan masker.
Bagaimana cerita awalnya, mengapa Pan Brtohers terjun dan memproduksi masker?
Awalnya, bermula dari kebutuhan masker untuk pekerja kami sendiri. Setelah itu ternyata ada permintaan dari Palang Merah Indonesia (PMI). Lalu kami lewat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) sumbang 100 ribu masker sebagai CSR (tanggug jawab social perusahaan) kepada PMI.
Berangkat dari situ ternyata ada permintaan dari retail kami dibuatkan masker untuk item mereka. Akhirnya awal Maret itu, kami tambah satu divisi khusus di perusahaan kami yakni divisi masker.
Seberapa fokus Pan Brothers dalam memproduksi masker?
Kami awal memang hanya untuk kebutuhan pekerja dan keluarga pekerja kami. Hal itu diharapkan dapat mencegah penularan Covid-19 di perusahaan kami. Namun sejak diproduksi dan memutuskan dipasarkan, kami sudah produksi 10 juta masker yang terdiri dari tiga tipe masker. Masker kami dari kain, yang dapat dicuci.
Tipe masker apa saja yang dibuat Pan Brothers saat ini?
Tipe satu merupakan masker kain biasa dan sudah kami produksi dan edar ke pasaran. Sedangkan untuk tipe dua masker kain tiga lapis atau 3ply. Tipe ketiga merupakan masker yang sudah disemprot dengan cairan kimia yang ramah terhadap tubuh. Cairan kimia inilah yang dapat menangkal virus Corona ketika virus bersentuhan dengan kain.
Apakah menggunakan kain khusus, yang anti-virus?
Kain jenis tertentu, tetapi melalui tahapan, disemprotkan zat kimia tertentu, untuk menjadikan masker anti-virus.
Sudah didistribusikan ke mana saja masker tersebut?
Kalau untuk tipe tiga kami sedang mengurus sertifikasi. Kalau sertifikasi kain memang sudah lolos dari Kementerian Perindustrian. Kami tunggu sertifikasi lain.
Namun selama proses ini kami sudah mendapatkan tawaran dari berbagai negara maju seperti Amerika Serikat, Singapura, India, Jepang, dan Timur Tengah.
Ada berapa negara dan dari mana saja yang memesan masker produksi Pan Brothers?
Bukan negara lagi ya hitungannya. Tapi sudah 4 benua. Mulai dari Kanada, Amerika Serikat, India, bahkan permintaan balik dari negeri China sendiri. Namun kami akan tetap utamakan untuk kebutuhan dalam negeri. Jadi 80 persen kebutuhan domestik dan 20 persen ekspor.
Targetnya berapa masker yang akan diproduksi oleh Pan Brothers?
Sebelumnya sejak awal Maret kami sudah produksi 10 juta masker yang terdiri dari tipe 1, 2, dan 3. Namun kini kami menargetkan membuat 100 juta masker sampai Juli 2020 mendatang. Bahkan bisa juga mencapai 300 juta masker.
Selain memproduksi masker, apakah Pan Brothers juga menghasilkan alat pelindung diri lainnya?
Iya, kami sudah mengerjakan. Sudah menjual juga pakaian hazmat (alat pelindung tubuh, sepeerti biasa dipakai petugas pemadam kebakaran).
Redaksi: Pakaian hazmat singkatan dari hazardous materials atau bahan-bahan berbahaya, atau dikenal juga dengan nama pakaian dekontaminasi. Hazmat adalah perlengkapan perlindungan pribadi yang terdiri dari bahan yang impermeabel dan digunakan untuk proteksi melawan material berbahaya.
Pakaian ini biasanya dilengkapi dengan alat bantu pernapasan mandiri untuk memastikan yang menggunakannya mendapat pasokan udara untuk bernafas.
Pakaian hazmat biasanya digunakan oleh pemadam kebakaran, teknisi medis darurat, paramedis, peneliti, petugas yang bereaksi atas kebocoran material berbahaya, tenaga ahli yang membersihkan daerah terkontaminasi, dan pekerja di lingkungan yang beracun.
Menyangkut kualitas, dibandingkan dengan produk dari negara lain, masker buatan Pan Brothers seperti apa?
Indonesia, saya pikir, sudah sangat maju untuk industri tekstil. Tidak terkecuali untuk Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker. Hal itu terbukti dari tingginya permintaan dari negara-negara maju ke perusahaan kami Pan Brothers.
Hanya saja tinggal keterbukaan dari pemerintah ke masyarakat. Bagaimana kualitas medical grade buatan anak bangsa dibanding dengan buatan luar? Kalau ditanya soal kapasitas produksi juga saya yakin Indonesia sanggup memproduksi sebanyak mungkin.
Jadi hanya tinggal keterbukaan informasi dari pemerintah saja mengenai kualitas APD anak bangsa. Dalam artian, berapa sebetulnya permintaan riil. Jangan-jangan nanti, kami mengembangkan usaha, tetapi permintaan tidak tepat.
Bagaimana soal ketersediaa bahan baku?
Kalau soal ketersediaan benang dan kain, Indonesia sudah sangat cukup untuk kapasitas produksi dalam negeri. Hanya cairan kimianya, dan Cotton Rolls, kapas, kita masih butuh impor dari negara lain.
Jadi sebenarnya Indonesia tidak perlu impor masker?
Tentu saja untuk soal kuantias dan kualitas kita, Indonesia mampu memproduksi APD sendiri. Kualitas kita juga sudah diakui negara lain dan dapat bersaing dengan masker dari negara-negara maju
Sebagai pengusaha nasional, dan memimpin puluhan perusahaan denagn pekerja 38 ribu, tentu bukan persoalan mudah. Anda belakangan ini pasti sangat sibuk ya mempersiapkan pesanan dari banyak negara? Bagaimana mengatur keseimbangan waktu wanita karier dengan seorang ibu?
Sejak Covid-19, hidup saya sudah tidak bisa lagi seimbang, seperti dulu. Kalau dulu keluarga, olahraga, dan pekerjaan itu dapat porsi yang sama. Namun sejak wabah ini saya lebih perbanyak fokus di pekerjaan. Karena wabah ini memang hanya dapat dihadapi dengan cara kerjasama dan disiplin. Tanpa itu kita tidak akan bisa menghalau kenaikan kurva penularan Covid-19.
Ada komplain dari keluarga karena sibuk urusi bisnis yang terlibat dalam penanganan Covid-19?
Kalau anak-anak saya kebetulan sudah dewasa semua. Anak saya dua, ada yang umur 20 tahun dan 22 tahun. Keduanya sekolah di Amerika Serikat. Jadi kami lebih sering berkomunikasi dengan menggunkan teknologi. Sejauh ini anak-anak dan suami saya mengerti dengan kesibukan saya. Karena kesibukan saya bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kepentingan banyak orang.
Apa hikmah yang anda dapat dari wabah virus Corona ini?
Sejak terjadi di Wuhan, Hubei, China saya berpikir bahwa ini suatu peringatan dari Tuhan. Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa hidup ini bukan hanya soal uang dan karir. Namun hidup juga harus memberikan legacy nyata untuk sesama manusia.
Sehingga ketika kita dipanggil Tuhan entah karena virus ini atau bukan, kita sudah bisa mempertanggungjawabkan apa yang sudah kita perbuat untuk umat manusia.
Ada pesan untuk kalangan pengusaha yang terpuruk akibat wabah Corona ini, katakanlah langkah-langkah menghadapi fenomena terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) massal?
Memang setiap sektor usaha berbeda satu sama lain. Ada yang bisa berevolusi dari wabah ini ada yang memang benar-benar harus terpuruk. Namun pesan saya satu terhadap pengusaha yang bisa bertahan di tengah wabah ini. Kita harus mampu berkerja sama satu sama lain dengan pegawai kita.
Apa yang dapat diperbuat oleh perusahaan baik secara kualitatif dan kuantitatif terhadap penurunan jumlah penularan wabah ini. Misalnya saja dengan mulai menerapkan hidup higenis dan physical distancing dalam setiap proses produksi. Karena kalau company kita sehat maka usaha kita juga tetap dapat berlangsung dan pegawai bisa tetap makan dan berkerja. (Warta Kota/desy selviany)
Artikel ini telah tayang di tribunmanado.co.id dengan judul Pembeli dari 4 Benua Pesan APD Corona Buatan Indonesia
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/menjahit-apd.jpg)