ANAMBAS TERKINI
Kapolres Anambas Girang, Berhasil Kelola Tanaman Hidroponik, Minta Warga Bisa Meniru di Rumah
Kapolres Anambas, AKBP Cakhyo Dipo Alam mengajak personelnya bercocok tanam untuk menjaga ketahanan pangan saat pandemi Corona
"Target kita membudidayakan setiap orang yang ikut berpartisipasi bisa berpenghasilan upah minimum Kota (UMK) sehingga masyarakat sekitar tidak perlu bermigrasi ke Kota," ujar pria Yang disapa Azhari (36).
Saat memulai budidaya rumput laut di pulau Mat Belanda diceritakannya bisa menyerap sampai 20 orang yang bisa menggantungkan pencarian dari kegiatan tersebut.
Azhari juga menceritakan alasan dirinya pertama kali melirik Budi Daya rumput laut ialah karena dirasanya selama ini banyak sekali bantuan pemerintah untuk sektor kelautan tidak berjalan sesuai dengan harapan dan yang mampu menjalankan bantuan para kelompok nelayan yang memiliki modal.
"Contoh dikasih bantuan keramba ikan. Bisa dicek dari seribu keramba ikan bantuan pemerintah pasti yang mengelolanya adalah orang yang berduit, bukan para nelayan. Kenapa? Keramba untuk memberikan pakan ikan dan kebutuhan perawatan maka tidak akan sanggup. Karena nelayan yang betul betul membutuhkan bantuan tidak memiliki modal seperti itu," ujarnya.
Hal yang disampaikannya itu menurutnya berdasarkan hasil temua DKP bahwa dari seribu titik bantuan keremba ikan yang dimanfaatkan dan betul dinikmati nelayan hanya sekitar 8%.
Azhari menyebutkan untuk budidaya rumput laut sendiri tidak membutuhkan modal yang terlalu besar dibandingkan dengan keremba ikan.
"Masyarakat hanya dikasih keramba dan bibit sudah bisa membudidayakan hal tersebut," sebutnya.
Saat ini Budi daya rumput laut yang ia dan teman-temannya geluti sudah merambah di beberapa pulau seperti Pulau Mat Belanda, Pulau Pecung, Pulau Terong dan pulau Tolop dan direncanakan usai lebaran idul Fitri akan menjamah sekitar kecamatan Galang
" Supaya masyarakat yang ingin ikut berbudi daya rumput laut kita tidak kesusahan dan kita siap memberikan pelatihan kepada nelayan yang bersungguh sungguh ikut budidaya rumput laut," tandasnya.
Hasil panen rumput laut yang digelutinya hampir satu tahun itu sementara masih untuk memenuhi kebutuhan di kota Batam dengan pasaran UMKM yang ada.
Budi daya rumput laut sebelum dirinya sudah ditekuni secara tradisional oleh masyarakat.
Tetapi menurutnya hal itu kurang berkembang karena permainan tengkulak atau pengepul yang melakukan permainan harga.
"Mereka (Tengkulak) bilang rumput laut jenis Eucheuma Spinosum Rumput Laut mereka membeli dengan harga Rp 3000 yang jauh dari harga pasaran yang sekitar Rp 10.000 keatas," ujarnya.
Menurut Azhari hal yang paling berat saat memulai budidaya rumput laut ialah meyakinkan masyarakat untuk ikut Budi daya.
"Banyak potensi laut yang bisa kita kelola bersama dan juga jika ada bantuan untuk masyarakat nelayan mudah mudahan benar-benar tepat sasaran tidak jatuh ke tangan para pemodal, tengkulak dan cukong cukong," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/0206tanaman-hidroponik-polres-anambas.jpg)