Bank Indonesia Sebut Dampak Covid-19 Terhadap Ekonomi Bakal Terlihat di Kuartal Dua
Skenario kedua, Covid akan berlangsung sampai akhir tahun 2020. Koreksi dan recovery ekonomi akan berlangsung di tahun 2021.
TRIBUNBATAM.id - Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur atau BI Jatim di kuartal I ini mencatat belum ada imbas penurunan pertumbuhan ekonomi akibat virus Corona atau Covid 19.
Menurut Kepala BI Jatim, Difi Ahmad Johansyah, mengatakan koreksi pertumbuhan ekonomi akan terjadi di kuartal II.
"Kuartal I kemarin sedang recovery ditengah ekonomi global yang membaik. Tapi memasuki kuartal II, Covid 19 mulai menyebar ke Indonesia. Secara global ekonomi turun 2 persen," jelas Difi saat video conference, Selasa (28/4/2020).
Difi berharap, Covid 19 bisa segera diatasi hingga kuartal 3 bisa dikoreksi.
Skenario pertama, Covid 19 bisa ditangani dan menurun penyebarannya hingga Juni-Juli. Selanjutnya koreksi pertumbuhan ekonomi bisa dilakukan di kuartal 3 dan kuartal 4.
Skenario kedua, Covid akan berlangsung sampai akhir tahun 2020. Koreksi dan recovery ekonomi akan berlangsung di tahun 2021.
"Skenario pertama kami harapkan bisa terjadi, sehingga pemulihan di semester II, dan ekonomi nasional ini juga berpengaruh di ekonomi Jatim," jelas Difi.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jatim, Harmanta mengatakan, penanganan Covid -19 mengakibatkan perekonomian dunia turun 2 persen. Hal itu membuat kegiatan impor impor di Jatim juga tersendat.
"Tapi barang baku modal dan stok impor industri masih aman. Harapannya penanganan covid-19 bisa teratasi," ujar Harmanta.
Diakui Harmanta, sektor industri di Jatim yang paling terpukul adalah sektor pariwisata, transportasi dan hotel. Kontribusi sektor ini pada ekonomi Jatim masuk lima besar selain perdagangan, industri mamin dan manufaktur.
Sementara itu, Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Dery Rossianto mengungkapkan, di sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Jatim, saat ini terpantau dalam dua kondisi.
"Mereka survive dalam penjualannya dari offline menjadi online dan survive dengan berinovasi dalam perubahan produk usaha," ungkap Dery.
Misalnya industri garmen kelas kecil dan menengah yang sebelumnya membuat baju, kaos dan lainnya, kini berubah produksi masker, hazmat dan sejenisnya.
Sementara UMKM dari yang offline menjadi online, juga tetap survive dengan terus melakukan penjualan secara aktif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/logo-bank-indonesia.jpg)