HIKMAH RAMADHAN

Puasa Perisai Kehidupan Kita 

Puasa merupakan perisai terhadap diri pribadi, dalam menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang muttaqin.

ISTIMEWA
Effendy Asmawi Alhajj 

“Puasa itu perisai. Apabila salah seorang kamu berpuasa, janganlah ia menuturkan kata-kata yang keji dan janganlah ia menghingar-bingarkan, jika ada seseorang yang memarahinya atau memukulnya, hendaklah ia berkata, Saya sedang berpuasa.”(al-Hadist). 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Ramadhan dengan silabus utamanya Puasa, merupakan perisai terhadap diri pribadi, dalam menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang muttaqin. 

Tidak disangkal lagi, perisai pribadi itu tidak mudah kita wujudkan, tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan. 

Untuk mewujudkannya diperlukan keseimbangan antara sikap rohi dan perilaku jasadi, apabila keduanya kurang serasi dan selaras akan tercemar kadar kualitas puasa kita. 

Kita ambil contoh larangan marah pada bulan Ramadhan. 

Apakah berarti selama Ramadhan, seorang ayah dilarang memarahi anaknya yang malas shalat?

 Juga apakah seorang pimpinan tidak menegur stafnya yang melakukan kesalahan kedinasan?

Bahkan apakah Polisi tidak boleh menjatuhkan tilang kepada pengemudi yang terbukti melanggar disiplin berlalu lintas, sehingga pelaksaannya ditunda sesudah lebaran? 

Ke semuanya itu patut dicermati dan untuk mengkajinya perlu menggunakan tolok ukur objektif dan proporsional. 

Dan yang paling mendasar adalah apakah tindakan dimaksud (marah) dilandasi dorongan positif atau sebaliknya. 

Bila dilandasi dorongan negative akan luntur esensi pokok puasa yaitu pengendalian diri. 

Namun di sisi lain, sungguh terpuji bila di bulan penuh keberkahan ini masing-masing berupaya bertindak disiplin, jujur dan ikhlas serta pandai membawa diri, dalam lingkup “hablum minannas wahablum minallah”. 

Selanjutnya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menegaskan

“Puasa itu menjadi perisai seseorang, selama ia tidak merusaknya dengan dusta dan ghibah/umpatan. (HR Thabrani)

Mengumpat, menggunjing atau menyebut aib orang lain di belakang punggung dengan maksud menodainya, termasuk unsur-unsur yang dapat dikategorikan sebagai ghibah. 

Sumber: Tribun Batam
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved