TRIBUN WIKI
Ditutup Selama Pandemi Covid-19, Simak Sejarah Masjid Agung Batam, Dirancang Arsitek Tersohor
Di tengah pandemi Covid-19, Masjid Raya Batam yang biasanya semarak saat Ramadhan tampak sepi. Masjid ini ditutup tanpa adanya kegiatan shalat Tarawih
Kompleks Masjid Raya Batam berdiri di atas lahan seluas 75.000 meter persegi.
Adapun luas bangunannya sendiri adalah 2.515 meter persegi.
Dengan ukuran tersebut, Masjid Raya Batam menjadi masjid terbesar dan terluas kedua di Kota Batam.
Masjid ini bisa menampung hingga 3.500 jamaah, sedang jika halaman luar masjid juga digunakan maka total daya tampungnya mencapai 15.000 jamaah.
Masjid ini memiliki kubah dengan bentuk unik yang berdesain limas segi empat atau seperti piramida.
Bentuk limas sama sisi dengan bentuk teriris tiga bagian dipilih karena dianggap cocok untuk denah bangunan berbentuk bujur sangkar.
Bangunan ini memiliki persepsi vertikalisme menuju satu titik di atas sebagai simbol hubungan antara manusia dan Tuhan atau habluminallah.
Sedangkan irisan tiga bagian merupakan simbol perjalanan hidup manusia sebagai hamba Allah dalam tiga alam yaitu alam rahim, alam dunia, dan alam akhirat.
Ruang salat masjid ini berupa pelataran halaman utama masjid yang letaknya lebih tinggi dari jalan masuk.
Hal ini mempertimbangkan aspek topografis dan arsitekturalnya.
Plaza shalat dibuat sebagai perluasan ruang masjid manakala jamaah melebihi kapasitas atau pada saat salat Idul Fitri dan Idul Adha yang biasanya diselenggarakan di lapangan terbuka.
Agar penyelenggaraan shalat sesuai dengan tuntunan agama, dibuatlah garis-garis shaf yang akan mengarahkan jamaah salat dengan berbaris lurus menghadap kiblat.
Lebar shaf yang ditentukan yakni 120 centimeter.
Plaza ini terdiri atas dua tingkatan yaitu plaza bawah dan plaza atas.
Hal ini guna memberikan kesempatan pada pengunjung untuk beristirahat sejenak sebelum naik lagi menuju masjid.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/taraweh-hari-pertama-di-masjid-raya-batam-5_20150619_172056.jpg)