Rabu, 27 Mei 2026

RAMADHAN DI LINGGA

Haul Jamak, Tradisi Masyarakat Lingga Menyambut Datangnya Ramadhan

Haul Jamak adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau dalam menyambut bulan Ramadan.

Tayang:
MEDIA CENTER PEMKAB LINGGA
Haul Jamak adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau dalam menyambut bulan Ramadan. 

TRIBUNBATAM.id - Bulan suci Ramadhan umumnya disambut dengan beragam tradisi khas di berbagai daerah.

Bila di tanah Sunda ada tradisi munggahan, Kepulauan Riau juga memiliki tradisi khasnya sendiri.

Haul Jamak adalah tradisi yang dilakukan masyarakat Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau dalam menyambut bulan Ramadan.

Tradisi ini juga dikenal dengan nama doa arwah.

Masyarakat Melayu Lingga masih melestarikan tradisi ini hingga sekarang.

Selain Berpahala, Ini Deretan Manfaat Puasa Ramadhan Bagi Kesehatan Tubuh

Umumnya, haul jamak dilaksanakan selama satu bulan penuh sebelum memasuki bulan Ramadan.

Pelaksanaannya sendiri dilakukan secara bergantian di rumah, surau, ataupun masjid.

Tujuannya adalah untuk mendoakan arwah-arwah yang telah meninggal dunia.

Dalam tradisi ini, masyarakat juga memanjatkan doa untuk para pahlawan, orang tua, dan pendahulu yang telah berpulang.

Selain berdoa bersama, tradisi haul jamak juga disemarakkan dengan adanya hidangan bagi para jamaah.

Hidangan ini disediakan secara sukarela oleh masyarakat.

Setelah prosesi doa bersama selesai, masyarakat yang berkumpul akan menyantap hidangan bersama-sama.

Acara ini mirip seperti acara syukuran, dimana masyarakat saling berbagi makanan.

Kegiatan berkumpul dan makan bersama ini juga menjadi ajang silaturahmi antar masyarakat.

Adapun hidangan yang disajikan umumnya adalah hidangan khas Melayu.

Biasanya, setiap rumah akan menyiapkan satu hidangan untuk diantar ke masjid maupun surau tempat digelarnya haul jamak.

Hidangan yang disajikan terbilang variatif, mulai dari nasi, ayam masak lemak, ikan gulai pedas, sayuran, air putih, hingga buah-buahan sebagai pencuci mulut.

Melansir situs resmi Kemdikbud, menyantap hidangan bersama-sama dalam tradisi haul jamak mengandung filosofi yang sama rata.

Artinya, tidak ada masyarakat yang lebih tinggi maupun rendah.

Siapa pun tamu yang datang, apa pun kedudukannya, dipandang sama rata dan sama rasa sebagai hamba Allah.

Hidangan yang disajikan dalam tradisi ini merupakan bentuk ungkapan terimakasih kepada para tamu yang telah datang dan turut berdoa bersama. (TRIBUNBATAM.id/Widi Wahyuning Tyas)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved