Rabu, 3 Juni 2026

TRIBUN WIKI

Mengenal Sejarah Batik, Kain Tradisional Warisan Budaya Milik Indonesia

Batik adalah kain tradisional asli Indonesia yang dilukis menggunakan canting dan lilin untuk menghasilkan motif tertentu.

Tayang:
Kompas.com/Kahfi Dirga Cahya
Ilustrasi kain batik 

TRIBUNBATAM.id - Batik merupakan salah satu kain tradisional asli Indonesia.

Kain yang dilukis menggunakan canting dan lilin ini telah menjadi warisan budaya Indonesia.

Kain batik umumnya memiliki motif-motif khas yang menyimpan makna tersendiri.

Pada 2 Oktober 2009, UNESCO bahkan telah menetapkan batik sebagai salah satu warisan dunia yang harus dilestarikan.

Sejak itulah, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional.

Kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu ‘amba’ dan ‘tik’, yang artinya menulis titik.

Awalnya batik hanya dituliskan di atas daun lontar dan papan rumah adat Jawa.

Kegiatan ini digunakan untuk mengisi waktu luang saja.

PROFIL dan Wasiat Terakhir Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Nasional

SEJARAH Masjidil Haram di Makkah, Masjid Terbesar di Dunia Mampu Tampung hingga 2 Juta Jemaah

Motif yang digunakan juga sangat sederhana, antara lain tumbuhan dan binatang.

Sejarah pembatikan di Indonesia berkaitan erat dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan penyebaran ajaran Islam di Tanah Jawa.

Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerjaan Solo dan Yogyakarta. 

Sejarah

Kesenian batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan terus berkembang pada kerajaan berikutnya.

Adapun mulai meluasnya kesenian batik sebagai milik rakyat Indonesia khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX.

Batik yang dihasilkan merupakan batik tulis sampai awal abad ke-XX.

Sedangkan batik cap dikenal baru setelah perang dunia pertama selesai atau sekitar tahun 1920.

Kebanyakan daerah pusat perbatikan di Jawa adalah daerah santri.

Hal ini membuat batik menjadi alat perjuangan ekonomi oleh tokoh-tokoh pedagang Muslim melawan perekonomian Belanda.

Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam keraton saja untuk dipakai oleh raja dan keluarga serta para pengikutnya.

Banyaknya pengikut raja yang tinggal di luar keraton membuat kesenian batik ini dibawa oleh mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.

Lama-kelamaan, kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang.

Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga keraton, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.

Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.

Sedang bahan-bahan pewarna yang dipakai tediri dari tumbuh-tumbuhan asli Indonesia yang dibuat sendiri antara lain dari: pohon mengkudu, tinggi, soga, nila, dan bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur. 

Motif

Motif batik adalah corak atau pola  yang menjadi kerangka gambar pada batik.

Motif ini berupa perpaduan antara garis, bentuk dan isen menjadi satu kesatuan yang mewujudkan batik secara keseluruhan.

Motif batik biasanya berupa motif hewan, manusia, geometris, dan motif lain.

Motif batik sering juga dipakai untuk menunjukkan status seseorang.

Indonesia mempunyai beberapa motif yang terkait dengan budaya setempat.

Beberapa faktor yang mempengaruhi lahirnya motif-motif batik antara lain adalah letak geografis.

Misalnya di daerah pesisir akan menghasilkan batik dengan motif yang berhubungan dengan laut, begitu pula dengan yang tinggal di pegunungan akan terinspirasi oleh alam sekitarnya; sifat dan tata penghidupan daerah; kepercayaan dan adat di suatu daerah; serta keadaan alam sekitar termasuk flora dan fauna.

Motif batik biasanya diciptakan oleh sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.

Raja Jawa menguasai seni dengan keadaan tempat yang dapat mengilhaminya untuk menciptakan pola batik lereng atau parang, merupakan ciri ageman Mataram yang berbeda dengan pola batik sebelumnya.

Contoh motif lain yakni motif parang rusak diciptakan oleh Panembahan Senopati, pendiri Keraton Mataram.

Setelah memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris.

Akhirnya, beliau menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian berubah menjadi parang.

Salah satu tempat tersebut ada bagian yang terdiri dari tebing atau pereng yang rusak karena deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.

Selain motif Parang Rusak ada juga Motif Larangan yang dicanangkan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1785.

Pola batik yang termasuk larangan antara lain: Parang Rusak Barong, Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar, Udan Liris, Rujak Senthe, serta motif Parang-parangan yang ukurannya sama dengan parang rusak.

Motif batik Semen mengutamakan bentuk tumbuhan dengan akar sulurnya ini bermakna semi atau tumbuh sebagai lambang kesuburan, kemakmuran, dan alam semesta

Sedangkan motif Udan Liris termasuk dalam pola geometris yang tergolong motif lereng disusun secara garis miring diartikan sebagai hujan gerimis yang menyuburkan tumbuhan dan ternak.

*Artikel ini telah tayang di Tribunnewswiki.com dengan judul 'Batik'.

Sumber: TribunnewsWiki
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved