VIRUS CORONA DI AMERIKA
Setelah AS Catatkan 1,5 Juta Kasus Virus Corona, Donald Trump: Bukti Bahwa Tes Berjalan dengan Baik
Ia mengaku, ketika Amerika Serikat menjadi episentrum wabah di dunia, dia melihat hal itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Melainkan bukti ...
TRIBUNBATAM.id, WASHINGTON DC - Setelah negaranya mencatatkan sebanyak 1,5 juta kasus Virus Corona, presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyebut bahwa hal itu merupakan suatu "kehormatan".
Diberitakan sebelumnya, negara Paman Sam itu telah melaporkan lebih dari 92.000 kematian karena wabah.
Meski begitu, presiden yang kini berumur 73 tahun itu menyebut, bahwa ia harus tetap bangga.
"Ngmong-omong, ketika kalian mengatakan kami unggul (dalam kasus infeksi virus Corona), itu karena kami menggelar tes lebih banyak," sebut Trump saat berada di Gedung Putih.
Ia mengaku, ketika Amerika Serikat menjadi episentrum wabah di dunia, dia melihat hal itu bukanlah sesuatu yang memalukan. Melainkan bukti tes mereka bekerja dengan baik.
"Jadi, saya melihatnya sebagai kehormatan. Ya, sebuah kehormatan," jelas presiden dari Partai Republik itu dikutip dari Sky News, pada Rabu (20/5/2020).
Trump menuturkan, jumlah itu merupakan bukti bahwa mereka sukses melakukan tes, dan memberikan kredit kepada setiap orang yang terlibat.
Trump juga membela diri dari kritikan pakar medis, ketika pada Senin (18/5/2020), dia mengaku meminum obat malaria untuk mencegah Covid-19.
Pengakuan bahwa dia mengonsumsi hidroksiklorokuin tak pelak membuat para pembantunya kaget, dan beramai-ramai membenarkan keterangan sang presiden.
Namun dari sisi medis, ucapan itu membuat pakar melayangkan kecaman. Sebab, ucapannya dinilai bisa memantik penyalahgunaan hidroksiklorokuin yang justru berakibat fatal.
Menyikapi kritikan itu, taipan real estate itu hanya menerangkan bahwa studi yang mengkhawatirkan penggunaan obat itu "salah" dan "memalukan".
"Jika kalian melihat pada salah satu survey, di mana surveynya buruk, mereka biasanya memberikan obat itu pada orang yang kondisinya buruk," jelasnya.
Ucapannya merujuk kepada sebuah studi yang dilakukan terhadap ratusan pasien yang dirawat oleh Departemen Hubungan Veteran AS.
Saat itu, sebagian besar penderita Covid-19 yang mendapatkan obat malaria meninggal dibandingkan yang tidak. Bagi Trump, itu sudah jadi bukti kuat.
"Mereka sudah sangat tua. Hampir. Jadi mereka meninggal. Survey negatif itu hanya dibuat oleh mereka yang memusuhi Trump," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/donald-trump.jpg)