Senin, 11 Mei 2026

VIRUS CORONA DI AS

Donald Trump Usulkan Obati Covid-19 Lewat Suntik Disinfektan, Begini Tanggapan Pakar

Donald Trump kembali menuai kontroversi di Amerika Serikat terkait dengan wabah Covid-19. Kali ini, ia usulkan suntik disinfektan untuk obati Covid-19

Tayang:
Instagram/realdonaldtrump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. 

TRIBUNBATAM.id, WASHINGTONDonald Trump kembali menuai kontroversi di Amerika Serikat terkait dengan wabah virus Corona atau Covid-19.

Kali ini, Presiden Amerika Serikat itu mengusulkan untuk suntik disinfektan sebagai alternatif pengobatan Covid-19.

Bahkan, Donald Trump juga mengusulkan dengan sinar UV (ultraviolet), bisa iradiasi tubuh pasien virus Corona.

"Jadi seandainya tubuh kita terpapar - oleh sinar ultraviolet atau cahaya yang sangat kuat, saya pikir Anda mengatakan belum memeriksa tetapi Anda akan mengujinya," ucap Trump ke Dr Deborah Birx koordinator respons virus Corona Gedung Putih.

"Dan kemudian saya berkata, seandainya Anda memasukkan cahaya ke dalam tubuh, yang bisa Anda lakukan melalui kulit atau dengan cara lain.

Saya pikir Anda mengatakan akan mengujinya juga. Kedengarannya menarik," lanjut Trump.

Dihubungi via Telepon, Donald Trump Sebut Jokowi Meminta Ventilator ke Amerika Serikat

"Lalu saya melihat disinfektan membasminya dalam satu menit. Satu menit. Dan apakah ada cara kita bisa melakukan sesuatu seperti itu, dengan menyuntikkan ke dalam atau hampir membersihkan?"

"Jadi akan menarik untuk memeriksanya," ungkapnya sebagaimana dikutip BBC Jumat (24/4/2020).

Terkait ide-ide Trump itu, sejumlah dokter AS mengungkapkan pandangannya.

Dr Deborah Birx mengatakan, usulan Trump tentang sinar UV hilangkan virus Corona belum bisa dilakukan.

"Bukan sebagai pengobatan," kata Dr Birx. "Maksud saya, tentu saja demam adalah hal yang baik, ketika Anda demam itu membantu tubuh merespons. Tetapi saya belum melihat panas atau cahaya (sebagai pengobatan)," terangnya dikutip dari BBC.

Kemudian analisis dari Rachel Schraer wartawan kesehatan BBC mengemukakan, disinfektan hanya dipakai untuk permukaan beda bukan tubuh manusia.

"Menggunakan disinfektan dapat membunuh virus di permukaan. Ini adalah ide yang sangat bagus untuk menjaga kebersihan barang yang Anda sentuh, menggunakan produk dengan sifat anti-mikroba - misalnya, zat dengan kandungan alkohol tinggi."

Ada juga beberapa bukti bahwa secara umum, virus pada permukaan mati lebih cepat ketika terkena sinar matahari langsung.

"Tetapi kita tidak tahu berapa banyak atau berapa lama kulit harus terkena agar sinar UV memiliki efek," terang Schraer.

Selain itu juga karena sinar UV dapat merusak kulit, menggunakannya untuk membunuh virus bisa membuat penyembuhan lebih buruk daripada penyakitnya.

Ia pun menekankan yang jauh lebih aman adalah mencuci tangan dan permukaan benda, serta berusaha tidak menyentuh wajah.

Baru saja minggu ini Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperingatkan warga AS untuk berhati-hati dengan produk pembersih, karena penjualan disinfektan rumah tangga melambung di tengah pandemi.

"Permintaan ke pusat-pusat racun meningkat tajam pada awal Maret 2020 untuk pembersih dan disinfektan," kata lembaga tersebut.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah memperingatkan agar tidak menelan disinfektan, dengan menyebut penjualan obat palsu yang mengandung pemutih dan tujuan untuk mengobati semuanya, mulai dari autisme hingga AIDS dan hepatitis.

Situs web perusahaan itu mengatakan, "FDA telah menerima laporan konsumen yang menderita muntah parah, diare akut, tekanan darah rendah yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh dehidrasi dan gagal hati akut setelah minum produk ini."

(*)

Dapat Tuntutan dari Negara Bagian Amerika Serikat, China: Ini Bukan Saatnya untuk Saling Tuding!

Salah Kutip Pernyataan Pakar Medis, Donald Trump Ngamuk ke Wartawan Amerika Serikat

VIDEO - Kisah Inspiratif, Parama Pradana Suteja yang Diterima di 11 Kampus Ternama di Amerika

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Trump Usul Obati Covid-19 dengan Suntik Disinfektan, Ini Tanggapan Para Pakar".

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved